Tabea Waya e Karapi!

Sastra for Minahasa Masa Depan!

Mengapa sastra (baca: tulisan)?

Sebab tulisan adalah bentuk kasat mata dari bahasa yang adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasa atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.


Kemudian: Mengapa pake Bahasa Manado? No kong kyapa dang?

Karena tak ada lagi bahasa lain yang menjadi 'lingua franca" di se-enteru Minahasa hari ini selain bahasa yang dulunya torang kenal juga sebagai "Melayu Manado".

Yang terutama adalah bahwa lewat sastra kita dapat kembali menjabarkan “Kebudayaan Minahasa” hari ini. Dengan menulis kita dapat kembali meluruskan benang kusut sejarah Bangsa Minahasa. Lalu, lewat tulisan, kita menggapai keabadian, io toh?



Tulisan Paling Baru

ini tong pe posting terbaru.
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Cerpen Denni Pinontoan: "Mariara".

Nenek Omi kemarin pagi masih tampak berjalan pagi di jalan kampung. Rambutnya sudah ubanan. Membungkuk dia berjalan. Garis-garis keriput wajah dan dua gigi yang tersisa membuat orang menjadi ngeri melihat dia. Tapi hari ini rumahnya di ujung kampung hangus dibakar massa. Jasad nenek Omi pun tinggal arang.

Massa marah sehingga membumihanguskan rumah Nenek Omi, sekaligus dengan penghuninya. Alasan mereka anak gadis Pak Tonny mati karena diguna-gunain oleh Nenek Omi. Memang alasan itu agaknya bisa dibenarkan. Sebab, tiga hari lalu Eby, anak gadis yang malang itu disuruh oleh ibunya mengambil kemangi di halaman rumah Nenek Omi. Malamnya Eby kena deman, dan selama tiga hari panas tinggi. Baru beberapa jam di Puskemas ia meninggal dunia.

Nenek Omi memang cuma tinggal sendirian. Suaminya, Kakek Bernard meninggal tiga tahun lalu. Pasangan ini tak memiliki anak. Sehari-hari rumah tua mereka itu tampak sunyi dan tak terurus. Halaman rumah mereka yang cukup luas, sejak Kakek Bernard mangkat ditumbuhi umput-rumput liar. Cuma sebidang tanah yang mungkin luasnya 2 x 3 meter yang dibersihkan oleh Nenek Omi untuk menanami rempah-rempah. Di sisa hidupnya untuk makan sehari-hari orang tua ini hanya berharap pembagian hasil kebun dari Om Yopy, yang masih terhitung family dengannya.

Nenek Omi ini oleh warga sudah lama disangkakan sebagai mariara (bahasa lokal Minahasa yang berarti dukun yang bisa menyantet orang). Konon, ada warga yang pernah mengintip dan melihat nenek Omi semacam melakukan ritual di dalam rumahnya. Dari situ beredar cerita bahwa nenek yang suka mengunyah pinang ini sebagai mariara. Warga sekampunpun percaya.

Semasa dia hidup, anak-anak yang bertepatan berpapasan dengannya menjadi takut dan menghindar, mengambil jarak. Ketakutan itu berawal dari cerita-cerita itu. Di rumah mereka, para orang tua menceritakan tentang desas-desus itu. Cerita yang berawal dari satu orang kini seolah-olah menjadi momok. Termasuk pendetapun percaya dengan cerita itu. Bahkan, pernah satu hari minggu, di gereja pendeta secara khusus berdoa untuk menjauhkan warga kampung dari kuasa-kuasa jahat, yang katanya hadir dalam bentuk mariara.

Nenek Omi, memang telah menjadi momok bagi masyarakat. Mereka menyamakan Nenek Omi dengan tokoh “nenek sihir” di film anak-anak. Hanya tetangga atau kerluarga terdekat yang berani masuk ke halaman rumahnya. Sebab kata warga, kalau tetangga atau famili pasti tidak akan dijahati, dia tidak berani. Mungkin, itulah sehingga keluarga Pak Tony masih akrab dengan Nenek Omi. Itupun, kata warga, Pak Tony masih tergolong famili dengan Nenek Omi.

Kampung itu seketika menjadi ramai dengan kemarahan massa. Asap masih mengepul dari sisa-sisa rumah yang terbakar. Massa berkerumun di halaman rumah nenek Omi. Lainnya berdiri di jalanan. Mereka tidak berkabung dengan peristiwa itu, malahan yang lain bergembira. Pikir mereka, dengan dibakarnya rumah nenek Omi dan kematian sang “nenek sihir” itu, kampung mereka akan bebas dari sakit penyakit misterius. Hari itu cuma Om Yopy yang tidak kelihatan.

Ketika rumah sudah rata tanah dan tinggal bongkahan-bongkahan hitam sisa kayu-kayu yang terbakar, tampak jasad nenek Omi yang sudah berubah menjadi arang. Mengerikan sekali jasad itu. Seperti anjing yang dibakar.

Ada rasa takut yang bercampur gembira di kalangan warga. Tapi, yang tidak tahan melihat jasad itu menjauh dan bahkan ada yang sampai mual dan muntah. Sekitar 5 orang laki-laki yang diberi tugas oleh pemerintah kampung sebagai Hansip yang berani mengais-ngais sisa-sisa kebakaran rumah itu. Sebelum mereka masuk di antara sisa-sisa kebakaran itu, pendeta gereja setempat mendoakan mereka agar mereka dijauhkan dari kuasa gelap yang mungkin masih bergentayangan di situ. “Dalam nama Yesus, enyahlah kuasa jahat!” Begitu pendeta mengakhiri doanya.

Perempuan tua itu kini telah tewas menjadi arang bersama rumah tuanya. Tiada keluarga yang meratapinya. Polisi pun nanti muncul ketika semua sudah hampir berakhir. Tiada satupun warga yang ditangkap. Hukum Tua kampung itu tampaknya sudah memberi keterangan kepada para polisi mengenai kejadian itu. Lokasi kebakaran itupun tidak diberi police line, sebagaimana biasanya peristiwa-peristiwa kebakaran lainnya. Kebakaran bagi warga dan diaminkan oleh polisi adalah tindakan yang sudah tepat. Apalagi, di lokasi kebakaran itu, pendeta gereja setempat hadir dan tampak memberi alasan teologisnya.

Sebulan kemudian
Sebulan kemudian dari pembihangusan rumah nenek Omi dan kematian “nenek sihir” itu, tiba-tiba warga digemparkan dengan kematian Aldy, cowok tambun yang baru lulus SMA tahun lalu. Kematian Aldy juga misterius. Malam sebelumnya dia masih bersama-sama temannya menonton pertandingan sepak bola Liga Italia di televisi. Paginya, dia didapati sedang menggigil dan panas tinggi. Dua hari dia cuma minum obat yang dibeli di warung. Tapi panasnya tak turun-turun. Baru beberapa jam di Puskemas, Aldy pun meninggal.

Kematian Aldy membuat warga teringat peristiwa kematian Eby. Gejalanya sama. Mereka jadi bingung. Dokter tak menjelaskan penyebab kematian Aldy. “Apakah ini ulah mariara? Tapi, siapa lagi mariara di kampung ini? Nenek Omi sudah tewas bulan lalu,” begitu komentar beberapa orang di rumah duka Aldy.

“Saya duga, ilmu nenek Omi itu diturunkan kepada seseorang. Tapi siapa dia?” ujar Om Robert di rumah duka itu.

“Siapa, ya?” yang lainnya menyahut.

“Ehmmm…” mereka terdiam sejenak.

“Tunggu. Sejak kematian nenek Omi, sampai sekarang, Yopy tak pernah muncul lagi di kampung. Bukankah Yopi itu yang dekat dengan nenek Omi. Dia kan masih family dekat nenek Omi?” kata Om Robert.

Beberapa laki-laki yang sibuk membuat peti jenasah di rumah duka itu tersentak mendengar ucapan Om Robert. Mereka saling memandang.

“Di mana dia sekarang?” yang lain bertanya.

“Kalau tidak salah, Yopi tinggal di kebun. Dia kan yang mengolah kebunnya nenek Omi?”

“Oh, iya. Benar. Pasti ilmu nenek Omi diturunkan kepadanya. Dan, dialah penyebab kematian Aldy!” kata tante Nece, yang dari tadi mengikuti percakapan itu.

“Maksudnya, Yopilah sekarang yang menjadi mariara di kampung ini?” tanya Om Robert meminta kepastian teman-temannya.

“Kalau bukan dia siapa lagi!” tegas tante Nece.

Tidak hitung jam, kesimpulan itupun langsung menjadi pendapat umum warga sekampung. Cepat sekali beredar cerita itu. Dan, ini langsung menyulut kemarahan massa. Mereka seolah-olah menemukan musuh baru yang harus segera dilenyapkan.

Sekelompok laki-laki datang ke pastori gereja. Mereka meminta pertimbangan pendeta mengenai kesimpulan mereka itu. Warga lain menyusul kemudian. Tapi mereka hanya di luar pastori menunggu hasil percakapan tersebut. Warga yang datang itu tampak sudah bersiap-siap mencari Yopi. Parang, pisau dapur, tombak, dan benda apa saja yang bisa memukul di tangan masing-masing orang. Berni, remaja adik Eby kebagian ditugaskan membawa gallon berisi bensin. Mereka seperti sedang bersiap-siap maju ke medan perang melawan musuh.

Percakapan perwakilan warga dengan pendeta selesai. Om Robert yang akan mengumumkannya kepada warga yang sudah menunggu di halaman pastori.

“Saudara-saudara, kami sudah bercakap-cakap dengan pendeta perihal adanya mariara baru di kampung kita ini. Pendeta menyetujui tindakan kita untuk segera mengeksekusi Yopi, sebagai mariara di kampung ini!”

Sorakan warga pun menggema menyambut pernyataan Om Robert. “Bunuh dia! Bakar Yopi! Lenyapkan mariara di kampung kita!” warga berteriak histeris sambil mengacungkan benda-benda tajam yang mereka bawa.

Om Robert pun bertindak seperti panglima perang. Di bawah komandonya massa bergerak mencari Yopi di kebun. Sesampai di kebun mereka langsung menuju ke sabua (pondok) kecil yang sudah dipastikan milik Yopi. Massa mengepung sabua kecil itu. Massa berteriak memanggil nama Yopi. Berni sudah siap menyiram sabua dengan Bensin. Beberapa laki-laki lainnya secara hati-hati masuk ke dalam sabua.

“Yopi tidak di dalam,” kata seorang laki-laki yang ikut masuk ke dalam sabua.

“Bakar saja sabua ini!” teriak warga.

“Iya, bakar saja!” sambut yang lain.

Berni yang membawa gallon berisi bensin sudah tahu tugasnya. Ia pun segera menyiram dinding dan atap sabua itu. Tak berapa lama, ketika api disulut, sabua yang dindingnya terbuat dari bambu itu terbakar. Asap hitam mengepul ke udara. Nyala api yang tiba-tiba membesar mengusir sekelompok burung yang sedang bertengger di dahan-dahan pohon cengkih di sekitarnya. Warga berteriak histeris, senang. Seperti ritual merayakan kemenangan warga mengeilingi sabua yang sementara terbakar itu. Mereka terus berteriak.

Sementara “ritual” berjalan, Alo, komandan Hansip kampung melaporkan kepada Om Robert, bahwa mereka melihat Yopi berada di dekat mata air di kaki bukit yang berjarak sekitar 50 meter dari tempat mereka berada sekarang

“Yopi sedang berada di mata air itu. Mari kita ke sana!” kata Alo.

Massa pun bergerak. Mereka berlari dan terus berteriak. Tak lama kemudian mereka mendapati Yopi dengan parang di tangan sedang ketakutan. Agaknya dia sudah tahu bahwa dia sedang dicari massa. Tapi, Yopi tidak melarikan diri. Dia berdiri di dekat mata air itu. Masih tampak rumput dan beberapa pohon kecil yang baru dia potong. Dia memang baru sementara membersihan mata air ketika massa datang.

Jarak massa dengan Yopi tinggal kurang lebih 5 meter. Mereka hanya dipisahkan oleh sungai kecil yang airnya mengalir dari mata air itu. Untuk menuju ke tempat Yopi bediri massa harus melewati pipa-pipa besar yang dipakai untuk mengaliri air dari mata air ke kampung.

Yopi tampak ketakutan sekali. Tapi ia tidak bicara. Orangnya memang pendiam. Tapi dia dalam keadaan waspada. Parang di tangannya di arahkan ke tanah. Sementara tangan kirinya tampak dua ekor tikus mati yang basah. Dengan ketakutan Yopi mengangkat tikus-tikus mati untuk ditunjukkan kepada warga. Seolah ada yang ingin dia katakana dengan tikus-tikus mati kepada massa.

Tapi massa tidak mengerti atau tidak mau peduli. Mereka terus berteriak. Om Robert yang berada di baris paling depan mencoba berkomunkasi dengan Yopi.

“Yopi, kamu harus pertanggung jawabkan perbuatanmu kepada kami! Sudah dua korban meninggal akibat ulah nenek Omi dan kamu. Kalian telah meracuni anak-anak kami dengan ilmu-ilmu hitam kalian. Dulu nenek Omi, sekarang kamu, Yopy. Cepat serahkan dirimu!”

