Tabea Waya e Karapi!

Sastra for Minahasa Masa Depan!

Mengapa sastra (baca: tulisan)?

Sebab tulisan adalah bentuk kasat mata dari bahasa yang adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasa atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.


Kemudian: Mengapa pake Bahasa Manado? No kong kyapa dang?

Karena tak ada lagi bahasa lain yang menjadi 'lingua franca" di se-enteru Minahasa hari ini selain bahasa yang dulunya torang kenal juga sebagai "Melayu Manado".

Yang terutama adalah bahwa lewat sastra kita dapat kembali menjabarkan “Kebudayaan Minahasa” hari ini. Dengan menulis kita dapat kembali meluruskan benang kusut sejarah Bangsa Minahasa. Lalu, lewat tulisan, kita menggapai keabadian, io toh?



Tulisan Paling Baru

ini tong pe posting terbaru.
Tampilkan postingan dengan label Naskah Teater. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Naskah Teater. Tampilkan semua postingan

Naskah Teater Andre GB: "Tentang Penantian".

DAFTAR PEMERAN:
1.Sosok I (laki-laki/mayat)
2.Sosok II (perempuan/mayat)
3.Sosok III (laki-laki/penarik tandu)
4.Sosok IV (perempuan/wajah duka)
5.Sosok V (laki-laki/penari 1)
6.Sosok VI (perempuan/penari 2)

Terdengar musik mengalun. Sedang di tengah panggung terdapat dua buah bangku dari kayu panjang yang tanpa sandaran punggung dan sandaran tangan diletakkan sejajar. Posisi dua buah bangku tersebut adalah vertikal. Memanjang memotong panggung. Terdapat jarak sekitar dua depa laki-laki dewasa diantara kedua bangku tersebut. Dan sebuah loyang hitam (bisa terbuat dari plastik atau kaleng) berada sebagai pemisah kedua bangku kayu tersebut. Dalam loyang tersebut, ada berbagai jenis tangkai bunga yang semuanya terbuat dari plastik. Sangat banyak hingga menggunung didalam loyang tersebut. Sedang di kedua sisi bangku kayu tersebut ada dua buah gundukan tak dikenali yang diselimuti oleh kain hitam seutuhnya. Lalu di sisi luar yang semakin mengarah ke pinggiran sayap panggung, terdapat tungku kecil yang mengepulkan asap berbau kemenyan. Asap putih namun pekat. Sedang di sekeliling semua itu, ada nyala lilin yang melingkari. Tak kalah menyengat bau pewangi mayat yang ikut meramaian kelam.
Di atas kedua bangku kayu tadi, masing-masing terbaring sosok tubuh. Di bangku sebelah kanan (arah kiri penonton) terdapat tubuh perempuan berjubah destar terusan bermotif bunga. Warna-warninya begitu semarak. Kepalanya berada di depan panggung, sedang kepala sosok tubuh yang disebelahnya berada dalam posisi yang berlawanan meski kedua tubuh sosok itu sama-sama memandang keatas. Sedang diatas bangku kayu yang terletak disebelahnya, terdapat tubuh seorang lelaki. Telanjang dada. Sedang celana panjang yang selimuti kakinya berwarna hitam tanpa motif. Menelan pekat busana sosok disebelahnya. Tangan kedua tubuh ini terjalin dan menyatu di atas dada. Menuju ketenangan abadi. Sedang dari atas panggung tampak berjatuhan serpihan kelopak kembang kamboja berwarna putih. Jumlahnya seperti salju.
Salju kelopak kamboja berhenti ketika muncul sosok lain dari sayap kiri panggung.

Sosok III: (Dari arah sisi kiri panggung muncul dengan wajah tertunduk dengan langkah pelan dan berat, menarik sebuah tandu yang terbuat dari kayu dan dianyam dengan rotan hutan. Di atas tandu tersebut terdapat sebuah sarang burung yang terbuat dari ilalang liar, tiga buah nisan beton belum bertulis nama, dan sebilah parang panjang berlumur darah hingga mengeluarkan bau amis. Ada juga beberapa daun kering berukuran besar diatasnya. Menjadi alas dari bangkai ayam jantan yang juga termuat di atas tandu tersebut. Rambutnya yang basah terurai kebawah sedikit menutupi wajahnya.)
(Berjalan terus hingga ke tengah panggung. Tepat membelakangi loyang dan menghadapi sebatang lilin tunggal. Tandu terlepas dari genggaman hingga menghempas tanah. Wajahnya kini diangkat tegak. Terlihat jelas duka dan amarah berpeluk jadi satu. Beberapa saat mengelilingi lilin tersebut lalu kemudian jatuh tersungkur. Tangis yang tertahan terdengar darinya.)
(Mengambil salah satu nisan tak bernama tersebut lalu dengan meski terlihat kasar mengacungkannya ke langit dengan kedua tangannya. Di sertai raungan parau pedih)
Ini adalah sisa dari mezbah nazarku. Janji dan rindu yang dianyam oleh luka menjadi satu. (Nisan secara perlahan mulai diturunkan, kemudian dengan tangan sebelah kiri di sangga berdiri). Ini adalah kelana sukmaku menembus batas sepi. Pelangi yang gagal kulukis di atas bebatuan, cermin yang retak ketika salju senja dan menua, purnama yang yang kutitipkan namun hilang dicium sajak-sajak amis.
Ini adalah kenajisan Tuhan yang bersemayam di pucuk air yang kemarin dikirim kebumi. Tentang tandusnya senyum yang kusalib di sudut-sudut rindu. (Meraung).
(Suara meninggi). Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh. Akan kucincang waktu yang telah meleraiku darimu. Kan kusembelih leher malam yang beri padaku tangis. (Mengambil lilin lalu mengacungkannya keatas). Dalam kesemuan abadi, ditepian remah-remah gelap, kukirimkan doa untukmu. Doa dalam sebentuk daging yang kuiris dari kusut bilik jantungku. Masih merah dan segar, setawar getir yang kini sedang kukunyah. (Menikamkan lilin keperut).
Sosok IV: (Muncul dari sisi kanan panggung. Rambutnya terurai dan menyembunyikan wajahnya yang luka dan duka. Destar terusan putih yang dia gunakan memeluk tubuhnya yang berjalan gontai dan lemah).
Pabila memang Tuhan mau kabulkan pintaku, aku hanya memohon agar waktulah yang mati. Lalu kenapa selalu janji yang harus teringkari? Aku bukan pendendam sepi yang ingin tidur lelap dicambukan bisu. Aku sekedar raga raga sederhana yang percaya pada airmata pasir yang mengendap dilangit, kemudian bersua lagi ketika dewasa. Aku adalah racikan kopi polos dalam lipatan gula. Lagipula daun-daun yang mekar dimusim gugur tak pernah sombongkan diri. (Memeluk tubuh sosok III).
Aku berikan sumpahku padamu, juga pada Tuhanku. Disetiap sujudku, cintamu adalah syahadat bagiku, tanpa kerumitan bahasa. Apakah kau masih ingat ketika kunyalakan korek lalu dengan getir yang terlahir senyum, kudapati sendiri pekat nikotin itu menyetubuhimu. Dan aku jelas cemburu. Sebab kau telah kutebus dari Tuhanmu bahkan dari Tuhanku sekalipun. Kau telah jadi milikku. Biar jadi embun yang menanti surya, meski lupa akan karib kita. Tak mengapa. Bukankah itu juga cinta?
(Berjalan didepan sosok III). Lalu kenapa keabadian ini yang kau pilih? Kenapa bukan tebing yang kau daki? Kenapa bukan arus yang kau perangi? Kau dan aku sama-sama tak kenal siapa itu waktu. Bukankah untukmu telah kubunuh gemerlap masa lalu? Namun, jika ini pilihan, maka jalanmu adalah sunah bagiku. (Mengambil posisi duduk di samping kiri sosok III/sebelah kanan penonton, mengambil botol kecil dari balik kantong bajunya lalu meminumnya).
Kuharap surga kita sama hingga esok pagi bisa kutemukan senyummu untukku. (Mati)

Musik mengalun, dan perlahan dua gundukan yang tertutupi oleh lembaran kain hitam yang berada di samping kedua bangku tampak bergerak. Ternyata ada dua manusia dibalik itu. Seorang laki-laki (Sosok V) dan seorang lagi perempuan (Sosok VI). Laki-laki yang muncul belakangan berada disamping tubuh perempuan yang berada diatas bangku tersebut, sedang perempuan yang muncul belakangan berada disamping tubuh tubuh laki-laki yang terbaring diatas bangku kayu tersebut. Gerakan mereka sangat pelan. Mendekati kedua bangku yang berada disamping mereka. Dari ujung kaki, sampai keujung kepala mereka gerayangi kedua tubuh yang tergeletak di atas bangku tersebut. Masing-masing sendiri. Tenggelam dalam kebisuan gerak yang mereka tarikan. Setelah itu, kedua sosok (Sosok V dan VI) yang muncul belakangan melangkahi kedua kepala masing-masing tubuh yang terbaring diatas bangku tersebut. Lalu bergerak mendekati loyang yang terletak ditengah-tengah pembaringan kedua tubuh tadi. Membongkar gundukan bunga plastik yang ada didalamnya. Mencari sesuatu. Hingga tangkai-tangkai bunga plastik tersebut berhamburan keudara. Setelah tangkai-tangkai bunga didalam loyang tersebut habis dan benda yang mereka cari tak ditemukan, keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Berusaha untuk saling mengenal. Kemudian saling mendekat dan saling menggerayangi.