Meski warga telah berteriak-teriak marah, tapi Yopi tetap tidak bicara. Dalam keadaan takut dia masih berusaha “bicara” dengan menunjukkan tikus-tikus mati yang dia pegang itu kepada warga. Sambil sesekali dia menatap ke mata air itu. Untuk meyakinkn warga, dia mengambil lagi tikus mati dari dalam mata air. Yopi seolah ingin merespon kemarahan massa dengan menghubungkan tikus-tikus mati itu dengan mata air, yang mengalir ke kampung dan sehari-hari dijadikan sebagai air bersih, mencuci dan termasuk untuk memasak dan diminum.

Tapi belum satupun massa yang mengerti isyarat Yopi. Mereka bahkan menganggap Yopi orang sinting atau idiot. Massa pun semakin marah dan hendak mengejar dia. “Bunuh saja dia kalau tidak mau mengakui perbuatannya. Mari kita tangkap dia. Lenyapkan dia dari kampung kita!!” suara kemarahan itu terdengar dari antara massa.

“Benar. Kita bunuh saja dia!” Sambut massa yang lain.

Lima orang lelaki berbadan kekar melompat melewati pipa-pipa itu. Dengan sikap hati-hati mereka mencoba mendekati Yopi. Tombak dan parang di tangan mereka. Yopi yang melihat gerakan mereka semakin ketakutan. Tapi dia tidak lari. Parang yang dia pegang ditancapkan ke tanah. Tikus-tikus mati tetap dipegangnya. Para lelaki yang akan menangkap Yopi tidak mendapatkan perlawanan. Mereka dengan mudah bisa melumpuhkan Yopi. Yopi pun pasrah. Tapi dengan sekuat tenaga dia berusaha memegang tikus-tikus mati itu.

Merekapun berhasil membengkuk Yopi. Massa yang lain ingin Yopi segera dieksekusi. Tapi Om Robert menolaknya. “Eksekusi nanti akan kita lakukan di kampung, di hadapan pendeta dan hukum tua!” tegasnya kepada massa.

Massa segera menggiring Yopi ke kampung untuk dieksekusi. Seperti penjahat kelas kakap, Yopi diikat dengan rantai, mulutnya dibungkam dengan kain. Di sepanjang perjalanan massa berteriak-teriak senang seperti baru mendapat hewan buruan. Sampai memasuki kampung, sepanjang jalan mereka terus berteriak. Di kampung, para perempuan dan anak-anak di pinggir jalan menyaksikan dengan penuh perhatian arak-arakan massa itu. Yopi sebagai terdakwa ditarik seperti hewan. Sesekali wajahnya tampak kesakitan ditarik dan dicaci oleh massa. Namun, pria yang berambut panjang dan berbaju kumal itu sepanjang jalan hanya diam saja. Tikus-tikus mati tetap dipegangnya.

Di sebuah tanah kampung massa berhenti. Di situ Yopi akan dieksekusi. Rencananya dia akan dibakar hidup-hidup. Menurut Om Robert Yopi akan diikat di pohon pinang yang tertancap di tempat itu. Pohon pinang ini waktu tujubelasan dipakai untuk lomba panjang pinang warga sekampung. Seketika warga sekampung, dari anak-anak sampai kakek nenek telah berkumpul di tanah itu.

Beberapa lelaki ditugaskan mengikat tubuh Yopi di pohon pinang itu. Yang lainnya menyiapkan kayu bakar.

Sementara warga sibuk dengan persiapan untuk mengeksekusi Yopi, pendeta dan hukum tua kampung datang ke lokasi itu. Mereka tampak terlibat percakapan serius dengan om Robert. Ketika Om Robert bicara, pendeta dan hukum tua tampak mengangguk-angguk. Begitu sebaliknya. Agaknya, percakapan itu tinggal membicarakan teknis eksekusi, yaitu dibakar hidup-hidup. Soal alasan eksekusi mungkin menurut mereka sudah jelas, bahwa Yopi bersalah karena telah membunuh Aldy dengan cara sihir. Alasan ini sama dengan yang mereka pakai kepada nenek Omi sebulan yang lalu.

Yopi, kini siap diesekusi. Tubuhnya telah diikat di pohon pinang. Kayu bakar telah menutupi tubuhnya. Warga yang mengitari tanah kampung itu tampak tegang menunggu waktu eksekusi.

Dan, setelah Om Robert selesai bercakap-cakap dengan pendeta dan hukum tua, eksekusipun akan segera dimulai. Menyambut eksekusi itu, Hukum Tua menyampaikan beberapa kata.

“Saudara-saudara. Sudah dua warga kita yang menjadi korban sihir. Pelakunya sudah kita ketahui. “Nenek sihir”, nenek Omi sudah kita lenyapkan. Tapi masih juga ada korban yang berjatuhan. Ternyata, ilmu sihirnya telah diturunkan kepada lelaki yang sebentar lagi kita akan bakar ini, yaitu Yopi…”

“Bakar dia! Lenyapkan mariara dari kampung kita!” warga berteriak sambil tangan mereka mengepal ke udara.

“Iya, kita akan membakar dia. Tidak boleh ada mariara di kampung ini,” sambung Hukum tua. “Hari ini, kita akan membakar hidup-hidup mariara yang telah meresahkan kampung kita. Ini menjadi pelajaran bagi warga yang akan menjadi mariara. Tidak ada yang bisa lolos…”

Setelah hukum tua selesai berpidato, pendeta diminta untuk mendoakan kampung mereka agar dijauhkan dari gangguan kuasa-kuasa setan, seperti mariara. Dia mengakhiri doanya dengan berkata, “Dalam nama Yesus, kami akan melenyapkan kuasa jahat itu. Amin.”

Tubuh Yopi tak tampak lagi. Kayu bakar yang sudah disirami bensin telah menutupinya. Ketika tubuh Yopi masih tampak tadi, tangan kirinya kelihatan masih memegang tikus-tikus mati itu. Sampai selesai pendeta berdoa, tak satupun warga yang menyoal tikus-tikus mati itu.

Sebatang korek api ditangan om Robert mengeluarkan percikan api. Kemudian korek itu dilempar ke tumpukan kayu yang sudah disirami bensin. Seketika tumpukan kayu yang membungkus tubuh Yopi berubah menjadi nyala api yang besar. Lidah-lidah apinya seperti tangan-tangan iblis yang menari-nari. Sesekali keluar bunyi kayu yang retak. Tapi, tidak terdengar suara teriakan minta tolong dari dalam tumpukan kayu. Padahal sebuah kematian tragis sementara terjadi, kematian yang disengaja dan diiyakan dengan hukum kampung dan doa seorang pendeta. Warga kampungpun tampak menikmati pertunjukkan eksekusi mati terhadap Yopi, terdakwa mariara .

Matahari mulai miring ke Barat. Kira-kira pukul 2 sore nyala api baru padam. Tinggal tumpukan arang hitam yang tampak. Warga sudah pulang ke rumah mereka masing-masing. Hukum tua dan pendeta juga sudah pergi. Tinggal Om Robert dan beberapa laki-laki yang masih tampak di situ. Jasad Yopi hangus terbakar. Tak tampak lagi jenasah manusia. Namun masih kentara tangan kirinya memegang tikus-tikus mati yang juga sudah menjadi arang itu.

Om Robert dan beberapa lelaki yang bersama dengannya, setelah sejenak mengais-ngais bekas pembakaran itu, merekapun pulang ke rumah. Jasad Yopi yang sudah berubah menjadi arang yang hitam dibiarkan begitu saja. Dan, matahari semakin terbenam di ufuk Barat. Malampun segera menyelimuti kampung itu. Langit menjadi hitam dan suasana kampung tampak mencekam. Entah kenapa, malam itu warga lebih suka tinggal di rumah daripada bercerita di warung, di perempatan jalan, atau nonton liga Italia di beberapa rumah warga. Mungkin saja kengerian akibat peristiwa sadis tadi siang baru dirasakan setelah malam tiba atau setelah suara gonggongan anjing bersahut-sahutan.

Tapi, beberapa hari dari eksekusi itu, warga dihebohkan dengan kematian lagi secara berturut-turut beberapa warga kampung. Gejalanya sama persis yang dialami oleh Eby dan Aldy. Mulai dengan menggigil, panas tinggi, cuma 3 atau 4 hari lalu meninggal. Seminggu jumlah warga yang meninggal mencapai 10 orang. Satu di antaranya Om Robert.

Warga sekampung menjadi bingung. Hukum tua berpikir keras mencari penyebab kematian warganya. Sebab dua mariara sudah mereka lenyapkan tapi mengapa masih ada kematian misterius. Pendetapun, di ibadah hari minggu di gereja bahkan mendoakan secara khusus kematian-kematian yang sedang menimpa jemaatnya. Hingga kematian ke-100 di waktu sekitar 1 bulan itu, belum ada satupun warga yang bisa mengungkapkan penyebabnya. Dugaan masih disekitar bahwa roh-roh sihir nenek Omi dan Yopy belum hilang semuanya.

Kematian beruntun akibat penyakit misterius itu akhirnya heboh sampai di kabupaten. Pemerintah pun segera menyuruh dinas kesehatan kabupaten untuk turun ke kampung itu menyelidiki sebab kematian massal itu. Setelah seminggu petugas kesehatan dan para ahli melakukan penelitian, mereka mendapat kesimpulan penyebabnya. Kampung itu terserang wabah penyakit pes mematikan, sejenis penyakit mematikan yang di sebabkan oleh sebuah bakteri yang ditularkan oleh kutu tikus.

“Jadi saudara-saudara, kami telah menemukan penyebab penyakit misterius yang telah membunuh ratusan warga di sini sejak beberapa bulan terakhir ini,” ujar ketua tim peneliti dari Dinas Kesehatan Kabupaten. “Di Indonesia dan negara-negara Asia penyakit ini menular lewat gigitan kutu tikus, gigitan atau cakaran binatang yang terinfeksi bakteri dan dengan kontak tubuh binatang yang terinfeksi. Kematian di kampung ini adalah akibat penyakit pes yang memang mematikan.“

Mendengar itu, sejumlah warga teringat tikus-tikus mati yang dipegang oleh Yopi sampai dia dieksekusi. Mereka juga masih mengingat tikus-tikus itu diambil oleh Yopi dari mata air, sumber air bersih warga kampung itu.

“Apakah itu maksud dari Yopi dengan tikus-tikus mati dari mata air yang dipegangnya sampai dia hangus terbakar? Dia mungkin bermaksud menyampaikan pesan dengan tikus-tikus mati itu. Kalau karena penyakit pes, berarti dia dan nenek Omi bukan mariara ? Tapi, mereka telah mati dibakar??” Tante Nece bertanya entah kepada siapa.


Bukit Inspirasi, 22 Maret 2010

Cerpen Novline Lidia Rewah: "Cerita Hari Basar".

serta bulang agustus abis......
bar maso bulang september,
opa philus so mulai lia depe binatang da piara.....
anjing for mo beking rw......deng babi mo beking tinoransak.....
ayang kampung pe tolor so mulai opa philus kumpul for mo beking kukis kolombeng.....

pagar muka rumah opa phlilus so ja mulai ganti depe bulu,
biar cuma ika deng tali gomutu....mar so gaga tupagar.....
kurang mo ka kawangkoan for mo bli cet kapur barang 2 kilo for mo cet pagar......

oma pince.....so mulai ciraro rumah,.....
biar cuma mo gantong tu hiasan ....merry christmas and happy new year,
oma pince so sanang.......

samua opa philus deng oma pince beking karna mo sambut hari basar......

brenebon so siap for mo beking sup nanti.....
mantega blek blueband......so bli lebe dulu....soalnya biasanya pedagang ja senae nentau tako kal so dekat depe hari katuun....mar tu dinas perindustrian deng dinas perdagangan kwa nda da nyali for kontrol........tarigu kasiang oma pince so ja cicil2 bli satu2 kilo tiap dia da lebe doi.....
gula paser......dan samua kabutuhan hari basar.....oma pince so cicil2 bli kasiang........

.......di dekat opa philus deng oma pince pe rumah.....ada kasiang satu keluarga yang hidop dari perjuangan tanta lenci sebagai tukang bobaso pakeang orang....deng oom lexi mancari tukang jaga wc umum di stasion oto kawamgkoan........deng 7 anak dirumah........car ini hari, makang ini hari, abis ini hari.......tapi toh tetap ingin mo sambut hari basar.......deng dong pe kemampuan katuun......!

for hari basar....
salalu torang basadia for urusan poót....
salalu torang basadia for urusan badang.......
biar korang mo bautang di koperasi deng bunga 20 perseng asal.....hari basar torang mo rayakan.....

hari basar.......
for nona2 deng nyong2 masa kini....so musti ada baju baru deng capatu baru,
for anak2.......sama lei.....
apalagi for mama2.........dar rambu sampe di kaki.....so musti baru kata.......biar dong pe laki deng so nda malo balolo doi rakyat.......asal bini sanang sambut hari basar......

hari basar......skarang so ilang depe arti....

for apa nasi jaha da bakar 200 bulu kal hasil da bautang di koperasi ato bank???????
for apa tinoransak deng pangi da 100 bulu kal da pi lolo pa orang pe kobong nya batanya karna merasa ada kekuasaan???????
for apa kukis mantega 100 toples.......kal da lolo opa philus deng keluarga miskin pe pbb yang dong da bayar karna semboyan perpajakan.....rakyat taat hukum wajib bayar pajak bumi dan bangunan.....??????

apa ini tu damai dibumi diantara manusia yg diperkenankannya?.......ny

anda sobat!...lantarang didalang gareja sandiri......ada karlota,ada bakusontong,ada kebencian dan iri hati.....
apa ini tu kesukaan untuk seluruh bangsa?.......nyanda komang!.....lantarang ta pe bangsa minahasa kasiang......masih tabiar ditengah satu negara kesatuan.....dinjak haknya,dimanipulasi kultuurnya,dikebiri kemerdekaannya sebagai bangsa minahasa......dengan alasan....demokrasi.....dirampas hak hidup sebagai bangsa yang kecil.......dengan berbagai macam peraturan dan syariat......

ta pe bangsa minahasa.......sampe sekarang masih saja di kejar oleh herodes2 deng depe mahligai kekuasaan.......mayoritas menindas minoritas.......


namun satu ta pe keyakinan......hari basar yang penuh sukacita,sederhana deng bunyi lantaka.....cuma ada di tanah kelahiranku......banuaku MINAHASA......tanah TOAR DAN LUMIMUUT!


kampung sorong,13 des 2009.