Sosok VI: Jika memang ini adalah mata yang bekukan hati, kenapa tak kulihat ada namaku terpahat didalamnya?
Sosok V: Dalam pandangku, hanya ada sebentuk rindu dalam sepotong puisi bagi satu cinta saja. Apakah kau bait sajak berikut tuk lengkapi goresan rindu ini?
Sosok VI: Aku adalah kepingan senja bagi harimu, tapi kenapa tak ada tangan angin yang memeluk dan berikan aku kebenaran yang tak kutemukan dari rahim yang melahirkanku?
Sosok V: Nestapaku kini tlah kuceraikan jika memang jumpa ini adalah ikrarku yang terbayarkan. Lalu untuk apa mengundang angin? Biarkanlah angin pergi berlalu seperti masa laluku yang kubunuh dijurang ingat.
Sosok VI: Bumi adalah senyum dalam musim, angin adalah nafas untuk pelangi.
Sosok V: Adalah percuma menangisi musim, nanti juga ia kan berpulang. Sedang pelangi, usahlah kau kejar, sebab jatuhnya selalu kan kebumi meski tanpa kehadiran angin sekalipun.
Sosok VI: Pelangi adalah titian hati menjemput mimpi. Jalan menuju sudut sepi agar kita mencumbui sunyi setibanya disana, dalam genggaman. Apakah kau si pemilik tangan itu?
Sosok V: Cinta hanya sekedar rasa. Sebuah ingin memiliki sampai mati. Genggaman tak pernah abadi, ciuman tak selalu hangat ketika dingin. Janji hanya upaya agar jantung tak membeku di musim panas.
Sosok VI: Lalu apakah jantungmu pernah membeku karena teriris waktu? Dapatkah aku melihat bekas guratan itu?
Sosok V: Itu tinggal kenangan demi gadisku karena tlah kusalibkan masa lalu.
Sosok VI: Aku adalah tubuh yang mencintai ingatan.
Sosok V: Aku juga bukan pemuja lupa.
Sosok VI: Apa kau adalah mentari dalam layu gemerlap malam? Apa kau si pencari embun yang menantiku sejak gelap?
Sosok V: Aku adalah malam yang mencari tetes resapan kemarin.
Sosok VI: Maka kau bukanlah dia, dan ini bukanlah surga yang kau tuju. Karena ini adalah taman penantianku terhadap nazar cinta.
Sosok V: Aku adalah kelana menembus sepi dan kau bukanlah purnama itu. Tapi aku yakin inilah adalah surgaku karena disinilah ku bangun candi janjiku pada kasihku, sang bulan yang tak mampu menyanyi.
Sosok V & VI: Kita bukanlah takdir yang dirajut agar bersama. Kita adalah temu yang terlarang. (Bergerak saling menjauh, kemudian kembali mengerayangi kedua tubuh yang terbaring diatas bangku kayu).
Sosok VI: Mungkinkah kau si empunya pandang yang didalamnya tertulis namaku? Cintamu yang kini menyusulmu dalam kejaran waktu?
Sosok V: Apakah kau si empunya nama yang tersimpan dalam lihatku? Cintamu yang kini menyusulmu dalam kejaran waktu?
Bersamaan dengan itu, kedua tubuh (Sosok I dan Sosok II) yang terbaring diatas bangku bangkit perlahan. Kemudian menggeleng.
Sosok I: Kembara ini baru kumulai. Dan entah dimana akan berakhir.
Sosok II: Meski waktu akan tua dan layu bersamaku, hati ini takkan lelah terus menunggu kedatanganmu.
Sosok I dan sosok II kemudian kembali lagi berbaring diatas panggung (lampu padam).

A JOURNEY OF JOY, Oleh: Hans Liberty Makalew

Sebuah Liturgi



(Doa Pembukaan)

(Puji-pujian oleh jemaat)

(masuk iblis)
Iblis : Beking apa di sini?
Mo ba apa ngoni di sini?
Eh! Ngana! Kiapa ngana di sini? (sambil menunjuk ke salah seorang jemaat)
Io! Ngana!
For apa ngana kamari!?
Suara : Ibadah. . .
Iblis : Ibadah?! Ibadah pa sapa leh?!
Hari gini, Masih pake yang ba-bagini? Basi tau!
Ibadah ini kan, cuma tradisi.
Yang artinya, nyanda penting!
Yang penting kan, itu . . . apa kote?. . . Eee. . . iman.
Io, iman!
Lagian kan, tu ibadah yang babagini kwa cuma ja beking fugado jo.
Io to?
(masuk malaikat)
Iblis : (menoleh kearah malaikat)
Huuuh! . . . napa leh pengacau, so ada . . .
Beking apa leh ngana kamari? (kepada malaikat)
Ngana do’ kurang da iko-iko pa kita eh!
Kiapa, naksir?
Malaikat : Eh! So jaga tembus di tampa bagini ngana e?!
Iblis : Oh io. . . Skarang, tampa mana kong kita nimbole tumbus. . .
Mo rumah basar, mo rumah kacili, mo di utang, mo di kampung, mo di kota, mo di pasar, mo di mol, mo di internet, mo di hendphon, mo di tampa-tampa ibadah, mo di mana ke’, samua kita pigi akang!
Malaikat : Surga dang?!
Iblis : Lala mulu ngana!
De pe inti kan, cuma manusia . . .
Kita pe tujuan kan ngana so tau!
Malaikat : Mar, kan kalu di tampa bagini ngana salalu nyanda pernah untung.
Iblis : Apa?
Eh! Lamu! Coba ngana lia tu di blakang sana. Tu anak dua dari tadi kurang da bermain-bermain HP.
Napa le tu tiga nona sana dari tadi cuma da ba karlota trus.
Tu nyong sana kumang somo ta cabu de pe mata da haga-haga tu parampuang-parampuang pasung.
Sini! eh... ngana lia tu mache sana! De pe dalam hati dari tadi cuma, ‘so dapa lia gaga kita nyanda e?. . . Aduh talalu sadiki kote kita pe smengken. . .’
Tu paitua sana kumang, dia ada ganu-ganu pa itu pache sana.
Samua dorang pe pikiran nyanda di ibadah!
Yang dorang pikir cuma. . . kita. . .kita. . .kita. . .trus.
Narsis!
Tu cinta kasih yang ngana da bangga-banggakan, dorang cuma jaga pake for dorang pe diri sandiri.
Jadi, biar ngana mo bantu le, so nya’ ngaruh.
Malaikat : Eh, mar ngana musti inga itu kasih karunia dari Yesus Kristus nyanda akan pernah mo setinggal pa dorang.
Iblis : Adoh, bage di mana e. (berpikir)
Io no, kita le tau samua tu ngana pe bos pe karya.
Mar, ngana lia ini dunia ini skarang.
Sapa yang merajalela?
Bu’!!!
Malaikat : Bu’? (kebingungan)
Iblis : Kita, noh!
Dunia skarang geger dengan teror, perang, deng kerusuhan.
Blum lagi itu praktek-praktek mesum, bahugel, narkoba, miras, traficking, korupsi, pancuri, kolusi, baruci, dola-dola orang, deng laeng sebagainya yang terangkum dalam dosa.
Malaikat : Mar, samua itu so nda akan bertahan lama.
Iblis : Heh! di Buser, di Patroli, di Derap Hukum, Delik, Dunia Dalam Berita, Sekilas Info, Breking Nyuws, Fenomena, berita-berita di Indovision apa le e...
Mo di koran-koran, majalah, tabloit, mo di buku-buku sejarah!
Samua kita pe karya yang di bicarakan, kong tiap hari ada.
Malaikat : Mar, ngana nyanda akan pernah menyamai Yesus Kristus.
Iblis : Aaargh...salah!
Dia itu yang nyanda akan pernah mo sama deng kita!
Manusia so berbondong-bodong kase tinggal pa dia kong datang pa kita.
Malaikat : Hoi, sadar jo! So lebe dari dua ribu taon, itu nama Yesus Kristus masih terus diagungkan, dimuliakan, deng disembah di muka bumi ini.
Deng, orang-orang yang mengimani tu nama itu terus berjuang mo kase kalah pa ngana.
Buktinya, napa skarang, ini orang-orang pe smangat skali mo ba ibadah menyambut kelahiran Yesus Kristus sang Juruslamat.
Iblis : Memang lala mulu ja bacirita deng ngana no.
( berjalan seperti akan keluar, namun kembali lagi)
Eh!!! Ngana masih inga tu kejadian sepuluh milenium yang lalu di taman Eden?
Malaikat : Kiapa?
Iblis : Masih inga pa Hawa?
Malaikat : Kiapa dia?
Iblis : Masih inga itu pohong?
Malaikat : Hmmmm...kong kiapa?
Iblis : Itu buah dang?
Malaikat : Io, kong?
Iblis : Itu ular dang?
(Di depan panggung iblis beraksi dengan gaya mempersembahkan suatu pertunjukan, sesudah itu keluar)
Malaikat : Hmmm...
(setelah sempat terpaku ke arah panggung malaikat keluar)

Babak I
Adegan I
Setting: Taman Eden

(Tirai panggung dibuka. Masuk Adam sambil mengurus tanaman-tanaman di taman itu. Kemudian tertidur. Ular mengamat-amati Adam dari belakang pohon pengetahuan. Hawa bangkit perlahan kemudian menghampiri Adam. Adam terbangun dan kaget. Setelah menyadari siapa Hawa sebenarnya Adam mulai bersuara.)

Adam : Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Ia akan dinamai perempuan, sebab ia diambil dari laki-laki.

(Adam kemudian mengajak Hawa berjalan-jalan mengelilingi taman Eden. Keduanya kemudian sibuk merawat tanaman, hingga akhirnya terpisah. Ular datang menghampiri Hawa.)

Ular : Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?

Hawa : Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.

Ular : Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.

(Ular kembali bersembunyi di balik pohon. Hawa yang termakan dengan rayuan Ular akhirnya memetik buah tersebut dan membawanya kepada Adam. Kemudian Hawa mengajak Adam untuk memakan buah itu. Adam menanyakan pada Hawa asal dari buah tersebut. Hawa mengajak Adam ke tempat dimana ia memetik buah itu. Setelah itu Adam menjadi panik. Hawa terus membujuk Adam kemudian ia memakan buah itu. Semula Adam menolaknya, namun kemudian ia pun memakan buah tersebut. Seketika setelah Adam memakan buah itu keduanya mendapati dirinya telanjang, kemudian mereka lari bersembunyi. Terdengar suara langkah kaki.)

Suara : Di manakah engkau?

Adam : Ketika aku mendengar, bahwa Engkau ada dalam taman ini, aku menjadi takut, karena aku telanjang; sebab itu aku bersembunyi.

Suara : Siapakah yang memberitahukan kepadamu, bahwa engkau telanjang? Apakah engkau makan dari buah pohon yang Kularang engkau makan itu?

Adam : Perempuan yang Kau tempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.

Suara : Apakah yang telah kauperbuat ini?

Hawa : Ular itu yang memperdayakan aku, maka kumakan.

Suara : (kepada Hawa)
Susah payahmu waktu mengandung akan Kubuat sangat banyak; dengan kesakitan engkau akan melahirkan anakmu; namun engkau akan berahi kepada suamimu dan ia akan berkuasa atasmu.
(kepada Adam)
Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkan kepadamu: Jangan makan dari padanya, maka terkutuklah tanah karena engkau; dengan bersusah payah engkau akan mencari rezekimu dari tanah seumur hidupmu: semak duri dan rumput duri yang akan dihasilkannya bagimu, dan tumbuh-tumbuhan di padang akan menjadi makananmu; dengan berpeluh engkau akan mencari makananmu, sampai engkau kembali lagi menjadi tanah, karena dari situlah engkau diambil; sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu.

(Mereka akhirnya di usir dari taman Eden. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyi lagu ”Indah Sebagai di Eden”)

(Masuk malaikat dan iblis)
Iblis : Hua ha ha hahahaha.....
Pangge-pangge ujang ini.
Bae leh itu lagu bukang for kita.
Kacau...total!
Hua ha ha hahahaha....
Malaikat : De pe inti kwa dari hati. Dorang so berusaha mo kase yang terbaik pa Yesus Kristus lewat pujian.
Yah, kalu ada fals-fals dikit, ato nda ta iko ketukan, ato ada yang manyanyi sambil menghayal, ato yah, memang suara blek kan patut di maklumi. Manusia jo no.
Lantaran kan nda samua ada bakat di manyanyi.
Iblis : Butul, memang so dari sononya rata-rata manusia pe bakat bukang di manyanyi mar di bidang kekacauan, kekerasan, kesombongan, kenyanda-sabaran, kemunafikan yang samua-samua itu maso pa kita pe bidang.
Hua ha ha hahahaha....
Naraka!!!
Malaikat : Iiiiih...tttakuuut...(mengolok iblis)
Iblis : Dunia skarang deng dunia dulu masih sama!!!
Samua lantaran kita! Kita!! Kita!!!
Dari Eden sampe skarang, manusia nyanda akan pernah lolos dari kita pe kuasa!
Hua ha ha hahahaha....
(keluar Iblis dan Malaikat)

Adegan II
Setting: Padang

(Tirai panggung dibuka. Adam dan Hawa yang telah beranak-cucu berjalan perlahan memasuki panggung. Menggambarkan sebuah perjalanan kehidupan yang meletihkan dari suatu keluarga yang besar. Makin lama jumlah mereka semakin bertambah. Terjadi kekacauan, keributan, kegilaan, dan perkelahian di tengah-tengah kerumunan orang-orang itu. Beberapa berusaha melerai juga menenangkan, namun kekacauan terus terjadi. Dalam perjalanan itu mereka menemukan sumber air. Mereka bersukaria. Perlahan air mulai naik, dan mereka terus bersuka-ria. Setelah beberapa saat air terus naik, mereka menjadi panik dan berusaha menyelamatkan diri. Air terus naik hingga akhirnya menenggelamkan mereka. Terlihat bahtera di atas permukaan air. Setelah air surut masuk beberapa orang yang terlihat kelaparan dan sakit-sakitan. Masuk seorang nabi berpakaian raja dan bawahan-bawahannya yang kemudian langsung merawat dan memberi makanan pada orang-orang itu. Mereka bersuka-ria. Setelah orang-orang itu bersuka-ria nabi itu keluar. Mereka terus berpesta pora. Masuk orang-orang yang mengusung patung lembu yang terbuat dari emas yang kemudian disembah oleh orang-orang tadi. Masuk seorang nabi dengan membawa dua loh batu, yang kemudian segera murka setelah melihat suasana itu. Setelah memecahkan dua loh batu yang bertuliskan ke-sepuluh perintah Tuhan, nabi itu keluar. Mereka lalu mamecah-mecahkan dan kemudian memakan patung lembu itu. Kemudian mereka berjalan keluar dan terlihat sangat menderita. Masuk dari kiri dan kanan panggung orang-orang yang siap berperang. Mereka membentuk barisan di pinggiran panggung kemudian saling meneriakan cacian. Masuk seorang nabi yang berusaha melerai perang itu, namun sia-sia. Kedua kubu akhirnya maju berperang. Sang nabi keluar. Panggung menjadi arena pembantaian. Akhirnya semua tewas terkapar. Masuk perempuan-perempuan yang meratapi sosok-sosok mayat itu. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 260 Ayat 1 dan 3 “Dalam Dunia Penuh Kerusuhan”)

(Masuk Iblis dan Malaikat)
Iblis : hua ha ha ha...
Sengsara!!!
Sampe skarang itu kata itu masih terus terngiang di talinga!
Malaikat : Kasih!
Itu kata itu ley masih terus terngiang di telinga.
Iblis : Io, mar manusia semakin terpuruk dalam kita pe belenggu. Sampe-sampe yang ngana lia cuma kemunafikan. Yang ngana kira nda ada di antara orang-orang ini, mar sebenarnya ada, kong banya le!!! Ada saat-saat dorang bakampanye tentang cinta, kasih, deng Tuhan, deng ada saat-saat dorang bakampanye tentang.....ngana so tau to itu. Karna apa?
Malaikat : Hoaaaayem (sambil mengolok)
Iblis : Karna, ngana pe bos nyanda pernah butul-butul kase ampun pa dorang, manusia.
Malaikat : Masih inga itu kejadian sesudah tu ngana pe cerita tadi?
Iblis : Hmm.. bagimana?
(keluar Malaikat dan Iblis)

Adegan III
Setting: Dunia masa Perjanjian Lama

(Tirai panggung di buka, perempuan-perempuan yang menagis tadi terlihat sedang memindahkan jasad-jasad korban peperangan ke luar panggung. Masuk nabi Yesaya dan langsung bergabung dengan perempuan-perempuan tadi untuk memindahkan jasad-jasad.)

Nabi Yesaya : (Sambil memindahkan jasad)
Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.
Engkau telah menimbulkan banyak sorak-sorak, dan sukacita yang besar; mereka telah bersukacita di hadapan-Mu, seperti sukacita di waktu panen, seperti orang bersorak-sorak di waktu membagi-bagi jarahan.
Sebab kuk yang menekannya dan gandar yang di atas bahunya serta tongkat si penindas telah Kaupatahkan seperti pada hari kekalahan Midian.
Sebab setiap sepatu tentara yang berderap-derap dan setiap jubah yang berlumuran darah akan menjadi umpan api.
Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai.

(Keluar nabi Yesaya)
(Masuk nabi Mikha langsung bergabung memindahkan jasad)

Nabi Mikha : (Sambil memindahkan jasad)
Tetapi engkau, hai Betlehem Efrata, hai yang terkecil di antara kaum-kaum Yehuda, dari padamu akan bangkit bagi-Ku seorang yang akan memerintah Israel, yang permulaannya sudah sejak purbakala, sejak dahulu kala. Sebab itu ia akan membiarkan mereka sampai waktu perempuan yang akan melahirkan telah melahirkan; lalu selebihnya dari saudara-saudaranya akan kembali kepada orang Israel. Maka ia akan bertindak dan akan menggembalakan mereka dalam kekuatan TUHAN, dalam kemegahan nama TUHAN Allahnya; mereka akan tinggal tetap, sebab sekarang ia menjadi besar sampai ke ujung bumi, dan dia menjadi damai sejahtera.

(Keluar nabi Mikha)
(Masuk nabi Zakharia yang kemudian langsung memindahkan jasad)

Nabi Zakharia : Bersorak-soraklah dengan nyaring, hai puteri Sion, bersorak-sorailah, hai puteri Yerusalem! Lihat, rajamu datang kepadamu; ia adil dan jaya. Ia lemah lembut dan mengendarai seekor keledai, seekor keledai beban yang muda.
Ia akan melenyapkan kereta-kereta dari Efraim dan kuda-kuda dari Yerusalem; busur perang akan dilenyapkan, dan ia akan memberitakan damai kepada bangsa-bangsa. Wilayah kekuasaannya akan terbentang dari laut sampai ke laut dan dari sungai Efrat sampai ke ujung-ujung bumi.

(Setelah semua jasad telah di pindahkan, nabi Zakharia berjalan keluar. Perempuan-perempuan itu segera merespon nubuatan yang baru saja mereka dengarkan dari ketiga nabi itu dengan tarian pengharapan. Masuk beberapa orang masuk bergabung dengan mereka sehingga jumlah orang yang menantikan kedatangan Mesias semakin bertambah. Masuk Iblis yang langsung menghasut satu-persatu dari mereka. Lama-kelamaan satu-persatu mulai memisahkan diri dan keluar. Hingga akhirnya tersisa dua orang. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 81 Ayat 1,2,5 “O Datanglah Imanuel”)

(masuk Iblis dan Malaikat)
Iblis : Hua ha ha hahahaha...
Apa yang ngana mo banggakan dari tu cerita itu?!
Itu tiga pace itu?
Ha ha haha...
Malaikat : Nubuatan!!!
Iblis : Oh....(mengangguk)
Mar ngana so lia kita pe andil?!
Akhirnya kan nda ada orang yang percaya tu ramalan itu.
Kalu cuma sekedar tau, ada!
Mar kalu soal percaya, no wey!!!
Malaikat : Mo ada orang percaya ke’, mo nyanda ke’, kalu namanya kehendak Tuhan, pasti mo jadi. Buktinya ngana.
Iblis : Kiapa kita?
Malaikat : Dapa user dari surga no.
Iblis : Bukang dapa user, kita yang suka pigi dari situ.
Malaikat : Oh, bagitu eh...
Kalu soal andil, ngana pasti tau tu kejadian di satu rumah di kota Nazaret.
(keluar Iblis dan Malaikat)

Babak II
Adegan I
Setting: Sebuah rumah di kota Nazaret
(Tirai panggung dibuka. Yusuf dan Maria yang sedang dilanda asmara sudah berdiri di tengah panggung. Yusuf berpamitan pada Maria lalu kemudian keluar. Maria mengantarnya sampai di depan pintu. Maria sejenak melamun sambil tersenyum-senyum, kemudian dengan suka-cita mulai membersihkan ruangan dan perabotan, lalu tertidur. Masuk Malaikat Gabriel yang menari-nari mengelilingi ruangan, kemudian membangunkan Maria.)
Gabriel : Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertai engkau.
Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah.
Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.
Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya,
dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.

Maria : Bagaimana hal itu mungkin terjadi, karena aku belum bersuami?