Cerpen Novline Lidia Rewah: "Lantaka"

.......lantaka pe bunyi.....bekeng rame ta pe banua minahasa,
biar nyamuk rako di bawah kolong rumah....mar tong bakumpul se bunyi ni lantaka....
na pe suara......melambung diantara gunung dua sudara dan klabat.....
na pe gema rupa mo se pica tu gunung soputan.....
biar oom pala lengkali jaga marah....amper jatung katu tu jantong lantarang ta kage , pas lewat tong se babunyi tu lantaka......
cuma pake obor.....ato lampu botol tong barmaing ni lantaka.....rupa tong da setau pa seantero dunia.......NAPA KITA PE BANUA MINAHASA......
tiap kali tong mo pasang......
so musti tiop dulu se kaluar depe asap......soalnya kal nda sekaluar....depe babunyi rupa sapa stou pe konto......

lantaka......skarang kasiang torang so nda dapa kase barmaing rupa dulu......
padahal torang pesalah sandiri deng tong pe nakal katuun sampe.....lengkali kal tu api kaluar.....kage alis deng rambu bagiang muka so tabakar......
mar lengkali katuun....kal so tal panas.....ja meletus kong tabakar tu rumah kang......so itu oom pala deng kuntua so nya ja kase barmaing tu lantaka.....

dar bulu basar tong beking pa ngana lantaka,
se lobang di dekat buku-buku for mo isi dan mo tampung minya tanah.....
deng kaeng lap for mo tutu tu lobang waktu mo se babunyi........

lantaka.......na pe bias pribadi bukang cuma jadi kenangan.....
mar.....lantaka ngana masih hidop pa tole,utu,inyo deng tu samua nyong-nyong minahasa yg pernah da jadi trend deng ngana tempo dulu......pehati deng jiwa......

na muncul sebelum hari basar,
na so se tau pa samua orang di kampung.......hari basar so nda lama.....
biar ada dikobong jao.......serta dengar lantaka pe babunyi.....
orang kobong so tau.......hari basar so dimuka pintu......

lantaka......
ngana rupa sosok pribadi yg hidop di antara ta banua minahasa,
na so se smangat ta pe bangsa minahasa.......
na so jadi warta for ta pe bangsa minahasa.......

serta malam hari basar datang.......
deng satu pengorbanan.....na rela tong beking umpan api for mo bakar akang......
nasi ja,posana,pangi,tinoransak

........deng samua tu da isi di bulu......

lantaka kini bergeser deng......petas-petasan buatan china.....

kini buatan bangsaku minahasa.......hanya tinggal kenangan......
dentuman lantaka......kini tinggal dalam ingatan.......
namun......lantaka ngana pe nama tetap ada pa kita pe hati......

ta akan jadikan ngana seruan yang panjang rupa ngana pe bunyi yang panjang mengema di seantero dunia.....
ta ingin skali ngana hidup kembali memelopori perjuangan ta pe bangsa minahasa mo mangada globalisasi dalam segala bidang......

biarkan tong pe hati putra putri bangsa minahasa.....selalu di bakar dengan api.....kesetiaan pada tanah leluhur kami.....minahasa!

lantaka......
bakar semangat patriotisme bangsa minahasa dalam keyakinan.......MENJADI SATU bangsa yang mengemakan......I yayat u santi......!!!!!!!!


kampung sorong,15 desember 2009.

Cerpen Novline Lidia Rewah: "......dapa inga dulu....!"

.......dapa inga dulu waktu masih di kampung,
bakumpul rame-rame....
deng torang pe tamang-tamang.....
dudu di parampatan jalang di kampung......
deng modal.....juk ato gitar......
somo manyanyi.....kong bacarita......
mulai dar da ser tu nona di jaga satu ato jaga barapa stou.....
sampe deng......tu keke oom utu poto mar panjaha pe anak nama wulan.....yang poto rupa depe papa mar bakendis kwa e........
kal tole walak so ja ba petik depe gitar deng dua snar paling bawah.......deng lagu makatana......samua baku iko manyanyi.....biar ada suara lari sei....ada suara blek......mar samua iko manyanyi nya pake orang bapalu.......

masih nyong-nyong katuun kang......
jadi tu carita masih sampe di batas.......tu nona-nona di kampung sandiri......
so ja ser-ser mar tako mo tanya.......kage katu tu nona tolak manta-manta nya dua kwa kata tu malo.........
ada lai tu so lama da ser-ser nona dikampung......mar nya ja dapa kasampatan bacarita lantarang.....salalu tu nona kal kaluar....depe kaka ja iko balakang........
ada lai kasiang so suka mo ba slamat malang pa nona ......mar tako skali dar depe opa kuntua ta tua2 dikampung yg di hormati samua orang.......

tu carita cinta dikampung kebanyakan.......rupa kandas cuma sampe di suka pa tu nona.....apalagi kasiang dulu-dulu kang.....adat istiadat bangsa minahasa......kuat skali.......jadi ya kal blung ada kuda ato sapi ato kobong deng tu alat2 rumah tangga.....nya barani mo pi maso minta.......
jadi orang tua kasiang ja bilang......kerja bae2....rajing2 kasana supaya boleh mo pi maso minta tu nona yg ngana suka........

kal da orang mati.......
so ni dia tu kesempatan nyong-nyong deng nona-nona ja baku dapa......
lantarang lama ni acara......bisa sampe pagi deng depe acara ......wora-wora cincing....rata-rata samua nyong-nyong deng nona-nona......boleh baku haga......biar katu cuma sampe disitu kang....deri jang torang lupa.......samua orang tua so pasang pa pala ato kuntua......lia-lia akang ta pe anak.......!
mar yang nya bisa tong lupa di acara wora-wora cincing.......ja ba pantun......kong ja baku-baku balas.........rupa bagini noh.....
nasi dinging satu balanga
mari kugantung di pohong kopi
sudah ingin berumah tangga
bar satu calana golpi.

kong tu laeng balas lai....
tiga kapal barete-rete
kapal ditengah muat karanjang
tiga nona barete-rete
nona ditengah mata karanjang.....
.....nya rasa tu rasa cinta so bartumbuh dar da baku balas pantun.......

dapa inga dulu......
pi batifar saguer dikobong......
kal da nona2 lewat mo pi bobaso di kuala......rupa pepatah bilang......dar mana datangnya cinta,dar mata turung ka hati kata......biar dar atas pohong da batifar........so kacili tu nyong ba floit.....ato bersiul.....no napa tu nona-nona yg deng loto da isi pakeang kotor lai.......mulai ator gaya.....sambil bobaso pakeang di kuala ato pancuran.......bacarita tentang tu nyong yg dia da takser......
bagimana tu nyong pe mata.....badang......depe tatawa,suara....dan sampe depe kumis model bagimana dong carita sambil bobaso......

dapa inga dulu.....
pi mapalus pa orang kampung pe kobong......
no mo bapacol se kalar dalang satu hari tu kobong......
nya herang tu nona-nona deng nyong-nyong pe tampa bakudapa juga katuun tu mapalus.......

era globalisasi.......so nda dapa kasiang tu babagini......biar baron supermarket.....mini market....dan baron dunia.......tong nda dapa tu babagini di tampa laeng......

membaca,merenungi nasib bangsa minahasa yang hampir punah ditelan kebobrokan ahlak dan martabat pemimpin bangsa minahasa yang egois.....serakah dan gila kedudukan......gila hormat.......dong nya sadar kasiang.........SO KURANG UNTUNG NAMA TU KATA MINAHASA.........sedang depe arti MINAHASA........dong solupa dan sengaja dilupakan....ya dilupakan.....lantarang yg dong pikirkan........bagimana kal jadi pejabat supaya boleh kuras abis rakyat pe doi.......biar maso panjara.....dorang so nya tako........pokoknya bisa bli samua tu tanah di kampung pinawetengan deng baruci lai pake nama orang laeng.......!!!!!!!!......

..hoi para pemimpin bangsa minahasa.......tong pe tanah minahasa da seberbage for bangsa minahasa turun temurun.......bukang untuk dimiliki oleh seorang pejabat.......!!!!!!!!!!!

dapa inga dulu.......
kuntua deng pala.......da kobong sandiri yg dong ja pacol deng mapalus satu kampung......
rakyat biasa......da kobong sandiri yg dong ja pacol deng mamapalus satu kampung......
ta pe bangsa minahasa......nda pernah tagantong pa bangsa laeng.......
mar skarang.......so laeng skali.......banya skali bangsa minahasa.....bajongko pa bangsa laeng......

dapa inga dulu......
inga kasana bukang mo bale kemasa lalu......mar masa lalu yg gemilang sebagai bangsa minahasa....seharusnya sekarang harus menjadi masa keemasan bagi bangsa minahasa.

dapa inga dulu......




kampung sorong,16 desember 2009.

Cerpen Christy 'Coy' Sondey: "Realita yang sebenarnya,…" Termbehek-Mbehek, Naskah Asli Lho !!"!

Begitulah kenyataan hidup.. Kata orang ; hidup ini tak adil…Lalu, dimana keadilan itu sebenarnya..?

Penelusuran kasus kali ini, adalah mengenai seseorang yang jelek dan pembual,,cukup disebut ‘W’..atau dengan nama samaran melata wito…

Sebagai seorang lelaki perjaka ting-ting berumur 27 tahun, melata wito memiliki kehidupan yang tidak seperti kebanyakan laki-laki..Duduk manis seorang diri di depan televisi, menyaksikan berbagai tayangan infotaiment gosip dan berita panas selebritis Indonesia..Kadang kala, dia berkata ; ‘sungguh dunia tak adil’, ‘biarkanlah mereka, aku punya dunia sendiri’, ‘ahhkk,aku lebih ganteng dari dia’. Atau, menulis diary mengenai perasaan dan keinginan hati..
Tak ada aktivitas berarti dari seorang melata wito. Sampai satu saat, dia menyaksikan acara liputan selebritis segar Indonesia disebuah tv swasta nasional, dan merubah hidupnya berputar-putar seperti roda sapi.
Berikut adalah naskah singkat dari tim termbehek-mbehek, yang membantu melata wito merubah hidupnya dan menjadi seseorang yang berarti..

Naskah Percakapan

Tim Termbehek-mbehek : Pagi, bisakah kami menjumpai saudara melata wito, ibu ?
(Di depan rumah,berbicara dengan Ibu melata wito)
Ibu : Bisa, melata wito ada tamu…capat kaluarrrrrrrrrrrrrrr !!!!
melata Wito : Ohh..qta ada ba uni…suruh maso jo pa dorang,,!!!

Dengan berbagai peralatan peliputan di bawah pengkordiniran Dean Kartolo sang sutradara sekaligus pembimbing cinta sejati bagi seluruh umat manusia yang ada diseluruh dunia, memasuki rumah dengan begitu tegang…

Tim Termbehek-mbehek : Pagi sudara, salam cinta..dengan ini kami proklamirkan
anda sebagai salah satu korban kenyataan dari hidup yang
tak adil..kami ingin menyelamatkan anda, izinkan kami
untuk bisa melakukannya…???
(dengan gaya membungkuk sang dean kartolo, meminta!! )
melata Wito : Saya tidak tertarik,,!!!
Tim Termbehek-mbehek : Setiap hal ada manfaatnya, setiap manfaat membawa hidup
menjadi lebih baik,..Tolong jangan keraskan hati
anda,,ayo, mari bergandengan tangan menuju perubahan
yang lebih baik,,“Teruskanlah, lebih cepat lebih baik,
menuju melata Wito baru”
melata Wito : TIDAK TERTARIK !!!
(berteriak marah, mengepalkan tanganya ke arah Dean Kartolo)
Tim Termbehek-mbehek : Baiklah kalau begitu,,kami tidak akan memaksa, tapi ingat
DENGAN MENGIKUTI PROGRAM ACARA KAMI, ANDA AKAN MENJADI
LEBIH MANUSIAWI DAN TAMPAK SEPERTI BINTANG PUJAAN ANDA
“COy Tampan”
melata Wito : Ohhh,,benarkah itu…aku akan seperti dia….????????
Tim Termbehek-mbehek : Yap…Anda akan seperti dia…


Naskah Adegan

Hari itu juga, sang melata Wito berkata ‘ya’ untuk menjadi peserta yang akan dirubah hidupnya oleh Termbehek-Mbehek.

Hari I : Curhat,,.berkenalan lebih jauh dan saling sharing masalah
Hari 2 : Setelah mengetahui masalah sang melata Wito, para kru langsung menuju
kediaman sang actor COy tampan, untuk membongkar rahasia ketampanannya.
Hari 3 : Setelah melalui hari yang sulit, seperti : dikejar anjing kampung gila,
ditabrak ojek serta melata Wito ditangkap satpam yang berjaga dikediaman
rumah sang aktor, karena tak tahan lagi untuk menyapa sang aktor tampan
saat menuju mobil pribadinya. Satu persatu rahasia sang aktor mulai
terungkap,..
Hari 4 : Dengan hasil intelenjensi 007, Tim Termbehek-mbehek mendapati rahasia
ketampanan actor COy tampan, seperti berikut :

a.Mandi 3 kali sehari
b.Berolahraga yang cukup
c.Beristirahat yang cukup
d.Makan teratur
e.Memakai shampo dan sabun serta menggosok gigi saat mandi
f.Memakai bedak, deodorant, minyak wangi, krim perawat wajah dan tubuh.

Hari 5 : Setelah berhasil membongkar rahasia ketampanan COy tampan, maka sang
melata Wito langsung dipermak sedemikian rupa dengan tambahan alat
pertukangan (selain alat kosmetika dan perawatan tubuh) seperti : Obeng
untuk mengguliti jerawat-jerawat dimuka, Tang untuk mempertinggi hidung,
Gergaji, untuk memotong bagian bibir yang dower, plus Kertas pasir untuk
menghaluskan muka.
Hari 8 : Sebuah perubahan terjadi.. sang melata Wito berubah menjelma menjadi
lelaki tampan..sebuah ketidakadilan yang dibayar dalam waktu hampir satu
minggu oleh Tim Termbehek-mbehek, di bawah sutradara Dean Kartolo.
Walhasil, sang melata Wito menjadi orang yang tak betah di rumah, slalu
saja punya alasan untuk keluar demi adu tampang..Bahkan, demi
penghargaannya kepada Tim Termbehek-mbehek, dia memberikan award, yang
merupakan penghargaan pertama untuk acara realita show di Indonesia.

(Kunjungi Blog Penulis cerita ini di: http://tulisansikecil.blogspot.com/ )

Cerita Witho B. Abadi: "Golok Pembunuh Sapi" Bagian I

Kilatan halilintar yang diikuti pekikan guntur memanggil gumpalan awan hitam yang berkelebat menutupi langit. Di antara bayang-bayang pepohonan terlihat sebuah sosok bertudung hitam, seakan menyembunyikan identitas dirinya. Langkahnya cepat, namun sesekali terseok seolah menahan rasa sakit. Titik-titik merah mengikuti setiap jejak kakinya.

Tampaknya ia terluka.

Ia menengadah ke langit yang semakin gelap. Tetesan air mulai berjatuhan dari angkasa. Ia mempercepat langkahnya. Dengan memaksakan diri ia menghentakkan kaki, melompat bagaikan melayang, menembus rimbunnya pepohonan. Ilmu kaki ringan yang mencengangkan. Pasti orang ini bukan orang biasa.

Hujan turun teramat deras.

Selang beberapa menit, ia sampai di sebuah kuil kosong di penghujung hutan. Kuil ini sudah tua dan temboknya sudah banyak yang rusak. Warna di tembok itu sudah tak jelas lagi, tertutup lumpur di sana-sini. Papan nama kuil itu sudah patah menjadi beberapa bagian dan tak terbaca lagi.

Ia berhenti sejenak, mengamati kuil itu, kemudian dengan perlahan dan hati-hati melangkahkan kakinya ke dalam. Kondisi di dalam kuil cukup mengherankan bila dibandingkan dengan keadaan luarnya. Meskipun lantainya banyak yang telah rusak, namun kondisi ruangannya terlihat rapi, seolah ada yang merawatnya.

Di luar, kembali terdengar bunyi guruh bersahut-sahutan dan kilatan halilintar yang tiada henti. Orang itu kembali memperhatikan sekitarnya dengan waspada. Tangannya bersiap di gagang pedang yang menyembul dari balik bajunya. Air bercampur darah menetes dari bajunya yang basah kuyup diguyur hujan.

Dengan terseok-seok ia melangkah ke sudut ruangan, dimana terdapat bekas perapian. Di situ masih tersisa beberapa batang kayu bekas terbakar dan tumpukan jerami. Tampaknya kuil ini sering disinggahi orang.

Ia merebahkan dirinya sejenak, mengatur nafasnya yang tersengal, kemudian menyalakan api. Saat ia membuka tudung dan bajunya untuk memeriksa lukanya, tampaklah bahwa ternyata ia adalah seorang gadis yang berparas jelita.

Terlihat sebuah sayatan yang cukup dalam merobek pinggangnya dan hampir merenggut nyawanya. Luka itu masih terus mengeluarkan darah.

Angin yang bertiup dari kisi-kisi jendela kuil yang telah rusak membuat gadis itu meringis kedinginan dan mendekatkan diri ke perapian. Ia terbaring di samping perapian, kelelahan, dan lemah karena kehilangan banyak darah.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah suara tawa cekikikan. Dengan gerak refleks ia menyambar pedangnya dan berdiri dengan wajah meringis menahan sakit.

“Siapa disitu?!”

Dari arah loteng kuil yang gelap terdengar suara seorang laki-laki.

“Ups!, ketahuan....”

“Siapa kau? Tunjukkan dirimu!!” suara gadis itu meninggi.

Bukannya keluar dari persembunyiannya, sang pengintip itu malah tertawa sejadi-jadinya, membuat gadis itu semakin waspada. Diambilnya sebilah kayu yang masih terbakar dari perapian dan melemparnya ke arah suara itu.

Sang pengintip melompat, berkelit dari lemparan kayu bakar yang berapi-api itu. Ia mendarat tepat di depan si gadis dan mengelus wajahnya sambil tertawa kemudian melompat menjauh dengan gerakan salto di udara.

Merasa dipermainkan, si gadis segera mengayunkan pedangnya menyerang sang pengintip. Ilmu pedang gadis itu dapat dikatakan luar biasa, akan tetapi dalam keadaan terluka dan kelelahan gerakannya menjadi terbatas sehingga serangannya tidak efektif. Dengan mudah sang pengintip berkelit menghindari serangan gadis itu sambil terus tertawa.

Hanya beberapa gerakan saja, kesadaran gadis itu mulai hilang. Langkahnya goyah dan ia terjatuh, pingsan. Sang pengintip dengan cepat menangkapnya sebelum tubuh gadis itu menyentuh tanah.
*

Perlahan gadis itu membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Ketika kesadarannya telah pulih, ia segera waspada dan beranjak bangun namun rasa nyeri di pinggangnya membuat ia harus kembali berbaring.

Setelah rasa nyeri di pinggangnya hilang, ia memandang sekeliling. Ia berada di sebuah kamar yang sederhana namun tertata rapi dan bersih. Cahaya matahari dari yang masuk dari jendela menandakan bahwa saat itu siang hari.

Pintu kamar terbuka dan seorang lelaki dengan tongkat di tangannya masuk membawa semangkok obat. Lelaki ini memiliki rambut dan janggut yang memutih, menandakan umurnya yang tidak muda lagi. Ia masuk sambil meraba-raba dengan tongkatnya, berjalan mendekati tempat tidur dimana gadis itu berbaring. Tongkat kayunya meliuk-liuk ke sana ke mari mencari jalan hingga akhirnya berhenti di dada gadis itu.

“Hmmm.... apa ini... kok kenyal...” gumannya sambil menusuk-nusuk dada gadis itu dengan perlahan dan penasaran.

Mendapat perlakuan seperti itu, si gadis melotot.

“Itu dada saya tahuuu!”

Lelaki tua itu terkejut dan mundur beberapa langkah.

“Oh, kamu sudah sadar. Maaf saya buta, jadi tidak tahu kalau kamu sudah sadar”.

Si gadis menggerutu.

“Dimana saya?” tanya gadis itu.

Lelaki tua-yang-buta itu duduk di samping si gadis.

“Ini rumah saya” katanya sambil menyodorkan mangkok berisi obat kepada gadis itu.

“Minumlah dulu obat ini, biar kamu cepat sembuh”.

Gadis itu menerima mangkok berisi obat itu dan meminumnya. Rasanya sangat pahit sehingga ia hampir muntah. Namun ia memaksakan diri menghabiskannya sedikit demi sedikit.

“Siapa nama kamu?” tanya lelaki tua-yang-buta itu.

“Namaku Cenderawasih. Aku biasa dipanggil Asih.” Jawab si Asih.

“Ooh, nama yang bagus. Kalau saya biasa dipanggil Lukman”

Asih tersenyum.

“Anda seorang tabib?” tanya Asih.

Lukman mengelus-elus jenggotnya.

“Ahh.. semenjak saya buta, saya menjadi seorang ahli massage alias tukang pijit. Tapi sebelum itu saya pernah belajar ilmu pengobatan . . .”

Gadis itu mengangguk-angguk sambil meminum obat.

“Sayang semenjak saya buta, saya sering salah meramu obat sehingga banyak pasien saya yang mati”

“Pfffffffffffff!!!”

Mangkok di tangan gadis itu terlepas dan obat di mulutnya menyembur. Dengan terbatuk-batuk ia berusaha memuntahkan obat yang diminumnya.

“Jangan khawatir, bukan saya yang meramu obat itu. Saya membelinya di apotik dekat terminal”.

“Oooh, maaf, saya kira....”

“Tidak apa-apa. Itu juga obat kadaluarsa yang saya beli setengah harga” kata Lukman sambil tersenyum.

“Hoeeekkk!!”

Asih memasukkan jarinya sedalam mungkin ke dalam kerongkongannya, memaksa diri memuntahkan sisa-sisa obat yang terlanjur ditelan.

Lukman hanya tersenyum lagi.

Bah. Rasanya Asih ingin segera melompat dari tempat tidur dan pergi dari tempat itu saat itu juga. Entah mimpi apa dia saat pingsan hingga bertemu dengan orang tua yang aneh seperti ini.

“Eh, kalau boleh tahu, apakah anda yang menolong saya di kuil?”

“Bukan. Witho yang menolongmu dan membawamu ke sini”.

“Witho? Siapa itu?” tanya Asih penasaran.

Belum sempat Lukman menjawab pertanyaan itu, di depan pintu muncul seseorang laki-laki.

“Itu aku” kata laki-laki itu sambil menunjuk dadanya.

Lelaki bernama Witho itu adalah seorang muda yang tampan. Rambutnya panjang tergerai melewati bahunya. Di tangannya terpajang sebilah golok besar berwarna perak dengan batu-batu bulat berwarna merah di sepanjang sisi tumpulnya. di pangkal golok itu terdapat sebuah gambar tikus, dengan tulisan “Cap Tikus” yang melambangkan merek atau trademark dari pembuat golok itu. Di bagian tengah golok itu terdapat ukiran yang bertuliskan “WITHO PE GOLOK”. Di ujung golok itu terdapat sebuah stiker yang bertuliskan “Rp. 75000”.

Asih terpana dengan sosok di depannya. Orang inilah yang bertemu dengannya di dalam kuil. Hanya ada satu kata yang melintas dalam benak Asih; “Narsis”.

“Aku juga yang mengganti bajumu” kata Witho dengan ekspresi dingin.

Mata Asih langsung tertuju pada baju di tubuhnya. Memang, ini bukan lagi bajunya.

“Jangan khawatir, aku tidak berbuat macam-macam . . .”

Muka Asih memerah.

“Ada juga sih... pegang-pegang sedikit... mumpung ada kesempatan...” ekspresinya yang tadinya dingin dan berwibawa berubah menjadi mesum diiringi tetesan air liur dari sudut bibirnya.

Mata Asih melotot ke arah Witho. Ingin rasanya ia melabrak laki-laki itu. Entah kutukan apa, begitu bangun dari pingsan, yang ditemuinya adalah dua orang aneh yang menjengkelkan. Tapi bagaimanapun juga, merekalah yang telah menyelamatkan dirinya. Setidaknya ia masih berhutang terima kasih kepada dua orang ini.

Tiba-tiba dari luar terdengar keributan. Penduduk desa berkumpul di depan rumah Lukman sambil meneriakkan nama Witho. Lukman terkejut dan memandang Witho, namun karena ia buta, ia memandang ke arah dinding dapur. Wajah Witho yang tadinya mesum kini mengeras dan berubah menjadi serius. Senyum di wajahnya hilang berganti dengan ekspresi kejam. Asih bingung, tak mengerti apa yang terjadi.

“Saatnya membunuh” kata Witho dengan nada datar dan dingin, sambil berjalan keluar rumah dengan golok di tangannya, siap menumpahkan darah.

“Apa yang terjadi? Kemana ia pergi?” tanya Asih gugup. Ia merasakan ada sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Tidak apa-apa, ia akan segera kembali” kata Lukman menenangkan Asih.

“Kau istirahatlah, supaya cepat sembuh” lanjut Lukman sambil berjalan keluar kamar dengan tongkatnya meliuk-liuk mencari jalan.

Asih tak berkata apa-apa. Ia melongok ke luar jendela, mencari tahu apa yang terjadi namun kerumunan orang menghalangi pandangannya. Suara sabetan golok mendesah memecah teriakan dan sorak-sorai orang-orang yang berkerumun. Percikan darah berkelebat di udara yang membuat kerumunan itu mundur agar tak terkena percikan. Hembusan angin yang tadinya segar kini teracuni bau amis darah.

Tubuh Asih bergetar hebat, dadanya sesak. Di hadapannya sedang terjadi sebuah pertumpahan darah yang ditonton layaknya sebuah hiburan. Sungguh, tempat apa ini . . .

Ia memaksakan diri melompat keluar jendela dan berlari ke arah kerumunan itu dengan teriakan histeris.

“Berhentiiiiiiiiiiiiiiiii...!!!”