Gabriel : Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.
Dan sesungguhnya, Elisabet, sanakmu itu, iapun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia, yang disebut mandul itu.
Sebab bagi Allah tidak ada yang mustahil.

Maria : Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.

(Setelah itu Gabriel keluar sambil menari-nari dari ruangan itu. Tidak lama kemudian Maria ikut keluar.)

(Beberapa bulan kemudian)

(Masuk Marta dan Maria. Maria sedang mengandung)
Maria : Terlalu sulit!
Sulit untuk dilupakan...
Senyumannya...masih terus terlukis di pikiran.
Gaya bertuturnya...
Aku...mencintaimu...Maria...(menirukan suara Yusuf)
masih terus terngiang di telinga.
Bahasa tubuhnya...ahh
Aku tidak bisa begitu saja melupakan orang yang telah mencuri hatiku...
Mungkin Tuhan telah menghukumku dengan mengambil kewarasanku, Marta saudariku.

Marta : Itu adalah hal yang wajar, saudariku Maria yang sementara dipenuhi semerbak bunga kasmaran dari Eden.

Maria : Tapi...tapi...Marta saudariku yang keteduhan hatinya mengalahkan laut mati.
Ada sesuatu yang ku takutkan.

Marta : Serbuk pahit apa yang berhasil di masukan iblis kedalam kepala putri Sion yang termanis ini sehingga dia melupakan sang penuntunnya yang setia?

Maria : Dengarkan dulu Marta saudariku yang kesetiaanya melebihi pengawal di serambi raja Salomo.
Sang pencuri hati sungguhlah seorang yang gagah, dan pastilah semua yang ditatapnya bertekuk-lutut. Sedangkan aku...lihatlah aku sekarang. Sang pencuri pasti segera membuang barang curiannya ke tanah dan segera akan diinjak orang jika barang curiannya itu ternyata hanya seonggok tanah liat.

Marta : Oh, saudariku yang malang. Terkutuklah semua pahlawan di Sion yang gagah perkasa jika hati putri Sion ini harus terinjak oleh salah satu dari mereka.

Suara : Marta...Marta....

Marta : Maria saudariku, hati itu sedang di hinggapi kupu-kupu yang membawa serbuk cinta sejati. Janganlah pernah membiarkan kupu-kupu itu lari dari padamu. Karena seluruh Israel menantikan hari pembuahannya.

Suara : Marta...Marta....Marta....

Marta : Sebentar. (ke arah suara itu)
Tegarkanlah hatimu yang suci itu!

(Marta berlari keluar)

Maria diam termangu dan sesekali termenung. Masuk Marta.

Marta : Oh, saudariku Maria yang dipenuhi rahmat Tuhan, menangislah. Tapi bukan dengan tangisan kematian itu. (memeluk Maria)

Maria : Kesedihan berusaha untuk terus merasuki hati yang tinggal sepenggal ini.

(Masuk Yusuf)
Yusuf : Jika demikian jangan biarkan dia menggantikan penggalan hati yang hilang itu. Biarlah hati yang tinggal sepenggal ini juga yang menggantikannya.
(jeda)
Aku ingin mengambil sebagai istri seorang putri yang sebagian hatinya pernah aku curi.

(Masuk seorang imam yang datang bersama Yusuf untuk menikahkan Maria dan Yusuf, juga masuk beberapa orang yang menyaksikan pernikahan tersebut. Setelah upacara pernikahan itu usai masuklah seorang utusan kaisar Agustus untuk membacakan suatu pengumuman)

Utusan kaisar : Pengumuman, pengumuman!
Kepada seluruh penduduk di bawah pemerintahan kekaisaran Romawi, agar supaya mendaftarkan diri di tiap-tiap daerah asalnya sendiri atau daerah asal suaminya.

(Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyikan lagu dari Kidung Jemaat No. 85 Ayat 1 dan 8 “Ku Songsong Bagaimana”)

(masuk Iblis dan Malaikat)
Iblis : Boleh jadi Maria deng Yusuf so melakukan adegan itu... lebe dulu, kong so babuah, jadi dorang mo tutu itu aib dengan yah... cerita itu, supaya nyanda malo.
Malaikat : Jadi menurut ngana, itu kejadian itu nyanda butul dang....
Iblis : Bukang menurut kita. Itu pemikiran dari tu cewe sana.
Talalu leh kong kita nintau tu kejadian itu. Sampe deng itu dorang pe perjalanan ka Betlehem le kita tau.
Yang kita nintau, ngana pe maksud mo cerita tu kejadian yang nyanda penting itu.
Malaikat : Kita pe maksud deng tujuan kan ngana so tau.
Mo jaga pa manusia.
Iblis : Hua ha ha hahahaha.....
Ngana kira kita mo kalah?!
Sedangkan ngana pe bos okat pa ana’, kong ngana le.
Coba jo!!!
Hua ha ha hahahaha....
Malaikat : Simak jo ini cerita!
(keluar Iblis dan Malaikat)

Adegan II
Setting: Jalanan kota Betlehem

(Tirai panggung dibuka. Masuk Maria dan Yusuf yang berjalan mencari tempat penginapan. Saat tiba di penginapan pertama mereka bertemu dengan pemiliknya yang adalah seorang pengusaha muda yang terlihat begitu sibuk melayani pelanggan-pelanggannya yang lain)

Yusuf : Apakah di sini ada tempat bagi kami untuk menginap?

Pengusaha : (memperhatikan Maria dan Yusuf dengan seksama)
Oh..ya..
Tunggu sebentar ya....(sibuk melayani pelanggannya yang lain)

Pengusaha : Sebaiknya tuan dan istrinya duduk dulu di situ.

(Yusuf dan Maria duduk di kursi. Saat pelanggan yang dilayani pengusaha tersebut tinggal sedikit, Yusuf menghampirinya)

Yusuf : Bagaimana, apakah masih ada tempat bagi saya dan istri saya?

Pengusaha : Aduh, maaf sekali tuan. Orang yang seharusnya sudah keluar hari ini malah masih menambah waktu sewanya, jadi sampai saat ini belum ada kamar yang kosong.

Yusuf : Ya, sudahlah kalau begitu.

(Maria dan Yusuf kembali berjalan untuk mencari penginapan. Di tengah perjalanan yang berangin itu, mereka berpapasan dengan tiga orang prajurit Romawi. Setelah melewati Maria dan Yusuf, salah seorang prajurit tadi berbalik dan menghampiri Maria dan Yusuf yang dikuti oleh kedua rekannya untuk memberikan kain jubahnya pada Yusuf agar dikenakan Maria. Setelah menerima kain tersebut Yusuf segera memakaikan kain tersebut pada Maria. Ketiga prajurit keluar. Maria dan Yusuf meneruskan perjalanannya. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah penginapan yang pemiliknya adalah seorang wanita pesolek)

Yusuf : Apakah di sini ada tempat bagi saya dan istri saya untuk menginap?

Wanita : Ada...ada.
Tapi kamar yang tersisa hanya tinggal satu, dan ukurannya pun kecil.
Harganya tiga dinar untuk sehari.

Yusuf : Uang kami tinggal sedikit.
Untuk membayar biaya kamar itu selama dua hari saja sudah tidak cukup.
Sekiranya ibu dapat menolong kami.
Istri saya akan segera malahirkan.

Wanita : Oh...begitu.
Hmmmm.....(perpikir sejenak)
Berapa jumlah uang kalian?

Yusuf : lima dinar.

Wanita : Hmmmm.....(berpikir)
Baiklah.
Mari ikut aku.

(ketiganya bergegas berjalan ke luar panggung, tapi langkah mereka segera terhenti setelah terdengar suara seseorang. Masuk seorang pria yang terlihat begitu tergesa-gesa)

Pria : Siapakah pemilik penginapan ini?

Wanita : Ya...saya sendiri.
Ada apa?

Pria : Oh, kebetulan sekali.
Saya sudah berkeliling di kota ini untuk mencari penginapan, tapi semua penginapan yang sudah saya datangi semuanya sudah penuh.
Mmmm...apakah di tempat ini masih ada kamar yang kosong?
Kalau ada, saya akan menginap selama seminggu.

Wanita : Oh....begitu....
Hmmmmm....(berpikir)
Sebenarnya penginapan ini juga sudah penuh, tapi ada sebuah kamar kecil yang bisa digunakan.
Harganya per hari empat dinar.
Bagaimana?

Pria : Hmmmmmm....(berpikir)
Baiklah, saya ingin melihat kamarnya.

Wanita : Oh ya...
Mari ikut saya.
(kepada Maria dan Yusuf) Maaf ya...

(Wanita dan Pria bergegas berjalan keluar)

Yusuf : Tapi bagaimana dengan kami?
Kumohon tolonglah kami...
Istri saya akan segera melahirkan.

Wanita : Sebaiknya kalian cari penginapan yang lain saja, yang cukup dengan uang kalian.

(Wanita dan Pria keluar)
(Yusuf dan Maria kembali berjalan mencari penginapan. Di tengah perjalan mereka berpapasan dengan beberapa orang anak kecil yang menari-nari di jalanan. Setelah berputar-putar mengitari Yusuf dan Maria, dua orang dari anak-anak itu memasangkan mahkota bunga kepada Yusuf dan Maria. Sesudah itu anak-anak keluar. Maria dan Yusuf terus berjalan untuk mencari penginapan, hingga akhirnya mereka tiba di sebuah penginapan milik seorang lalaki tua yang bungkuk dan pincang. Setelah cukup lama Yusuf mengetuk pintu penginapan, baru pemiliknya keluar)

Yusuf : Apakah di sini ada tempat bagi saya dan istri saya untuk menginap?

Lelaki Tua : (menghela nafas panjang)
Tempat ini sudah seperti kandang.
Bangunan ini sudah hampir roboh karena harus menahan kesesakan orang-orang yang ada di dalam.

Yusuf : Kiranya bapak sudi menolong kami.
Istri saya ini sudah mau melahirkan.