Sorak-sorai itu terhenti dan semua mata memandang ke arahnya, ia menyeruak diantara kerumunan itu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia terjatuh ke dalam genangan darah dan di hadapannya tampaklah sebuah pemandangan yang mengerikan.

Witho berdiri dengan gagah menyandang goloknya yang berlumuran darah. Di hadapannya terbaring 3 sosok yang tak bernyawa lagi dengan isi tubuh yang berceceran di tanah.

Ya, tak salah lagi, Witho baru saja membantai 3 ekor sapi yang tak berdaya.

Ketegangan tadi membuat energi Asih terkuras habis, tubuhnya lunglai dan ia jatuh pingsan di antara sapi-sapi tersebut.

Golok Pembunuh Sapi Bagian I

Cerpen Denni Pinontoan: "Pohon Besar Itu".

Perkenalkan, aku Pinkan. Aku anak perempuan berusia 11 tahun. Aku tinggal di sebuah rumah kayu di sebuah wanua1 di bagian Selatan Minahasa. Tahun ini aku akan tamat sekolah dasar. Doakan, ya agar aku bisa lulus dalam ujian akhir yang dua bulan lagi itu. Aku memang butuh doa. Karena kata guruku, ujian kali ini sangat ketat. Soal-soalnya dikirim dari pusat dan nanti dibuka amplopnya ketika ujian akan dimulai. Aku harus memang butuh dukungan doa, agar aku dijauhkan dari cobaan untuk menyontek atau menerima bantuan dari guru. Sebab, guru juga kadang suka membocorkan soal-soal ujian. Sebenarnya bukan untuk pertama-tama melakukan perbuatan yang melanggar aturan, melainkan untuk membantu kami murid mereka yang tersayang.
Tapi, lupakan dulu ya, soal ujian itu. Toh, aku sudah belajar keras dan juga sudah meminta doa dari mama, papa, kakak dan kalian semua. Tuhan mana yang mau membiarkan anak-anak-Nya jatuh dalam ketidalulusan?
Ada persoalan penting yang ingin aku ceritakan pada kalian. Minggu lalu wanua kami heboh dengan kejadian tanah longsor di ujung wanua kami. Untung kejadian itu tidak sampai memakan korban jiwa manusia, kecuali beberapa pohon cengkih sansibar milik om Alo. Tapi ada juga yang perlu disayangkan. Sapi milik Om Yantje yang bernama Bongko itu, tewas tertimbun tanah. Sampai sekarang cuma ekornya yang tampak keluar dari timbunan tanah bercampur batu. Tubuh si Bongko yang malang perlahan tapi pasti sementara membusuk dalam tanah. Kasihan memang. Padahal, menurut cerita Om Yantje, si Bongko sedang mengandung anaknya. Om Yante dan istrinya, tante Neli aku lihat sangat sedih. Aku apa lagi, si anak perempuan kecil ini.
Warga di wanua kami memang belum melakukan apa-apa membereskan longsoran tanah itu. Sebab hujan baru berhenti kemarin. Hukum Tua2 bilang sudah menelepon ke pemerintah kabupaten untuk mendatangkan alat berat mengangkat timbunan tanah itu. Tapi, aku tak tahu mengapa hingga sekarang belum muncul juga alat berat itu. Warga pun hanya ramai membicarakan perihal tanah longsornya, yang merobohkan pohon cengkih dan membunuh si Bongko yang sedang bunting.
Sore ini kakek, ayah dari ibu datang ke rumah. Kedatangan kakek ke rumah selain sekedar untuk melihat keberadaan kami yang rutin dilakukannya, tapi juga untuk menanyakan kabarku. Bukan kabar soal apakah aman dari tanah longsor atau tidak, melainkan persiapanku untuk ujian akhir yang lagi dua minggu itu. Kakek memang selalu mengikuti perkembangan sekolahku, ini barangkali karena dia mantan guru di wanua kami. Kakek dulu kata ibu, adalah guru matematika di sekolah tempat aku bersekolah sekarang. Setelah memastikan bahwa aku sudah siap mengikuti ujian akhir, aku lihat kakek dan ayah bercerita di teras rumah.
Aku berada di dalam rumah sibuk mengisi latihan soal-soal ujian akhir. Antara aku dengan ayah dan kakek di teras rumah itu hanya dipisahkan oleh dinding rumah sehingga aku masih bisa menguping pembicaraan mereka.
"Makanya, apa kata para orang tua mestinya kita dengar. Jangan sekali-kali menebang pohon beringin itu. Kamu tahu, usia pohon itu sudah setua wanua kita. Masakan tidak dihormati lagi. Kami dulu, menebang cabangnya saja harus minta permisi." kata Kakek pada ayah yang duduk di kursi sebelahnya. "Pohon beringin itu ditanam oleh leluhur kita untuk menjaga wanua ini."
"Yah, ini barangkali karena musim hujannya sudah sangat sering sehingga tidak bisa tertahan lagi oleh tanah. Alam memang sudah berkehendak begitu untuk menegur kelakuan kita manusia di wanua ini yang telah sangat jauh dari Tuhan. Kalau soal bahwa pohon beringin itu adalah penjaga kampung ini, aku pikir itu tinggal cerita lama, yang sekarang telah menjadi takhyul. Masakan kita orang yang sudah Kristen masih percaya takhyul. Karena itulah sehingga Tuhan marah," ujar ayah.
Kakek tak langsung menanggapi pemikiran ayah. Segelas kopi hitam yang dihidangkan ibu, diraih kakek dari meja. Seteguk cairan berkafein itu masuk ke kerongkongannya. Sebatang rokok kretek menyusul kemudian di bibirnya. Segera setelah itu kakek pun melepaskan kepulan asapnya. Sedangkan segelas berisi teh panas untuk ayah masih diam mematung di meja, hanya uapnya yang menari-nari.
Setelah dua kali mengeluarkan kepulan asap rokok, kakek pun berkata, "Ini bukan takhyul, Rob. Untung bukan Yantje atau kita yang menjadi korban. Bongko itu mati tertimbun longsor karena memang penjaga pohon beringin itu meminta tumbal. Ini karena kita tidak menghargainya lagi," kakek berkata menjelaskan. Tangannya ikut bergerak. Sebatang rokok kretek itu masih terjepit pasrah di antara jari-jarinya yang berurat.
"Sudahlah, yah. Ini bukan soal tumbal atau penjaga pohon itu sedang marah. Ini karena wanua kita ini harus sadar diri. Lihat, perjudian, percabulan dan pencurian semakin hari semakin marak terjadi di wanua kita ini. Itu semua dosa, yah. Untung Tuhan menegur kita masih lewat tanah longsor yang korbannya hanya Bongko dan pohon cengkih sansibar. Coba kalau gempa yang membela tanah dan sakit menular, seperti flu burung atau Aids. Sudah saatnya orang-orang di wanua ini melakukan pertobatan massal," Ayah agaknya mulai terpancing mengkhotbai kakek. Ini memang besar kemungkinan terjadi, karena ayah selain sebagai PNS di kantor kecamatan, juga sebagai penatua3 di gereja kami, yang kerjanya adalah juga mengkhotbai orang.
Aku berhenti sejenak dari kesibukanku mengisi latihan soal-soal ujian akhir. Aku tiba-tiba terkejut bahkan bulu romahku sampai merinding mendengar percakapan yang sudah sangat serius itu. Aku pun keluar ingin ikut memberikan pendapat di tengah percakapan antara kakek dan ayah. Aku melangkah ke teras rumah dan berkata, "Begini pak, kek,..."
Belum selesai aku berbicara, ayah langsung memberi isyarat dengan jari telunjuknya agar aku tidak usah ikut berbicara seraya berkata, "Pinkan, ayah sudah berkali-kali bilang, kalau orang tua lagi berbicara, kamu tidak boleh mengganggu. Kamu masih kecil tidak boleh mengganggu percakapan orang dewasa."
Larangan seperti itu memang selalu aku dengar. Alasanya selalu sama, kata ayah, karena aku masih kecil. Ini tidak adil. Padahal, Yesuspun sangat menghargai anak kecil. Tidak demokratis dan egaliter kalau begitu. Padahal, aku pernah baca buku, katanya orang Minahasa dulu sangat demokratis dan egaliter. Semua punya hak bicara asalkan sudah tahu bicara dan tentu sopan. Tapi bagaimanapun aku harus bicara, percuma aku sekolah kalau tidak boleh mengemukakan pendapat. Aku harus bicara sekarang.
"Ayah..."
Sekali lagi ayah melarangku. Tapi kakek membela.
"Rob, biarkan Pinkan bicara," kata kakek membela. "Apa yang ingin kau katakan, Pinkan?"
Ayah rupanya tak bersikeras melarangku berbicara. Ayah pun tiba-tiba hanya diam tak memandangku. Kakek malah menatapku dan siap mendengar apa yang akan aku katakan.
"Begini, kek, tanah longsor itu, kata guru Pinkan di sekolah antara lain di sebabkan oleh erosi. Air hujan tak lagi meresap ke dalam tanah. Ini karena tak ada lagi akar pohon-pohon yang menahannya. Tanah di ujung kampung itu 'kan tak ada lagi pohon besar. Jadi kalau hujan datang, airnya langsung mengikis tanahnya," kataku mengutip kata guru IPA-ku di sekolah.
"Itu sebabnya, kata kakek kepada ayahmu ini, bahwa tanah itu longsor karena kita tak lagi menghormati kehidupan tumbuhan di sana. Kita seenaknya menebang pohon, tanpa minta permisi kepada penjaganya," ujar kakek membalas apa yang aku bilang.
"Tapi, bagaimana dengan kata alkitab bahwa manusia harus menguasai dan menaklukan alam ini?" kata ayah menyela.
"Tapi, yah, tidak harus rakus. Harus ada keseimbangan antara pemanfaatan alam dan pemeliharaannya," ujarku. Lagi-lagi aku mengutip kata guruku di sekolah.
"Benar, Pinkan. Dulu kakek masih melihat orang menebang pohon dengan memakai semacam gergaji besar yang digerakkan oleh tenaga dua orang. Waktu itu memang orang juga menebang pohon, tapi tidak terlalu merusak, karena yang diambil adalah kayu di hutan yang usianya sudah sangat tua dan cara penebangannya pun masih tradisional dengan mengikuti petunjuk para tua-tua. Selain itu karena memang orang masih percaya bahwa alam adalah sahabat karibnya. Antara manusia dan hutan misalnya masih dianggap memiliki kesatuan. Dan, meski memang agama menyebut penghormatan kepada pohon yang para leluhur kita lakukan sebagai berhala, tapi seingat kakek kampung ini tidak pernah terjadi longsor. Sekarang manusia sudah semakin rakus dan tidak menghormati alam. Di belakang rumah pun kita sudah bisa mendengar raungan gergaji mesin. Sementara hampir setiap hari lewat truk-truk besar yang mengangkut kayu yang di tebang di hutan kita," kakek memberi penjelasan panjang lebar.
Ayah aku lihat sedikit terkesima dengan penjelasan kakek sehingga tidak berbicara lagi. Aku pun ketika mendengar itu bergegas masuk ke dalam rumah mengambil kliping koran yang aku gunting dari sebuah koran harian lokal. Aku ambil kliping itu dan membacakannnya untuk kakek dan ayah. Begini isi berita itu,
"Kerusakan hutan di Sulawei Utara yang telah mencapai 60 persen, diduga kuat sebagai pemicu terjadinya banjir bandang dan tanah longsor yang mem-porak-porandakan sejumlah wilayah Sulut, selang tahun 2007. Kerusakan hutan di daerah ini telah mencapai 60 persen dari 788.691 hektar luas kawasan hutan yang ada. Kenyataan ini berimbas pada munculnya lahan kritis yang luasnya sudah mencapai sekitar 473.214 hektar. Sementara data lain menyebutkan bahwa laju keruskan hutan di seluruh Indonesia mencapai 2,8 juta hektar per tahun."
"Nah, itu dia. Ini karena manusia telah memusuhi alam. Ini antara lain ya, itu tadi karena manusia tidak lagi menghargai kearifan budaya yang telah ditinggalkan oleh para leluhur. Manusia sekarang menjadi liar karena berburu kaya. Hutan yang adalah kehidupan kita mereka rusak. Jadi jangan heran kalau alam juga marah. Ini sudah hukum alam," tandas kakek.
"Setuju, kek!" aku berkata semangat.
Ayah hanya diam tapi kentara sedang berpikir. Dia seolah-olah sedang menganalisa data dari kliping koran yang aku bacakan dan pemikiran kakek. Bahkan teh yang di meja itu aku lihat baru seteguk yang ayah minum. Tidak ada lagi tarian uap dari gelas itu. Sementara gelas kopi milik kakek tinggal dasarnya yang hitam. Mudah-mudahan diam ayah berarti perenungan untuk menjadi orang Kristen yang bertanggung jawab terhadap alam. Kalau kakek biarlah dia menjadi orang tua yang Kristen tapi tetap Minahasa. Sementara aku hanya berharap mudah-mudahan alam tidak cepat-cepat rusak. Aku masih harus menjalani kehidupan yang panjang.
Dan perlu kalian tahu, kalau nanti aku tak bisa lagi merasakan nikmatnya hidup di alam yang hijau dan lestari, yang aku tuntut adalah kamu semua, manusia-manusia dewasa, yang kata kakekku semakin rakus karena nafsu kaya dan berkuasa. Ingat itu!!