Lelaki Tua : (menarik nafas panjang)
Sebenarnya saya ingin sekali menolong kalian, tapi mau bagaimana lagi, selain pelanggan, saudara-saudara saya yang dari luar kota juga menginap di sini untuk mendaftarkan diri. Jadi saya sarankan sebaiknya kalian mencari tempat lain saja.
(Menengadah ke langit) Hari sudah mau hujan.
Jika ingin berteduh-berteduhlah di situ. (menunjuk arah kandang)

(Lelaki Tua keluar, Yusuf dan Maria berjalan ke arah kandang. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 94 Ayat 1 dan 4 “Hai Kota Mungil Betlehem”)

(masuk Iblis dan Malaikat)
Iblis : Hoaaaayaaaam...(mengantuk)
Membosankan...
Riki pastiu kita da tunggu depe bagian akhir.
Malaikat : Cerita itu nda akan pernah mo klar. Sampe kapan pun.
Cerita itu mo ada trus, secara turun menurun.
Iblis : Kita leh ada cerita yang nyanda akan pernah mo klar.
Cerita perang......deng......keangkuhan!!!
(Keluar Iblis dan Malaikat)

Adegan III
Setting: Balai Istana Herodes

(Tirai panggung dibuka, Herodes dan prajurit-prajurit Israel sudah berada di panggung. Herodes duduk di kursi Raja)

Semua : Demi kejayaan bangsa kita !
Untuk kejayaan tanah air!
Hidup raja agung terbesar kita!
Hidup Caesar yang sudah memberikan kepercayaannya pada raja kita Harodes!!!
(Masuk istri Herodes beserta pelayan-pelayan istana. Istri Herodes duduk di kursi Permaisuri)
Permaisuri : Cukup!
Roma dan Caesar tidak akan pernah seperti sekarang ini, kalau saja tidak ada suamiku Herodes!
Peperangan ini....
Kemenangan ini adalah milik Herodes Yang Agung!
Semua karena jasa-jasanya, sehingga Yang Mulia Herodes pantas di sebut Raja Agung Terbesar.
Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!
Hidup yang mulia raja Herodes!
Herodes : Daerah-daerah di pinggiran Palestina yang merupakan garis terdepan Romawi sudah ku taklukkan.
Sebentar lagi Arab yang berlimpah minyak akan segera menyusul.
Dan dunia ini sepenuhnya akan jadi milikku.
Ha ha ha hahahaha.....
Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!
Herodes : Kalian semua adalah pejuang-pejuang terbaik yang pernah dimiliki bangsa ini. Berbahagialah ibu yang melahirkan kalian, karena sudah terbukti bahwa pasukan ini adalah pasukan yang tak terkalahkan.
Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!
Hidup yang mulia raja Herodes!
(Herodes tertawa, masuk seorang kurir)
Kurir : Yang mulia raja Herodes, di depan istana ada tiga orang yang mengaku raja dari timur yang datang untuk menemui raja terbesar di tanah Palestina.
Herodes : Hua ha ha ha hahahaaha....
Ternyata keagungan dan kemuliaan namaku sudah tersebar sampai ke kerajaan-kerajaan di timur.
Hua ha ha hahahahahaha....
Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!
Herodes : Suruh mereka masuk!
Kurir : Daulat tuanku! (keluar)
Perwira I : Mungkin, mereka mulai ketakutan, karena dipikirnya pasukan kita akan bergerak ke timur, ke wilayah mereka.
Semua : (tertawa)
Perwira II : Mungkin mereka kemari dengan membawa bendera putih.
Semua : (tertawa)
Perwira III : Atau, mereka ingin menjadikan kita sekutu. Dan memberikan upeti kepada raja teragung, termulia, dan terbesar.....Herodes.
Semua : Hidup yang mulia raja Herodes!
Hidup yang mulia raja Herodes!
Hidup yang mulia raja Herodes!
(Masuk kurir dan ketiga orang Majus)
Herodes : Ada perlu apa, sehingga datang dari jauh-jauh kemari?
Majus I : Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.
Herodes : Apa...? Baru dilahirkan? Lelucon apa ini?

(semua orang di istana Herodes menjadi terkejut dan tercengang-cengang. Terdengar suara kasak-kusuk)

Herodes : Cepat kumpulkan semua imam kepala dan ahli taurat.
(gelisah)

(masuk ahli-ahli Taurat dan imam-imam kepala)

Herodes : Siapa raja orang Yahudi yang kau maksudkan itu, sehingga alam pun turut menyembahnya?

(para imam dan ahli taurat sejenak berbisik-bisik, beberapa dari mereka membuka kitab)

Ahli Taurat : Dia adalah Mesias. Raja yang akan memimpin Israel.

Herodes : Ini pemberontakan! Di mana dia akan lahir?

(para imam dan ahli taurat sejenak berbisik-bisik, beberapa membuka kitab)

Imam Kepala : Di Betlehem di tanah Yudea, karena demikianlah ada tertulis dalam kitab nabi.

Herodes : Ini mustahil!!! (terbata-bata, gelisah, gugup, sempoyongan)
Tidak mungkin di tanah ini ada raja yang lebih besar dari aku!

(Para Ahli Taurat dan para Imam kepala terlihat sedang memperdebatkan sesuatu. Herodes mendekati orang-orang Majus dan kemudian berbisik)

Herodes : Pergi dan selidikilah dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu dan segera sesudah kamu menemukan Dia, kabarkanlah kepadaku supaya akupun datang menyembah Dia.

(Keluar orang-orang Majus. Herodes memanggil kurir dan mengisyaratkan agar mengikuti orang-orang majus itu. Keluar kurir. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat manyanyikan Kidung Jemaat No. 95 Ayat 1-3 “Gita Sorga Bergema”)

(masuk Iblis dan Malaikat)
Malaikat : Raja paling besar!
Bukang cuma di Israel, mar di dunia.
Yang Dia pe kerajaan nyanda akan pernah berakhir!
Bayangkan!!!
Iblis : Tunggu kita mo bayangkan (mengolok Malaikat)
Malaikat : Tuhan deng Manusia ada depe pendamai.
Yesus Kristus!
Yang Ilahi yang ada jadi manusia!
Iblis : Intsrupsi!!!
Di dunia ini dia pe kerajaan bukang satu-satunya yang paling pai deng abadi!
Ada dua kerajaan yang sama-sama pai.
Tau to sapa punya tu satu?!
Malaikat : Mar, de pe laste kan ngana pe kerajaan mo kalah!
Lantaran so ada tatulis.
Iblis : Kita nyanda akan pernah kalah!!!
Yang tatulis di situ salah!!!
Kita pe tujuan yang sebenarnya, mo buktikan kalu samua itu salah.
Samua yang tatulis di kitab-kitab itu salah!!!!
Malaikat : Ngana masih inga itu kejadian pa gembala-gembala di padang rumput?
Apa yang tatulis pasti mo jadi.
(keluar Malaikat dan Iblis)

Adegan IV
Setting: Padang Rumput

(Tirai panggung dibuka. Gembala-gembala sedang menjaga kawanan dombanya)
Gembala I : Apakah semuanya sudah bersiap-siap?
Gembala II : Kami semua sudah siap sejak dari rumah. Tapi saya pikir mereka tidak berani macam-macam, karena jumlah kita cukup banyak.
Gembala III : Ya, pencuri-pencuri itu sebenarnya adalah orang-orang pengecut. Mereka hanya berani merampas jika jumlah gembala penjaganya di bawah tiga orang.
Gembala I : Ia, tapi kan kita harus tetap berjaga-jaga.
Gembala IV : (dengan nada bercanda) Padahal dulu, walaupun tidak di jaga, domba-domba ini pasti tidak akan hilang.
Gembala V : Zaman ini sudah semakin sulit sejak kedatangan orang-orang Romawi itu.
Gembala VI : Benar sekali. Mereka memungut pajak yang terlampau tinggi, sehingga kita harus membanting tulang dua kali lipat.
Gembala VII : Ssssst, jangan keras-keras....
Gembala V : Kenapa harus takut.
Ini adalah tanah kita!
Ini adalah bangsa kita!
Gembala I : Simeon! Diamlah!
Gembala VIII : Apa yang dikatakannya itu benar. Kita benar-benar sudah dibodohi.
Pencuri-pencuri itu adalah dari bangsa kita juga. Mereka menjadi seperti itu karena biaya hidup yang semakin tinggi.
Gembala IX : Bodoh! Mereka tidak lebih dari orang-orang bodoh! Karena mencuri adalah suatu tindakan yang paling hina. Dan Tuhan mengutuk tindakan itu.
Gembala X : He he he...(sinis)
Bukankah Tuhan sudah mati?
Lihatlah! Kita akan tetap berada dalam kesengsaraan. Kita tidak benar-benar keluar dari lingkaran setan itu. Sejak pembuangan di Babel Tuhan sudah tidak ada lagi. Lihatlah kini yang di hadapan kita adalah orang-orang Romawi gila dan kawanan pencuri domba bodoh.
Hukuman itu tidak akan pernah berakhir!
Gembala I : Eliezer! Ada apa denganmu?! Setan apa yang sedang merasukimu?!
Gembala X : Setan-setan apa!
Jangankan setan, Tuhan pun sudah tidak ada artinya lagi sekarang. Yang tertinggal hanyalah cerita hasil rekaan kakek-kakek gila hormat yang bekerja di bait suci itu...
Gembala IX : Eliezer! Apa kau sudah gila?!
Sudah lupakah kau pada nubuatan para nabi tentang akan datangnya Mesias?
Gembala X : Ahhh...lagi-lagi soal mesias. Aku sudah bosan hidup dalam penantian yang tidak jelas. Aku tidak mengharapkannya lagi.
Aku tidak perduli lagi pada hal ke-tuhan-an.
Semua Gembala: Eliezer!!!

(masuk Malaikat. Saat melihat Malaikat para gembala sangat takut)

Malaikat : Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud. Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.

(masuk malaikat-malaikat yang lain yang berdiri di belakang malaikat pertama.)

SemuaMalaikat: Kemuliaan bagi Allah di tempat yang maha tinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.

(Malaikat-malaikat keluar. Gembala-gembala menjadi takjub)

Gembala I : Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.

(semua gembala setuju dan berjalan keluar, kecuali gembala X. Dia duduk termenung sendirian dan terlihat gelisah, namun akhirnya keluar mengikuti gembala yang lain. Tirai panggung ditutup)

(jemaat menyanyikan Nyanyian Kidung Baru No.62 Ayat 1-3 ”Gembala Yang Ada di Padang”)

(Masuk Iblis dan Malaikat)
Malaikat : Pantasan ngana so jaga tumbus di tampa-tampa ibadah.
Kiapa so mulai abis stok di neraka?
Iblis : Hua ha ha hahahaha...
Ngana tau kote.
Dorang samua pasti mo iko pa kita ka neraka!!!
Malaikat : Malawang mimpi ngana!
Iblis : Mimpi?!
Kebanyakan kita dapa pengikut dari tampa-tampa bagini.
Deng, so dorang-dorang itu yang jadi paling setia pa kita, kalu ngana mo tau!
Malaikat : Kalu di sini susah ngana mo dapa. Lantaran Yesus Kristus sayang skali pa dorang.
Iblis : Sama!!! Kita le sayang skali pa dorang!
So itu kita mo pangge pa dorang!
Hua ha ha ha hahahaha....
Malaikat : Ngana pe usaha nda akan berhasil!!!
Nanti ngana lia!
(keluar Iblis dan Malaikat)

Adegan V
Setting: Kandang domba

(Tirai panggung dibuka. Maria dan Yusuf duduk di dalam kandang. Di tengah mereka ada palungan. Malaikat-malaikat memegang lilin sambil berdiri di samping kiri dan kanan kandang. Di depan Maria dan Yusuf ada empat malaikat yang sedang menari-nari.. Malaikat-malaikat yang ada di samping kandang berjalan ke arah jemaat dan membagikan api dari lilin yang dipegangnya masing-masing kepada jemaat. Sesudah itu kembali naik ke atas panggung)
(Masuk gembala-gembala yang berjalan kearah kandang. Mereka memperhatikan bayi Yesus dengan seksama)
(Masuk ketiga orang Majus yang dibuntuti oleh kurir Herodes. Berjalan kearah kandang dan mempersembahkan emas, kemenyan, dan mur. Bersamaan dengan itu beberapa malaikat berjalan ke arah jemaat dan menjalankan pundi persembahan. Sesudah itu malaikat-malaikat kembali ke panggung. Keluar kurir Herodes. Tirai panggung ditutup)

(jemaat menyanyikan Kidung Jemaat No. 123 Ayat 1-4 “S’lamat S’lamat Datang”)

(masuk Iblis—murung dan gelisah—dan Malaikat)
Malaikat : Kiapa? Rupa dapa lia suak-suak ini.
Iblis : Suak-suak di rumah saki!
Jangan dulu sanang, blum kalah ini.
Malaikat : Oh, mo tamba leh?
Iblis : Ha ha...(sinis)
Suka-cita yang nda akan bertahan lama!
Nda mungkin mo se kalah pa kita!
Malaikat : Dapa lia ngana yang so nda mo bertahan lama di sini.
Iblis : (semakin gelisah) Pasti ada celah!
Pasti ada! (berpikir keras)
Hmmmm....(tersenyum)
Logika...(berbisik)
Samua rekayasa!!!
Samua tai minya!!!
Samua yang tatulis di situ (menunjuk ke Alkitab) nda ada yang butul!!!
Hua ha ha hahaha....
Samua dusta!!!
Itu ada beking supaya...supaya....
Malaikat : Kalu itu Alkitab de pe isi dusta samua, berarti ngana le nda ada!
(Malaikat mengampiri Iblis, kemudian berusaha menyeretnya keluar dari ruangan)
Iblis : Tunggu! Tunggu!!!
Kita blum kalah!!!
Coba pikir!!!
(Malaikat terus menyeret Iblis keluar)
Planet-planet!!! Kiapa nyanda tatulis di Alkitab?!
Dinosaurus!!! Kiapa nda ada di Alkitab?!
Samua salah!!! Samua salah!!!
Manusia!!! Depe asal dari yaki!!!
Sebenarnya ngoni...ngoni yaki kong jadi!!!

(Malaikat menyeret Iblis sampai ke luar ruangan)

Adegan VI
Setting: Kandang domba

(Tirai panggung dibuka. Maria dan Yusuf duduk di dalam kandang. Para Malaikat, para gembala, dan orang-orang majus berbaur dalam tarian kesuka-citaan. Tirai panggung ditutup)

(Jemaat menyanyikan lagu Hai Dunia Gembiralah)

(Doa Penutup)

Selesai

Naskah Teater Fredy Sr. Wowor: SUATU WAKTU DALAM HIDUP SEORANG AKTOR

( Pada bagian TENGAH BELAKANG berdiri ORANG I, ORANG II, dan ORANG III sambil membelakangi penonton. Tubuh mereka dicat dalam motif tembok, untuk beberapa waktu lamanya saat pertunjukan berlangsung, mereka berfungsi sebagai latar. Pada bagian TENGAH panggung duduk ORANG IV sambil memeluk lutut.

Cahaya perlahan-lahan menyelimuti panggung. Awalnya cahaya tersebut menyinari sosok-sosok yang telah berada diatas panggung. Kemudian menyinari ke arah samping kiri samping kanan yang berfungsi sebagai pintu masuk dari ORANG V dan ORANG VI )

ORANG V

( Masuk, mengambil tempat disamping orang IV, bicara pada dirinya sendiri )

Setengah bungkus rokok ? Lumayan, dari pada tidak sama sekali

( Menyalakan sebatang rokok dan dihirup dalam-dalam. Matanya

menerawang jauh kedepan )

ORANG VI

( Masuk dan mendapati ORANG V lagi menghisap rokok

dengan pandangan menerawang, dia menyapa )

Selamat……!

ORANG V

( Kecut mencoba menawarkan rokok )

Rokok……..?

ORANG VI

( Latah menjawab dalam kegagapan )

Rokok,

eh, tidak !

Maaf, saya tidak merokok !!

Trima kasih !!!

ORANG V

( Gembira rokoknya tidak berkurang / basa basinya tidak

ditanggapi serius ORANG VI )

Tidak merokok ?!

Selamat !

ORANG VI

Kenalkan, saya Aktor cabutan dari teater KRONIS manado.

ORANG IV

( Terusik perhatiannya begitu mendengar kata AKTOR…! )

ORANG V

Ooh, Aktor ?! Bagus !

Pasti lagi Observasi ya ?

ORANG IV

( Makin terusik perhatiannya mendengar kata… AKTOR dan

OBSERVASI )

ORANG VI

Kok, tahu ?

ORANG V

Jelas tahu.

Saya dulu pernah disuruh mengamati

bagimana tingkah prajurit sisa perang

yang bergelandangan di jalan raya

tanpa sadar bahwa negeri yang diperjuangkannya itu

ternyata tidak merdeka.

Bisa kamu bayangkan,

hampir tiga bulan lamanya

saya kelayapan di jalanan kayak orang gila.

ORANG VI

Wah, rupanya bung juga seorang Aktor !

ORANG IV

(Kian terusik perhatiannya mendengar kata AKTOR terus disebut)

ORANG V

Tapi

ORANG VI

Tapi kenapa !?

ORANG V

Sayang

ORANG VI

( Makin ingin tahu)

Sayang bagimana !?

ORANG V

Pementasan itu dibatalkan.

ORANG VI

Dibatalkan ?!

Mengapa !?

ORANG V

Karena naskah yang akan dipentaskan itu,

termasuk dalam kategori DILARANG PEMERENTA.

Tiga tahun aku dibui,

istriku diperkosa tentara,

Tentara yang datang menyuluhkan program bersih lingkungan.

Dan istriku bunuh diri dihadapanku, selepas aku dari penjara.

ORANG VI

( Terpaku tanpa kata lagi )

ORANG V

Oya, bukankah bung datang untuk observasi ?

ORANG VI

Iya, saya datang untuk mengamati tingkah orang gila yang ada disini

ORANG V

Mengamati tingkah orang gila yang ada di sini ?

O, mengamati dia !

( Mengarahkan pandang ke ORANG IV )

ORANG VI

( Mengikuti pandangan ORANG V )

ORANG IV

( Dalam puncak keterusikannya )

Aktor, hah ?!

ORANG VI

( Melempar pandangan kedepan dengan cepat bersama dengan ORANG V )

Dia tahu…..

ORANG IV

Datang mengamati saya…!

ORANG IV

( Bersama ORANG V )

Dia tahu diamati….

ORANG V

( Bersama ORANG VI )

Dia tahu diamati…..

ORANG IV

Mengapa mesti saya ?

Mesti saya ?

Saya ?

Mengapa ?!

Mengapa ?!

( Merintih penuh kegeraman )

Mengapa mesti saya !?

ORANG I, II, III

( Sama-sama membalikkan tubuhnya dengan cepat )

ORANG V dan VI

( Tegang dalam kecemasan )

Dia tahu…..

ORANG I, II, III

( Membuka kaca mata hitam bersama-sama )

ORANG IV

( Mengamuk kesetanan )

Mengapa mesti saya

Mengapa mesti saya

Mengapa mesti saya

Mengapa ?!

ORANG V dan VI

( Sama-sama panik dan saling memeluk )

Dia

Dia

Dia

Dia

ORANG IV

( Kaku meradang tanpa kata )

Akh

ORANG II dan III

( Berlari kebingungan dan keluar )

Dokter…!

Dokter… !

Dokter… !

ORANG IV

( Terlompat marah )

Biarkan aku !

Biarkan…

Aktor ?!

( Mencemooh)

Aktor kampungan !

( Tidak sanggup meneruskan )

Kampung….

( Muntah )

ORANG I

( Berlari kebingungan dan keluar )

Gila

Gila

Gila

Ini tidak mungkin !

ORANG V dan VI

( Sama-sama keluar dan berkata )

Gila

ORANG IV

( Tertinggal sendirian dan berkata )

Gila ?

Aku tidak gila !

Aku hanya memainkan peranku sebagai seorang Aktor !?

***** TAMAT *****

Naskah Teater Greenhill G. Weol: "Pahit"

Sebuah kisah cinta tanpa kata-kata...