Pojok Suara Minahasa, 93,3 FM
Jumat, 25 April 2008 17:36 pm

Cerpen Cyanthi Manoppo: "Cincin Kaweng..."

Alkisah hiduplah Lintje dan Antje di desa Tomohon[1]. Antje lahir di tahun 50-an. Tiga tahun sesudahnya Lintje dilahirkan. Pada waktu itu, para tetua desa dan para orang tua lagi kegandrungan menamai anaknya dengan akhiran..-tje (Baca : -Ce). Selain Antje ada adiknya Martje dan Vence. Lintje memiliki 3 orang kakak yakni Katotje, Dortje dan Suntje. Tambahan pula teman sepermainan mereka si Sartje, Yantje dan Mintje. Maka, setiap hari Ibu Guru memanggil daftar hadir siswanya : Katoce, Dorce, Marce, Ance, Sarce, Yance, Lince, Mince, Vince, Sunce… Ya, berhubung usia mereka berdekatan dan keterbatasan prasarana, semua generasi –ce –ce di desa itu belajar bersama-sama. Rukun dan damai.
Lintje dan Antje selalu bersama-sama.
Rumah mereka berdekatan, orang tua mereka berkawan dan mereka selalu bersekolah di sekolah yang sama sejak SD yang jaraknya hanya 15 menit jalan kaki dari rumah hingga masuk SMP yang jaraknya 1 jam lebih 15 menit jalan kaki dari rumah. Maka bisa di duga mereka akhirnya menikah juga. Hidup rukun dan damai.
Tapi, Ini bukan kisah dongeng dari negeri antah berantah. Maka hidup rukun dan damai tidaklah mutlak.

Tsunami I
Saat itu olahraga adu semangat yang paling ramai adalah mengadu Ayam milik siapa yang paling jago di seantero kampung. Mereka yang ketagihan seperti saling menghormati norma baru yakni yang memiliki ayam paling jago kira-kira bisa disamakan dengan yang paling jago di kampung. Walah…padahal andil empunya para ayam jago paling banyak meneriaki para ayam dan memberi mereka makanan lebih dari takaran biasa. Tak tanggung-tanggung taruhannya dari Jagung sekarung sampai uang ratusan ribu rupiah.

Sebenarnya niat awal Antje menyabung ayam malam minggu itu bukanlah niat jahat. Antje bermaksud memberikan hadiah istimewa pas hari Valentin 14 Februari yang tinggal seminggu lagi, pada juwita puspita hatinya Lintje : membelikan coklat berbentuk buah hati bertuliskan I Love You yang hanya dijual di pertokoan kota Manado. Berhubung masih termasuk barang langka di kampung, biaya transportasi ditambah harga beli coklat setara dengan tiga kali hasil jualan di pasar.
Apa pasal ? Yach… seperti sikap dasar manusia, kalau ada cara mudah menggapai sesuatu mengapa tidak ? Tapi Antje salah perhitungan ketika dalam menyambung ayam niat awalnya berubah di tengah jalan. Hari itu jualan para pedagang sayuran laris manis, harga taruhan pun naik setinggi langit. Antje tak mau kalah dan kecoplosan menawar cincin kawin emasnya.
“Astaganaga…Antje, nyanda salah ngana se gadai itu cincin kaweng ?” teriak Ventje adik kandung Antje.
“Hush..kita pe ayam paling jago. Tenang jo kwa, nanti kita kase bagian MAR jangan bilang pa maitua neh !” seru Antje tak kalah semangat.

Roda kehidupan tidak ada yang tahu,
kata pujangga.
Kegagalan adalah awal kesuksesan,
kata filsuf.
Bahtera rumah tangga pasti ada riak kecil,
tutur Ventje selaku saksi, ikut nyambung
Demi Langit dan Bumi, nyanda sengaja cintaku
ratap Antje
Kita binci pa ngana, kalo minta cere bukang bagini depe cara,
tangis Lintje

Menjual cincin kawin untuk menebus kekalahan menyambung ayam bukanlah hanya riak kecil bagi seorang istri seperti Lintje. Hilang sudah cokelat valentine idaman malahan Tsunami menggemuruh mengalir deras di setiap sel darah Lintje.
Masalah Cincin Kaweng di keluarga Antje dan Lintje diredakan oleh si kecil Celia. Hhmm…sejauh ingatku, akulah yang mendamaikan Mama Lintje dan Papa Antje. Tepat seminggu perang dingin, tepat hari kasih sayang sedunia, aku yang masih cadel dan baru belajar menulis memberikan surat bagi mama dan papa.
Isi suratkku :
===============================================================
14 Februari,
Mama LinCE + Papa AnCE = ade CELiA
Celia sayang pa mama deng papa. Baku bae jo neh ??
===============================================================
Sampai sekarang, suratku dibingkai dan dipajang di ruang tamu. Padahal tulisannya cakar ayam alias tidak karuan. Haha..Dewasa ini aku baru tahu ternyata Om Ventje yang cerdik sangat berjasa mendamaikan mama papa. Isi suratnya diajarai Om Ventje selama seminggu penuh maka, selama 7 hari berturut-turut setiap selesai latihan menulis surat, Celia kecil mendapatkan permen Hopjes [2]
Masalah penggadaian cincin kawin demi valentines day akhirnya reda di hari valentines. Kembali pada kewajaran, Antje dan Lintje hidup rukun dan damai.
Sekali lagi,Ini bukan kisah dongeng dari negeri antah berantah. Maka hidup rukun dan damai tidaklah mutlak.
Lintje dan Antje hampir tidak pernah memiliki riak kecil dalam mengarungi bahtera rumah tangga mereka. Sebagai gantinya mereka langsung menghadapi Tsunami dan kali ini Tsunami menggemuruh mengalir deras di setiap sel darah Antje.

Tsunami II
Aku berumur 17 tahun kala itu. Celia, si keke yang berkulit putih menjadi bintang kelas di sekolahan bertekad melanjutkan belajar di kuliahan di ibukota. Sebagai anak semata wayang, mama Lintje dan papa Antje sangat besemangat untuk menyaksikan Celia bisa meraih gelar insinyur. Hanya saja tekad dan semangat harus bertempur dengan uang. Pertempuran yang sengit, dimana anak usia sekolah dengan keadaan ekonomi keluarga pas-pasan kalau tidak mau disebut orang miskin, pastilah tidak menyanggupi biaya spp, buku cetak, transport pergi-pulang kampung-kota-kampung. Belum lagi biaya tak terduga lain-lain.
Berdasarkan musyawarah tertutup - Bapak, Ibu dan Anak. Mama memutuskan : menjual cincin kawin untuk biaya kuliahku. Papa yang tahu memainkan perannya membuat mama harus sukarela menjual barang kesayangannya. Toh, cincin itu sudah tidak ada pasangannya, bujuk papa. Toh, tanpa cincin itu kita saling mencintai sampai tua, rayu papa.
Akhirnya waktunya tiba. Om Ventje datang hendak membeli cincin kawin mama.
Sudah satu jam. Tapi, cincin itu tidak bisa terlepas dari jarimanis mama.
“Aduh..Vence, kita nyanda batowo kasiang. Pe setengah mati skali, nyanda tacabu ini cincin kaweng “ seraya berusaha memutar, menarik, me…, me…, menarik cincin kawinnya
“Lince dapa lia kwa..riki so merah do ngana pe jare manis. Santai jo”
Waktu terus berdetak dan tak pernah mau berhenti
Detik ke-60 menjadi menit
Menit ke-60 menjadi jam
Dan jam ke-3, dentang itu mengundang Tsunami
“Mama, so basangaja sto kang ? Papa nda abis pikir, masa cuma mo sekaluar itu barang spanggal so tiga jam ? “
“Aduh.. Papa jang asal-asal malontok. Tanya kwa pa Vence, so goso sabong, minyak goreng, minyak kalapa, minyak tawon, nyanda talapas ini cincin”
“Papa jang baku sedu..Mo apa itu peda ? Aaaahhhh…mama nimau !! “
Hari Jumat, kantor perguruan tinggi hanya buka setengah hari. Karena itu papa jadi tidak sabaran dengan usaha mama melepas cincin kawin dari jari manisnya. Papa sudah mengatur agenda bahwa hari itu juga, pembayaran awal kuliahku harus terjadi dan papa termasuk orang yang tidak mau mengubah apa yang sudah direncanakan.

17 tahun dibesarkan mama dan papa, aku tentu saja mengenal mereka lebih dalam. Peda [3] itu hendak digunakan papa untuk memotong cincin emas yang sangat lengket di jari manis mama. Tentu saja wanita separuh baya seperti mama sangat ketakutan membayangkan bahwa jari manisnya bisa ikut putus dalam sekali tebas. Mama menangis keras dan mengulang kalimat yang sama dengan 13 tahun lalu saat Tsunami pertama melanda, “Kita binci pa ngana, kalo minta cere bukang bagini depe cara”
Itulah pertama kalinya aku terpikir, mungkin tanpa Cincin Kawin sebuah keluarga justru tidak akan pernah terpikir tentang perceraian.
Masalah cincin kawin kali itu diselesaikan si ABG Celia dan Om Ventje. Om Ventje membawaku mengikuti tes masuk gratis untuk siswa berprestasi. Aku masuk sebagai 5 besar dan memberi mama waktu 6 bulan atau sama dengan 1 semester untuk menurunkan berat badan hingga jari manisnya menjadi lebih ramping dan tanpa ditebas dengan parang, cincin kawin itu bisa dikeluarkan dan dijual oleh Om Ventje.
Siklus hidup manusia memainkan jemarinya.
Selesai kuliah, ditanya kapan kerja
Sementara kerja, ditanya kapan menikah
Sebagai Psikolog, Aku tentu menyadari kehendak mama dan papa untuk segera menimang cucu. Sebagai tameng agar tidak dipaksa untuk segera menikah, aku mengatakan pada mama dan papa bahwa aku benarlah serius hanya akan menikah dengan pria yang mencintai dan menerimaku apa adanya. Termasuk menerima kehendak anehku, menikah tanpa pernik Cincin Kawin.
Semuanya baik-baik saja. Aku hidup rukun dan damai dengan keluarga, teman, kolega, pasien… dan kekasih di belahan benua yang lain.
Lagi-lagi,Ini bukan kisah dongeng dari negeri antah berantah. Maka hidup rukun dan damai tidaklah mutlak

Tsunami III
Tepat Valentines Day, 14 Februari. Tiba saatnya Aku harus menanggulangi Tsunami ku sendiri.
Anaknya tante Martjee dan om Vintje tiba-tiba datang di tempat praktek, bukan kenalan biasa.
Marvin, pacarku semenjak SMU muncul sambil membawa gelar Master ekonomi dan pilihan kado di kedua tangannya. Dia memang selalu lebih pintar dari aku, to the point, tanpa basa basi dan sama-sama aneh kata sebagian orang.
“Celia…pilih yang mana ? coklat valentine untuk pernikahan ATAU cincin untuk persahabatan”
Haha…Celia yang anti dengan aksesoris bernama cincin tidak mungkin memilih barang itu kan ? Kurasakan tsunami ini bukan gemuruh yang meluap marah, tapi debar jantung kegugupan dan luapan kebahagiaan, karena terjawab sudah salah satu permohonan doa: Semoga, akulah empunya tulang rusuknya yang konon hilang satu.
Begitu tanganku menyentuh coklat valentine, Marvin mendekapku erat sambil berbisik :
Honey…
In the long run we are all dead[4],
In the short run we will marry!!

Menyambut hari ke-empat belas, di bulan kedua, tahun 2005



________________________________________
[1] Kota Tomohon dicapai melalui transpotasi darat 45 menit dari kota Manado, ibukota Sulawesi Utara
[2] Permen yang paling terkenal di Tomohon pada tahun 1960-an
[3] Parang, semacam pisau besar
[4] kalimat salah satu ekonom dunia

Cerpen Op's: "Manado Love Story"

“Ros, kiapa ngana*?”

Suara itu menyela haru yang nampak dalam kaca-kaca di bola mata ini.

“O, Nda*……!” Jawaban pendek yang searah dengan desah nafas panjang yang memaksa keluar setelah sesak dalam dada.

Entah apa melanda emosi ini.Sedih, Gundah, Gelisah.Melewati Mega Mall, Kawasan Ruko dan gedung-gedung yang tak beraturan sampai di parkiran Ritzy hotel, pikiranku kosong, tak ada apa-apa hanya seperti ruang kosong,gelap yang udarapun enggan menghuninya dan debu pun tak sudi meniti setiap permukaannya.

Mungkin inilah yang namanya berada di titik nol. Blank. Di titik dimana kita kosong, kita lelah dan letih dengan semua gejolak yang berkecamuk di dalam dada sedangkan kita tidak berhasil menuntaskannya dalam kenyataan dengan propaganda logika apapun. Mungkin hal seperti itu yang membuat banyak orang bunuh diri, untuk lari dari keadaan yang tak pernah bisa diartikan dengan ringan dan lenggang, dengan tenang dan enteng dan nyaman. Bahkan ketika harus melukis senyum terpaksa tak ada satu syaraf yang mampu mengerjakannya.