Karakter-Karakter:

- Dalam Satu:

1. Pria

- Dalam Dua:

1. Pria

2. Wanita

3. Penari Pria Pertama

4. Penari Pria Kedua

5. Penari Wanita Pertama

6. Penari Wanita Kedua

- Dalam Tiga:

1. Pria

2. Wanita

3. Sosok-Sosok Hitam

- Dalam Empat:

1. Sosok Pantomime

2. Sosok-Sosok Statis

- Dalam Lima:

1. Pria

2. Wanita

3. Sosok-Sosok Hitam

- Dalam Enam:

1. Pria

2. Kekasih Pria

3. Kekasih Wanita

- Dalam Tujuh:

1. Wanita

2. Kekasih Pria

3. Kekasih Wanita

- Dalam Delapan:

1. Pria

2. Kekasih Pria

3. Kekasih Wanita

4. Sosok-Sosok Hitam

Satu

Panggung gelap lengang. Sebuah soft spotlight menyorot dari belakang ke depan panggung dengan cahaya redup, hanya cukup untuk memunculkan siluet-siluet dan sedikit lantai sekitar. Di sana ada sepasang meja kursi kayu dengan setumpuk kertas yang tak beraturan. Ada sebuah pena di atasnya. Di samping kertas itu ada secangkir kopi yang telah dingin. Sebuah lampu meja menerangi meja itu sekaligus mencipta bayang-bayang di sekeliling. Ada beberapa gumpalan kertas bertaburan di sekeliling. Seseorang sedang duduk bersandar. Bayangan lampu tadi menyamarkan wajahnya dalam kegelapan. Dalam keremangan tergambar pakaiannya: kemeja tua dengan kancing terbuka, lengan panjang dilipat sesiku. Tangan kanannya diletakkan di meja sambil menjepit sebatang rokok yang abunya telah lama tak dijentikkan. Asap menggantung tipis. Kemudian ia beringsut maju perlahan. Wajahnya yang tadi tersamar bayangan mulai nampak perlahan. Sayang, sebelah tangannya dipergunakan untuk menyangga wajah sehingga menutup mata dan sebagian wajahnya. Tangannya bergerak lambat mengusap muka hingga jatuh perlahan di dagunya. Ia menengadah dengan mengejam mata sambil menarik napas. Perlahan ia mengembus napas dan kembali menunduk. Pandangannya mengarah pada tumpukan kertas. Tangan kirinya bergeser dari dagu dan menopang kening. Ia menjentikkan abu rokoknya ke lantai samping. Sekarang, wajahnya disinari lampu meja. Wajahnya sedih, lusuh dan berminyak. Rambutnya hampir tak tersisir. Pandangannya nanar. Keningnya berkerut samar. Perlahan, tangan kanan yang menjepit rokok disorongkan kedepan menggapai asbak. Rokok dimatikan dengan sebuah gerakan saja. Tiba-tiba ia meraih cangkir kopi itu dengan dua tangan dan menghirupnya dengan penuh rindu, seolah sedang bercengkrama dengan kekasih yang lama tak berjumpa. Kedua tangannya kemudian bergerak perlahan meraih pensil dan mulai menggores perlahan kertas yang memapar dihadapannya. Setelah itu, pensil itu diletakkan dengan perlahan. Dipegangnya kertas itu dengan tangan kanan, sementara tangan kirinya kembali menyangga kepalanya sehingga menutupi mata kirinya. Mata kanannya menatapi kertas seolah membaca. Ia menarik napas panjang dan menghembusnya seraya wajahnya menunduk. Sejenak kemudian, perlahan ia kembali mengangkat wajah menatap nanar kedepan. Pandangannya tanpa fokus. Keningnya berkerut. Ia mulai memuisi dengan suara berat, penuh kekecewaan:

Jika ada yang bertanya

Tentang makna cinta

Saat ini aku tak lagi punya jawabnya

Karena bagaimana mungkin mengukur

sesuatu yang tak lagi terasa

bagaimana mungkin menaksir

bentuk yang kini tak kasat mata

bagaimana lagi menilai harga benda

yang sudah tanpa makna

tidak...

aku memang bukan Sang Suci

Cuma lahir dan nanti mati

Sering rindu udara pagi

Menangis dalam hati

Ketika anjing kesayangan sakit lantas pergi

Bahkan memendam rindu

Buat kekasih yang tlah lama lari

Tahun-tahunku sarat bayangan

Kau tak tau pahit yang kurasakan

Melarung anak sulung korban perbedaan

Lalu apa arti kehidupan?

Hilang sudah dari ingatan

Tetapi mari duduk di sisiku

Atau jika kau malu

Biar aku yang menghampirimu

Kita bisa membunuhi waktu

Dan mungkin dapat kuajarkan

Bagaimana menelan masalalu

Atau membuat cake coklat-

Kalau kau mau

Akupun bukan pemuja kata

Sebab tak punya nyawa ia

Tanpa tarian bermakna

Sebentuk pena

Pun aku tak percaya cinta

Yang lahir tiba-tiba

Tanpa kenal apa dan siapa

Mulut-mulut yang mengeja

Jadi jikapun cinta tlah mengata

Dalam kalimat menyala-nyala

Ketika malam-malam buta

Itu hampa

Tanpa kita sadar menerima

Tawa dan tangis bersama

Alur hidup gila maya

Yang pernah datang menyapa

Lalu kau… Aku…

Akan menangis dan tertawa bersama

Dan belajar tentang cinta…

Setelah itu ia kembali menunduk. Kertas yang dipeganginya ia remas perlahan-lahan dengan kedua belah tangan di depan wajahnya. Kemudian ia beringsut mundur kembali kedalam gelap. Hanya kedua tangannya yang masih tampak. Remasan tangannya dibuka perlahan. Gumpalan kertas itu ada di telapak tangan kirinya. Ia mengangkat sedikit tangan itu. Jari-jarinya gemetaran. Gumpalan kertas itu kemudian dibiarkan jatuh menggelinding ke lantai... Lampu berangsur redup.

*

Dua

Bagian depan panggung berangsur terang. Ada dua orang disana. Seorang wanita sedang duduk di atas sebuah kadera menghadap ke samping. Wajahnya tertunduk. Rambutnya tergerai menutupi sebagian mukanya. Tangannya terlipat dengan anggun di atas pahanya. Ia mengenakkan gaun selutut berwarna merah. Di bagian lain depan panggung, tak jauh dari wanita itu, seorang pria sedang berdiri tenang. Pandangannya lurus ke depan, namun agak ke atas, tangannya menyisip kantong celananya. Wajahnya bersih, matanya cemerlang. Ia mengenakkan kemeja putih dan celana hitam. Sejenak ia mengalihkan pandangan kearah belakang, kearah wanita itu. Pandangannya kemudian kembali ke depan, tetapi kali ini kearah bawah. Dia menarik napas dan tersenyum. Dia kemudian membalik badan dan mulai melangkah perlahan-lahan menuju kepada wanita itu kemudian berhenti tepat di depannya. Ia berlutut dan seolah mencopa menangkap pandang mata wanita itu tapi ia menunduk terlalu dalam. Pria itu menyentuh dagu wanita itu dengan tangan dan mengangkatnya sedikit, cukup untuk saling pandang mata. Pria itu beringsut berdiri dengan lambat, sedang tangannya tetap menyentuh dagu. Wanita itu pun perlahan menengadah. Pandangan mereka tak lepas selama beberapa saat. Selanjutnya wanita itu mengangkat tangan kanan yang disambut oleh pria itu. Wanita itu perlahan bangkit dari duduknya. Sekarang mereka berdiri berhadap-hadapan, mata mereka berpautan dan sejenak mereka diam dengan tangan yang saling berpegangan setinggi perut. Lelaki itu menarik tangan wanita itu dan di ciumnya lembut. Wanita itu tersenyum dan mendekatkan tubuhnya kepada pria itu kemudian ia meletakkan kepalanya di dada pria itu. Wajahnya menghadap ke depan. Matanya terbuka dan bersinar damai. Mereka mulai bergerak perlahan, sebuah dansa yang lembut. Di bagian belakang, dari kedua sisi panggung masuk dua orang pria yang kemudian mengundang pasangannya untuk masuk. Kedua pasangan ini kemudian bergerak berdansa bersama-sama dengan pria dan wanita tadi. Sejenak kemudian lampu memudar.

*

Tiga

Ditengah pangung seorang pria berdiri diam disorot tajam lampu. Pandangannya lurus kedepan. Bibirnya terkatup rapat, dahinya agak berkerut. Wajahnya gelisah dan kecewa. Tangan kanannya berjuntai lemas, memegang sebuah top, sedang tangan kirinya menggantung pada bahu kanannya. Ia mengenakkan jaket hitam panjang yang basah menetes-netes. Tubuhnya basah kuyup, rambutnya pun basah dan menetesi wajahnya. Dari kedua sisi panggung, sosok-sosok dengan payung yang membuka dan berbaju hitam lalu lalang dengan lambat dari kanan kekiri dan sebaliknya. Beberapa kali mereka lewat sangat dekat dihadapnnya, namun seolah tak ada orang yang berdiri, mereka tak memandangi pria itu. Beberapa kali pula ia mencoba menatap wajah sosok-sosok tadi, namun mereka lewat dengan menundukan kepala. Beberapa kali ia membuka mulut seolah hendak mengatakan sesuatu, namun suaranya tercekat di tenggorakannya. Beberapa saat kemudian ia seperti putus asa dan menundukkan kepala. Dia mengenakkan topinya. Pria itu mulai melangkah perlahan menuju ke samping kiri panggung dan keluar. Sosok-sosok berpayung tetap berselewiran. Selang beberapa saat, seorang wanita masuk dari sisi yang berbeda. Pakaiannya gaun hitam yang basah pula. Rambutnya kusut basah. Ia menengok ke kanan dan kiri. Tangannya di depan dada. Ia mencari-cari seseorang. Ia mulai bergerak mendekati sosok-sosok tadi secara acak seakan hendak bertanya sesuatu, namun mereka tetap berjalan. Ia bergerak adari satu sosok ke sosok lain dengan gelisah, dengan putus asa. Akhirnya ia berhenti di bawah sorotan lampu tengah panggung dan jatuh tersimpuh dengan wajah menunduk. Lampu memudar perlahan.

*

Empat

Panggung berangsur terang. Pada bagian belakang panggung empat sosok berpasang-pasangan dengan baju hitam. Mereka seolah berada dalam dunia sendiri-sendiri. Mereka tak bergerak dan tanpa suara, hanya mimik dan gestur, yang menggambarkan pertengkaran dan amarah. Kemudian masuk sesosok dengan rias dan cat hitam dan putih yang membelah tubuhnya secara vertikal ke panggung bagian depan. Dia memerankan sebuah pertengkaran antara dua orang dengan berganti-ganti karakter. Pada saat dia berada dalam satu karakter dia akan menghadap pada sisi yang satu, dan ketika berpindah karakter ia akan menghadap pada sisi yang lainnya. Pertengkaran ini semakin lama semakin memuncak dan memuncak menjadi lebih beremosi dan cepat berganti-ganti karakter. Akhirnya, ia histeris, menjambak rambut dan berlarian kesana-kemari lalu membanting-banting tubuh dan terkapar dengan terengah-engah. Lampu memudar.