Padahal, Malam dengan pemandangan dari kamar ini adalah yang paling kusukai, gelap, dengan lampu-lampu jauh di belakang gedung-gedung itu para nelayan yang menjaring ikan di pesisir pantai Manado, Seperti kunang-kunang. Sepi. Sudah seharusnya ala mini membantuku tapi tetap tidak berhasil atau karena hanya otakku tak mampu menerjemahkan gejolak apa yang dialami mereka, ketakutan dan malapetaka yang sedang bergumul dengan ikan-ikan dalam jaring itu. Atau gundah yang merenggut rasa para nelayan itu. Kendati TV yang dari tadi kusetel ke program yang paling kusuka telah membuat sedikit kerusuhan di dalam ruangan kecil ini. Kuletakkan pisau itu di meja. Usai mengunyah dua buah irisan apel merah kuambil Laptop dan mulai mengetik beberapa baris kalimat. Lihat, aku bisa dengan tenang dan nyaman memainkan jari-jari kusut ini di atas tuts-tuts keyboard laptop butut ini.

Malam ini, Sepertinya bergerak perlahan dan lama sekali dan sangat lelah tidak seglamor penampilannya dengan lampu-lampu jalan yang menjulang sendirian atau lampu-lampu kecil yang berkejar-kejaran di sepanjang jalan Boulevard. Tapi hari telah Lelah berjalan menghabiskan detik-detik yang penat. Otakpun lelah memikirkannya. Di sudut jalan sana ada sepasang insan yang sedang memadukan emosinya masing-masing. Semoga saja berhasil, Sedang aku sedang berusaha sekuat tenaga mencocokkan hati dan pikiran serta emosi untuk sekedar menimati malam ini. Oleh karena tadi siang kudapati diriku lelah melewati jalan yang menurut orang lain itu benar.

“Brapa hari ini ngana laeng skali, Roza?”

masih dengan pertanyaan yang sama yang selalu menyulam semua emosi dalam satu kumparan benang yang sebenarnya sudah membuatnya malimbuku.

Lelah menjadi baik. “ Nda eh! Biasa-biasa jo nda ada masalah, ngana tenang jo!” sehingga tidak pernah merasa bahagia sekecilpun. Saat ini seharusnya aku bahagia, dicintai, menikmati semua kehidupan yang kulewati. Dari kenangan naek Hoya yang hanya setiap bulan sekali, film Rano Karno, Lydia kandow, yang terlalu dewasa untuk ku tonton saat itu dan kusaring tapi otak ini sudah bisa menerima dengan baik Kemudian goyangan New Kids On the Block, Debbie Gibson, Tommy Page yang wajahnya pernah selalu menghiasi setiap buku tulis yang dijual di toko buku, yang kupunya saat di kelas 3 SD, dan si Unyil tidak pernah kutonton karena memang tidak suka boneka dan lebih suka baca majalah Anita Atau lagu-lagu melankolisnya Richard Marx, Koleksi Skuls di masa remaja sampai masa-masa dengan sepatu bergaya boot Dr. Martin itu,Baju gaya Baby doll, rambut gaya poni kroll mejeng berjam-jam di President shopping sampai Film Titanic dan Matrix di T.O. Atau bisa dikatakan dari masa kejayaan Soeharto sampe SBY sekarang. Apa yang sudah kudapat? Selain hidup dengan lelah.Semua itu tidak ada arti. Aku hanya bernafas di dunia itu, hanya bergerak dalam lingkungan itu yang sangat membosankan buatku. Tidak ada.

Aku telah menikmati semuanya Tuhan. Sampai Tidak ada larangan, tidak ada hambatan lagi, tidak ada dera dan tidak ada airmata. Yah, sampai di detik ini, aku sudah lelah menjadi seorang yang baik, penyabar, periang, takut berbuat sesuatu yang merusak nama baik, takut dicap orang aku bukan orang baik-baik. Karena aku berasal dari keluarga yang cukup terpandang dan terhormat di kota ini.Dan aku lelah, toh selama ini aku selalu dan bahkan sering tersenyum sedang hati sedang menangis. Aku menampakan diri sebagai perempuan yang paling sempurna tanpa satu cacat cela di mata orang banyak. Hanya Tuhan yang tahu. Atau memang aku diciptakan untuk itu. Menyenangkan orang lain, sedangkan aku tersiksa. Membangun orang lain sedangkan aku lemah. Menyuruh orang lain berlari sedangkan aku cacat sedang berjalanpun terseok-seok. Semua tapi tidak ada yang sangat membutuhkan aku hidup.

“ Roz, sadar ngana e, O Tuhan ?” itulah penggalan kalimat terakhir yang bisa kudengar dari mulut perempuan yang berdiri depanku, yang adalah teman baik, Selalu dekat kemana aku pergi diapun pergi. Cukup akrab dengan semua kegilaan, semua kesenangan dan semua kesedihan yang pernah kuciptakan.Dia diam saat ini. Tak bergerak hanya bibirnya yang komat-kamit. Entah apa yang dia khotbahkan otakku tak mampu menerjemahkannya. Aku telah mati mungkin.

Hari ini adalah hari pertama aku kembali ke tanah ini, setelah meninggalkannya hampir lima tahun yang lalu. Aku kembali, bukan untuk keluarga atau sanak saudara, atau teman atau siapapun. Aku kembali untuk mengembalikan keberadaan tubuhku ke tempat pertama kali dikirim surga ke bumi dan untuk mengusik sesuatu yang ganjil dalam diriku.

Air bening yang tidak pernah kuinginkan bergulir melewati pipiku seketika basah dan terhenti di sudut bibirku. Tuhan, inikah jalan itu? Bukankah aku adalah seorang wanita paling kuat yang pernah kau ciptakan, aku bisa melewati semua hal yang paling buruk sekalipun dengan baik, sesuai dengan skenario yang Kau tulis untuk kulakoni. Bukankah aku adalah orang-orang yang bisa memenangkan pertarungan hidup? Tapi mengapa hari ini aku lelah, Tuhan. Aku lelah mencari ketenangan itu. Bukankah setiap hari aku mencarimu ke gereja tapi di sana yang kudapati hanya pandangan orang-orang yang bola matanya hampir mau melekat ke badanku. Aku mencari Engkau yang tersenyum di bibir orang-orang itu. Setiap hari aku mencoba mencari Tuhan lewat nyanyian, lewat doa tapi Tuhan tidak pernah ada untukku. Dan tidak ada seorangpun yang bisa membantuku melewati hari-hari ini.

Pemilik suara itu tiba-tiba beranjak, pamit dan pergi. Sebenarnya dia tahu situasi ini bukan saatnya bercanda. Dia membiarkan aku mengemas waktu ini untuk menenangkan diri. Yah, ada saatnya manusia itu harus menangis sendiri dan tertawa sendiri dan bahkan bercinta sendiri.

Cinta? apa itu? Cinta kah namanya? Aku tidak pernah tahu apa artinya itu walaupun telah kusimpan dalam memori ribuan definisi cinta dari para ahli tapi tidak ada yang bisa menerjemahkannya dengan benar. Dan hari ini aku telah bercinta dengannya karena besok aku akan menghabisinya seperti Apel itu. Karena dia harus pergi bersama-sama denganku kemanapun aku pergi.

Malam ini udara membuat semua roh yang bersemayam dalam diriku gerah. Aku harus keluar. Aku harus berjalan keluar. Seperti ada yang menuntunku keluar dari ruangan kamar ini. Menuju area trotoar sepanjang jalan Sam Ratulangi dan tak lebih dari lima puluh meter dari tempatku berdiri. Indera-inderaku mengajak organ-organku bergerak menuju sekumpulan orang yang sedang mengerumuni sesosok mayat yang sudah bersimpah darah di sebuah jalan sepi. Seorang Perempuan yang sudah mati. Itu temanku itu tadi, Teman yang sangat dekat denganku.Mati? Dia sudah tak bernyawa.Siapa yang membunuhnya? Bukan aku. Bukan.Tuhan tahu itu. Tapi mengapa pisauku yang tergeletak di samping tubuhnya. Baju itu punyaku. O, Tidak. Bukan aku. Atau? Aku? Bukan. Aku tidak membunuh. Aku. Aku tahu siapa pembunuhnya. O Tuhan. Tidak.

Orang-orang itu sangat riuh ketika polisi mulai berdatangan ada yang berkata “ de pe nama Roza, dia ba bunung diri”…………

*kiapa = kenapa/ada apa?

*ngana = kamu?

*nda = tidak

*malimbuku = kusut dan menyimpul -untuk benang/tali

Cerpen Denni Pinontoan: "Tuhan"

Aku, Ema, seorang anak perempuan berusia 11 tahun. Sekarang duduk di bangku sekolah dasar kelas lima. Sebenarnya di akte kelahiran nama lengkapku adalah Rema. Teman-teman di sekolah yang suka memanggilku Ema. Aku tak tahu dengan jelas apa arti namaku itu. Kata ibu, sebenarnya tidak ada arti khusus untuk nama itu.

“Ayahmu yang memberi nama itu. Tak tahu, ia cuma menyebut, nama Rema enak di dengar,” begitu kata Ibu suatu hari ketika aku bertanya tentang arti namaku itu.

Sebenarnya bukan soal nama Ema atau Rema yang ternyata tidak punya arti khusus itu yang sekarang ini menggelisahkan hatiku. Kegelisahaanku lebih kepada kenyataan-kenyataan hidup ini. Aku gelisah melihat seorang anak laki-laki yang seumurku di persimpangan jalan itu yang kurus kering, berbaju kumal dan dikelilingi lalat biru. Aku juga gelisah melihat para Pol PP di kota kami yang menertibkan warung milik orang tua temanku, Uti. Aku sangat gelisah melihat di televisi pejabat yang dituduh melakukan korupsi tapi masih santai memberikan penyataan membela diri kepada para kuli tinta. Aku juga gelisah, dengan kesulitan yang ibuku alami ketika akan membeli sembako dan minyak tanah karena harganya tiba-tiba naik dan langkah.

Aku lebih gelisah, ketika tahu ada kelompok di sebuah agama yang mengklaim bahwa Tuhannya yang paling benar. Tuhan di agama lain, kata mereka, salah. Ada penutupan rumah ibadah yang tidak dilakukan oleh pemerintah karena tidak memiliki ijin, tapi justru dilakukan oleh kelompok radikal dalam sebuah agama. Bahkan, aku menjadi sangat gelisah ketika bom bisa saja tiba-tiba meledak di sekolah kami karena keganasan para teroris yang mengaku sedang membela Tuhannya itu.

Anehnya, ayah, ibu, para guru di sekolah dan para tetanggaku, ternyata tidak gelisah pada peristiwa dan hal-hal yang aku gelisahkan itu. Mereka justru sedang gelisah dengan aku. Mereka heran dan menjadi gelisah, ketika anak seumurku sudah berpikir dengan penuh kegelisahan fenomen-fenomena sosial dan politik itu. Mereka heran dan sulit percaya kalau aku, Ema, anak perempuan yang baru duduk di kelas lima SD ini sudah bisa memberi komentar seperti orang dewasa, dengan bahasa-bahasa teknis peristiwa atau fenomena-fenomena itu. Mereka yang gelisah, menjadi gusar, bahwa aku yang masih bocah ini sudah berpikir hal-hal yang menurut mereka, bukan duniaku itu. Kata mereka aku lebih baik belajar lagi menghitung dan membaca sehingga menjadi pinter, daripada menggelisahkan fenomena-fenomena itu. Itu bukan urusanku, kata mereka.

Sebenarnya aku pernah berkata kepada mereka, bahwa kegelisahanku terhadap semua fenomena itu datang sendiri. Aku tidak tahu roh apa dan darimana yang menggerakan hati dan pikiranku untuk menjadi gelisah dengan semua itu. Ia seperti kekuatan magis yang datang dari alam gaib.

“Kegelisahanku ini tidak sama dengan calon kepala daerah yang tiba-tiba menyatakan keprihatinan terhadap kemiskinan dan kebodohan. Aku tidak sama dengan mereka yang datang memberi bantuan sembako dengan harapan mendapat dukungan suara waktu pemungutan suara. Sungguh mati, aku tidak merekayasa semua itu. Masakan anak sekecilku ini sudah bisa membuat rekayasa politik? Kan sebenarnya itu yang lebih aneh, daparida kegelisahanku ini?” begitu argumenku kepada Pak Guru Odi yang menanyakan keanehan pada diriku yang lihat itu.

Banyak orang memang merasa bahwa ada yang aneh dalam diriku. Aku sebenarnya menganggap ini biasa-biasa saja. Bukankah nilai agama dan budaya mengajarkan begitu, bahwa manusia harus memiliki kepekaan terhadap penderitaan manusia lain, bahkan alam ini. Om Beni, yang sehari-sehari bekerja sebagai dosen di salah perguruan tinggi di kota kami, lebih positif melihat keberadaanku ini. Katanya pada ayahku, bahwa aku ini tergolong anak yang jenius. Aku, katanya harus dibimbing dengan baik dan terus dsekolahkan sampai ke perguruan tinggi karena aku memiliki potensi intelektual untuk menjadi pemikir di masa depan. Betulkah? Aku tidak tahu. Mudah-mudahan saja Om Beni benar.

Karena ini ternyata menjadi masalah serius bagi ayah dan ibu, para tetangga serta guru-guruku di sekolah, ayah kemudian berusaha melakukan berbagai cara untuk mengatasi persoalan ini. Tadi malam ayah mengungkapkan rencananya mendatangkan pendeta ke rumah kami besok pagi untuk mendoakan aku.

Aku bingung, kenapa ini menjadi masalah serius? Bukankah siapapun dia, punya kewajiban untuk mengungkapkan kegelisahannya terhadap fenomena-fenomena hidup itu? Dan siapapun juga mestinya kan punya hak untuk mengungkapkan dalam bentuk tindakan kegelisahannya terhadap persoalan yang sedang dihadapi. Aku juga bingung kenapa harus pendeta yang datang, kalau memang ini membutuhkan doa? Bukankah ayah, atau ibu bisa berdoa? Bahkan merekalah yang mengajarkanku berdoa sebelum tidur, hendak makan, bangun pagi dan di hal-hal tertentu lainnya.

“Kenapa ini menjadi masalah serius?” tanyaku kepada ayah tentang rencana itu.

“Ema, kamu harus tahu, bahwa kau ini bukan anak biasa. Kamu lebih suka menonton siaran berita atau dialog daripada menonton Naruto. Kamu akhirnya menjadi malas ke sekolah minggu, karena menurutmu itu tidak cocok denganmu. Ketika berbicarapun isinya bukan soal siapa nama presiden RI pertama dan seterusnya. Kamu juga tidak hafal nama menteri-menteri kabinet sekarang ini. Bahkan lebih parah lagi kamu tidak tahu nama bukit tempat Yesus disalib. Ini masalah serius, Ema!”

“Tapi kenapa harus pendeta yang mendoakanku, yang menurut ayah ini dilakukan karena aku anak aneh?”

“Ema, pendeta itukan adalah hamba Tuhan yang diurapi untuk memberi pengajaran dan tuntutan rohani kepada kita sebagai umat. Jadi, pendetalah yang tepat untuk mendoakanmu,” jawab ayah.

“Oke. Oke kalau begitu. Silakan saja pendeta itu datang ke rumah. Siapa tahu, berdoa ke langit minta coklat jatuhnya batu,” kataku agak kesal.

“Hei, anak kecil kamu jangan keterlaluan, ya!” Ayah juga agaknya ikutan kesal.

“Maaf, ayah. Ema hanya bercanda. Masakan tidak boleh bercanda?” kataku sambil lalu.

“Kalau bubur yang menjadi nasi, seperti masakan ibu kemarin, boleh kau tertawakan. Tapi ini masalah serius, Ema,” ayah berkata dengan sedikit marah.

“Bukan bubur menjadi nasi, ayah. Tapi, nasi menjadi bubur. Begitu,” kataku mengkoreksi kalimat ayah yang salah itu.

“Iya. Iya, maksud ayah begitu. Kamu, sok tahu saja,” ayah tak lagi marah karena sedikit malu salah bicara.

“Baiklah ayah kalau begitu rencananya. Ya, besok aku siap didoakan oleh pendeta. Sudah dulu, ya, ayah, Ema mau menonton berita dulu. Ema mau tahu perkembangan kebijakan pemerintah terkait dengan usaha pengentasan kemiskinan. Kabarnya pemerintah telah menyiapkan anggaran jaminan pengaman sosial sebesar Rp.1,432 triliun untuk membantu 19,1 juta keluarga miskin. Bantuan tersebut akan diberikan sebesar Rp.75 ribu per kepala keluarga mulai Maret 2008. Ya, lagi-lagi pemerintah menerapkan kebijakan yang rawan penyimpangan. Kasihan rakyat miskin yang hanya dihargai dengan angka-angka rupiah seperti itu,” kataku menutup pembicaraan itu.

Keesokan paginya.

Pendeta yang dimaksud ayah datang memang tepat waktu. Waktu itu sebenarnya masih pagi, kira-kira pukul 05.30. Sebenarnya jam-jam seperti ini aku harus bersiap-siap ke sekolah, tapi kata ayah, untuk hari ini aku tak usah sekolah dulu. Ayah telah mengirim surat ijin ke sekolah.

“Selamat Pagi, Ema,” sapa seorang laki-laki dewasa yang ternyata adalah pendeta itu. Ia telah menunggu di ruang tamu. Waktu itu aku baru keluar dari kamar.

“Selamat pagi juga Pak Pendeta. Apa kabar?” balasku.

“Puji Tuhan, sehat walafiat,” jawab Pak Pendeta. “Kalau kamu, Ema?”

“Ya, seperti yang Pak Pendeta lihat, baik-baik dan sehat jasmani maupun rohani.” kataku dengan nada biasa.

“Puji Tuhan kalau begitu. Kamu anak manis Rema,” pendeta itu berkata.

“Pendeta juga manis,” kataku menggoda.

Ayah dan ibu yang duduk mengapitku memandangku dengan tatapan yang penuh isyarat agar aku lebih sopan lagi berbicara dengan Pak Pandeta. Si pendeta yang duduk langsung berhadapan denganku tampaknya mengerti itu.

“Rema, kamu ini anak manis,” Pak Pendeta berbicara. “Kamu anak perempuan yang manis. Duniamu adalah dunia anak kecil, yang mestinya lebih banyak meluangkan waktu untuk rekreasi dan sudah tentu belajar dan mengerjakan PR yang diberikan oleh ibu dan bapak gurumu di sekolah. Tidak usahlah dulu kau memikirkan hal-hal yang belum menjadi urusanmu.”

Itulah yang aku duga sebelumnya, bahwa menyelesaikan masalah ini hanya akan menyudutkan aku. Bukankah menyudutkan namannya ketika ayah, pak pendeta, guru-guru di sekolah dan tetangga kemudian seolah-olah menganggap apa yang aku lakukan selama ini adalah salah?

“Oh, jadi begitu ya, Pak Pendeta. Rema cuma ingin bertanya. Apakah yang yang Rema lakukan ini, yaitu merasa gelisah dengan berbagai bentuk kejahatan hidup ini adalah salah? Kenapa justru menurut orang dewasa ini sebagai sesuatu yang tidak wajar? Kenapa, Pak Pendeta?” Aku bertanya dengan serius.

Ayah memandangku dengan wajah yang tidak senang. Barangkali ia ingin berkata bahwa aku jangan banyak berkomentar atas apa yang Pak Pendeta katakan. Aku mengerti itu. Tapi, keinginanku untuk menjelaskan semua hal terkait dengan pandangan mereka terhadap diriku mengalahkan isyarat ayah itu. Akupun segera bersiap-siap memberi jawab atas penjelasan selanjutnya Pak Pendeta.

“Ya, Pak Pendeta maklum dengan sikapmu. Tapi yang kami khawatirkan bahwa nantinya kamu akan menjadi anak yang tidak normal. Kamu tidak seperti anak-anak lain yang menikmati dunia anak,” Pak Pendeta beretorika.

“Ha…aku akan menjadi anak tidak normal?!” aku terkejut setengah mati dengan jawaban dari pemimpin umat itu.

“Maksud Pak Pendeta, kamu ini bisa menjadi lain dari anak-anak sebayamu,” Pak Pendeta membalas.

“Rema pikir, inilah akan persoalannya sehingga semua ribut ketika Rema menyatakan kegelisahaan terhadap persoalan-persoalan hidup itu. Menurutku, ini menjadi soal karena kebanyakan kita, dan terutama manusia-manusia dewasa yang banyak itu sudah tidak biasa lagi memikirkan atau bahkan melakukan hal-hal yang baik, yaitu soal perdamaian, penegakan keadilan dan kesejahteraan. Manusia dewasa sudah menjadi individualis. Hidup orang dewasa yang kita lihat justru hanya mereduksi makna hidup. Orang dewasa berlomba-lomba memenuhi keinginan berkuasa dan kaya saja. Kalau begitu Rema ragu, kalau orang-orang dewasa sekarang ini benar-benar percaya Tuhan, termasuk Pak Pendeta,” aku berkata sedikit menyerang.

“Cukup Rema! Kamu memang sudah keterlaluan. Siapa yang mengajarkanmu bersikap tidak sopan terhadap Pak Pendeta?! Rema…” ayah berkata dengan emosi sehingga tidak melanjutkan kalimatnya itu. Ia sangat marah dengan sikapku itu.

“Robi,” Pak Pendeta berkata kepada ayahku dengan tenang. “Biarkan anakmu bicara.”

Mendengar kalimat Pak Pendeta itu, ayah hanya bisa memandangku kecewa.

“Rema. Maksud kami sebenarnya baik. Ini sebenarnya soal dirimu, masa depanmu dan kebahagianmu. Kalau kamu sudah terbeban dengan segala persoalan itu, kamu tidak bisa lagi merasakan senangnya masa kanak-kanak. Semua ada waktunya, Rema,” Pak Pendeta berkata dengan tenang. Ia tidak seemosi ayah.

Aku hanya diam. Bukan karena sudah tidak ada jawaban, tapi hanya agar tidak ada ketegangan lagi.

“Ibu dan ayah, serta Pak Pendeta, tidak tega melihat kebahagianmu hilang hanya karena memikirkan hal-hal itu.” Ibu yang dari tadi hanya berdiam akhirnya bicara juga.

Aku sebenarnya berusaha menahan agar tidak bicara lagi. Tapi, aku ternyata tidak tahan untuk menjelaskan semua ini. Aku akhirnya harus bicara lagi.

“Ayah, Ibu dan Pak Pendeta. Rema tidak bermaksud mau berbantah-bantahan dengan kalian semua. Tapi, tolong mengertilah dengan keadaan Rema ini. Maaf kalau Rema sudah lancang berbicara. Dan maaf juga kalau Rema harus bicara lagi.

Begini: Rema percaya Tuhan, dan agama. Tapi, terus terang Tuhan dan agama yang Rema percayai sekarang ini hanya diajarkan dan diturunkan oleh ayah dan ibu. Kepercayaan ayah dan ibu terhadap Tuhan juga diturunkan oleh kakek dan nenek, dan seterusnya begitu. Kepercayaan kita ternyata tradisi saja. Tidak kurang tidak lebih. Pak Pendeta apalagi. Selain awalnya kapercayaan itu adalah juga diturunkan oleh orang tua, tapi juga ini kemudian diperkuat oleh jabatan Pak Pendeta sebagai pemimpin umat yang mengabdi kepada gereja sebagai lembaga. Persoalan Rema yang berikut, karena kepercayaan kita kepada Tuhan hanya karena tradisi dan tuntutan lembaga agama, maka yang terjadi, kita kemudian menjadi pasif menyikapi fenomena kemiskinan yang kian meluas, ketidakadilan yang terjadi di mana-mana. Kita kemudian menjadi orang munafik,” aku berkata menjelaskan.

Inilah ternyata waktunya bagiku untuk menjelaskan kegelisahaanku pada kepercayaan kepada Tuhan dan agama, yang berwujud pada sikapku yang tidak senang dengan berbagai fenomena jahat itu.

Karena mereka tidak bereaksi dan tampak masih menunggu apa yang akan aku katakan lagi, aku pun melanjutkan penjelasanku.

“Terus terang selain kegelisahan yang tampak itu, dalam diriku juga sedang terjadi pergolakkan. Kepercayaan kepada Tuhan dan agamaku ternyata diinterupsi oleh semua kenyataan itu. Di mana Tuhan ketika semua itu terjadi? Apakah Dia sengaja membiarkan semua ini terjadi? Aku kemudian masih harus lagi mencari Tuhan. Aku tidak menghentikan langkah kaki mencari Tuhan hanya di agama ayah dan ibu serta Pak Pendeta. Aku sedang berusaha mencari jawab atas semua itu. Dan, aku, Rema, anak perempuan kecil, yang menurut kalian aneh ini, di tempat ini menemukan sebuah kesimpulan atas pencarian semua itu, bahwa Tuhan tidak seperti yang kita bayangkan, sebagai sesuatu yang tak bernama tak berwujud dan berada di seberang sana. Tuhan yang sesungguhnya adalah kita yang telah mencapai tahap akhir proses hidup. Dan proses itu sebenarnya adalah jalan menuju kesempurnaan hidup. ‘Aku’ yang telah berada untuk orang lain, telah memberi makna bagi kehidupan ini dan telah ikut berjuang memanusiakan manusia, adalah capaian akhir proses perjuangan hidup kita. Di situlah kita menjadi Tuhan. Itu penjelasanku. Semoga dimengerti,” aku mengakhiri penjelasanku.

“Kalau begitu, Tuhan tidak seperti pemahaman kita, sebagai yang sakral dan suci karena ketidaberwujudannya. Apakah ini bisa menjawab sikap orang beragama yang mengatasnamakan Tuhannya kemudian meledakan bom untuk membunuh? Apakah ini bisa menjelaskan sikap kita yang kemudian menjadikan Tuhan seperti barang dagang yang dijual di tanah lapang? Bagaimana dengan persoalan klaim kita kepada kebenaran yang abstrak terhadap Sorga dan Neraka yang selalu kita sebut berada di seberang sana dan merupakan konsekuensi dari dari keberadaan kita di sini, di dunia ini? Apakah ini juga kritik terhadap aku, yang selalu mengkhotbahkan nama Tuhan di mimbar namun tidak mengerti dengan kegelisahanmu terhadap kemiskinan dan ketidakadilan yang selama ini agama sebagai lembaga abaikan? Rema, aku mengerti sekarang.” Pak Pendeta berbicara dengan penuh kelegaan. Ia seolah-olah baru mendapat pencerahan atas kebutaannya selama ini terhadap arti menjadi manusia.

Ayah dan ibu, tak mengeluarkan banyak kata. Mereka diam mematung memandang aku. Pak Pendeta mengangguk-angguk. Rupanya dia setuju dengan pemikiranku.

Aku, yang sedang mencari Tuhan ini, dalam posisi duduk manis. Aku merasa lega dan bahagia. Aku pikir inilah kebahagianku di masa anak-anak ini. Aku senang telah mengawali proses hidup yang masih panjang dengan sebuah kesadaran tentang proses menjadi menuju ke kesempurnaan. Aku baru di awal proses panjang menjadi Tuhan.

Tomohon, 12 Februari 2008