*

Lima

Lampu menyala. Dari sisi-sisi panggung masuk sosok-sosok berpakaian hitam mereka bergerak lambat sambil melihat-lihat sekeliling dengan pandangan kekiri-kanan seolah sedang melihat-lihat sesuatu. Mereka bergerak kekiri-kekanan, zig-zag tak beraturan. Yang masuk dari sisi kiri akan kemudian keluar dari sisi kanan, begitu sebaliknya, begitu terus-menerus. Setelah beberapa saat, dari kiri masuk seorang pria berbaju putih lusuh. Kemejanya setengah terbuka, setengah dimasukkan kedalan celana, setengah keluar. Tampangnya lusuh pula dan menundukkan kepala. Tangannya menggantung lemah. Ia berjalan lambat-lambat disela-sela sosok-sosok tadi, tanpa memperhatikan arah berjalannya. ia seolah hanyut dalam aliran gerak sosok-sosok itu. Ia kemudian tertatih-tatih menuju sisi kanan dan keluar. Kemudian dari sisi kanan seorang wanita berganti masuk. Ia tampak lusuh pula. Rambutnya terburai tak teratur menutupi wajahnya. Gaun yang di kenakannya pun kusut dan kotor. Jalannya lambat dan tak bertenaga, juga hanyut di tengah gerak sosok-sosok itu. Akhirnya ia keluar ke sisi kiri panggung. Selang beberapa saat, mereka masuk bersamaan dari sisi-sisi yang berbeda. Mereka bergerak perlahan dengan emosi dan gestur yang sama dengan pada saat masuk pertama. Tepat ditengah panggung mereka berpapasan, tetapi tak saling memperhatikan dan terus bergerak menuju sisi sebelah dan kembali keluar. Kemudian mereka kembali masuk dengan gaya yang sama, kali ini di tengah panggung mereka bertemu dan berhenti bersamaan. Ada jarak sekitar semeter diantara mereka. Kepala mereka masih tertunduk. Seolah sedang memandang dari ujung kaki menuju ujung kepala orang dihadapannya, perlahan-lahan kepala mereka diangkat. Mereka berhadap-hadapan, berpandang-pandangan. Sorok mata keduanya dingin, tanpa emosi. Ekspresi wajahnya pun dingin. Kemudian kening mereka mulai berkerut. Air muka mereka mulai menampakkan entah kekecewaan entah amarah. Mereka saling tatap mata beberapa saat. Akhirnya mereka kembali menunduk perlahan, dan mulai bergerak tertatih menuju sisi panggung yang berlawanan dan keluar.

*

Enam

Lampu perlahan menyala. Ditengah panggung seorang pria duduk sendirian di sebuah kursi kayu yang dibalikkan, depan menghadap belakang. Wajahnya lusuh, lelah dan kecewa, kancing-kancing bajunya terbuka. Sesekali ia menengadah dan mengusap wajahnya dengan kedua belah tangannya. Matanya kadang melotot, kadang tertutup rapat. Sering kali desahan napasnya naik turun. Dibagian belakang panggung masuk sepasang pria-wanita yang sedang kemudian becengkrama, tangan mereka saling menggenggam. Mereka tersenyum satu sama lain dan saling pandang dengan cinta. Dari jauh mereka telah saling tatap dengan mesra. Mereka bertemu tepat ditengah-tengah. Kedua telapak tangan mereka ditempelkan, mata mereka lekat satu-sama lain. Mereka kemudian berpelukan dengan mesra dan mulai bergerak berdansa dengan lembut. Tiba-tiba keduanya saling melepaskan diri, mengambil selangkah kebelakang. Keduanya saling pandang dengan tatapan heran, kemudian kecewa. Keduanya menundukkan kepala dan mulai melangkah keluar menuju sisi yang berbeda. Pria di kursi tadi menunduk dalam. Tiba-tiba, seolah teringat sesuatu, ia mengangkat muka ke depan. Pandangannya tajam, keningnya berkerut, bibirnya terkatup rapat. Kemudian tangan kirinya bergerak perlahan, namun kaku, menuju ke pinggang belakangnya. Dari sana tangannya mengeluarkan sebuah benda, sepucuk pistol. Ia menatap pistol itu lekat-lekat, wajahnya tegang, matanya membelalak, alisnya berkerut, bibirnya gemetar, tangannya gemetar. Pistol itu ditaruhnya di atas kedua telapak tangannya. Beberapa saat, ia tampak ragu, matanya mengerling ke kanan-kiri. Kemudian, dengan gerakan seketika tangan kanannya menggenggam pistol itu dan langsung menempelkannya di dahi kanannya. Pandangannya lurus kedepan, matanya membelalak tajam, bibirnya mengatup rapat, seluruh tubuhnya bagai kejang, napasnya memburu. Tiba-tiba, ia berteriak histeris dengan suaranya yang terkuat. Lampu mendadak padam.

*

Tujuh

Lampu menyala. Di tengah panggung seorang wanita bergaun hitam berdiri dengan wajah tertunduk dalam, rambutnya terurai menutupi wajahnya. Tangannya menutupi wajahnya. Ketika ia mengangkat wajahnya, tangannya dibiarkan jatuh menggelantung. Wajahnya sedih, matanya berkaca-kaca, pipinya basah oleh air mata. Di sampingnya ada sebuah meja dengan vas bunga berisikan bunga layu. Wanita itu mulai bergerak kedepan, mendekati sisi depan panggung, dengan pandang kedepan seraya terisak perlahan. Makin lama isaknya lebih keras dan semakin menjadi-jadi. Tubuhnya lemah, pijakan kakinya goyah. Tangisnya meledak, tubuhnya berguncang, nafasnya tak beraturan. Ia jatuh berlutut, mukanya tertelungkup mencium lantai. Sekali lagi di bagian belakang panggung masuk seorang pria dan seorang wanita. Dari jauh mereka telah saling tatap dengan mesra. Mereka bertemu tepat ditengah-tengah. Kedua telapak tangan mereka ditempelkan, mata mereka lekat satu-sama lain. Mereka kemudian berpelukan dengan mesra dan mulai bergerak berdansa dengan lembut. Tiba-tiba keduanya saling melepaskan diri, mengambil selangkah kebelakang. Keduanya saling pandang dengan tatapan heran, kemudian kecewa. Keduanya menundukkan kepala dan mulai melangkah keluar menuju sisi yang berbeda. Wanita yang sedang menangis tadi tiba-tiba mengangkat kepala dengan sebuah tarikan napas yang menggema di tenggorokannya. Pandangannya lurus kedepan dengan tatapan kosong. Ia mulai berjalan perlahan ke arah meja. Gerak tubuhnya kaku. Di belakang meja ia berhenti dan kembali memandang ke depan dengan pandangan kosong. Tangan kanannya meraih sesuatu dari atas meja, sebuah belati yang berkilat-kilat. Diangkatnya belati itu dan dipandanginya beberapa saat. Wajahnya tak berubah, malah semakin dingin. Ia kembali mengarahkan mata kedepan. Sejenak ia tersenyum, senyum indah, senyum penuh damai. Sorot matanya melembut. Tiba-tiba ia memegang belati itu dengan kedua belah tangannya dan mengarahkannya ke dadanya. Matanya menutup. Ia berteriak nyaring. Lampu mendadak padam.

*

Delapan

Lampu panggung berangsur menyala. Ditengah panggung tertancap dua buah salib kecil dari kayu berwarna putih, tanda kuburan. Keduanya menghadap ke depan dan diletakkan sejajar bersandingan, berdekatan. Dari sisi-sisi panggung masuk sosok-sosok berbaju hitam satu persatu bergerak mendekati kuburan. Mereka mengelilingi kedua kubur dengan menundukkan kepala. Tangan mereka terlipat di depan. Mereka berdiri mematung tanpa suara. Kemudian, dari depan, dari arah belakang penonton, masuk sepasang pria-wanita berjalan bersama bersisian. Tangan mereka bergandengan, mereka saling berpandangan dengan tatapan yang mesra. Pakaian mereka indah dan putih. Mereka terus berjalan bergandeng tangan menuju panggung. Mereka kemudian naik bersama-sama ke atas panggung. Di panggung bagian depan mereka berdiri berhadapan, saling bertatapan mesra, saling menggenggam tangan. Mereka kemudian saling mendekap erat, seolah tak pernah bersua lama. Mereka kembali berpandangan. Pria itu menatap wanita di depannya dan tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, seolah minta persetujuan, dan dibalas oleh anggukan serupa dari wanita itu. Dari kantongnya pria itu mengeluarkan sebuah gumpalan kertas. Ia kemudian menguraikan kertas itu sehingga menjadi selembar kertas dan mulai metapnya. Pria itu kemudian memberikan kertas itu kepada wanita di depannya dan wanita itu menatap kertas itu juga. Keduanya kemudian tersenyum. Kertas itu kemudian digumpalkan kembali oleh pria itu ia meletakkan itu dengan perlahan di lantai. Keduanya kembali berpegangan tangan. Mereka berdua kemudian melangkah menuju sisi kanan untuk keluar panggung. Sosok-sosok hitam yang sedari tadi mematung mulai bergerak pula. Mereka mulai bergerak menuju sisi sisi panggung yang berbeda untuk kemudian keluar. Panggung sepi. Sesaat kemudian, dari sisi kiri panggung, masuk seorang pria dengan langkah lambat. Ia berjalan menuju ke kedua kubur itu. Di samping kuburan ia berhenti dan berdiri. Ia menatap kuburan itu dalam-dalam. Ia menarik nafas panjang dan tertunduk. Tiba-tiba ia mengalihkan pandangannya menuju ke gumpalan kertas tadi. Perlahan ia mulai berjalan menuju kertas itu dan memungutnya. Sejenak ia mengamat-amati gumpalan itu sebelum menguraikannya. Setelah kertasi itu telah membuka, ia menatapnya sejenak dan kemudian ia mengalihkan pandangannya ke arah depan, pandangan itu tajam dan seolah hendak memandangi setiap mata di hadapannya. Wajahnya tegang, bibirnya mengatup, matanya memicing. Sejenak lagi ia menatap kertas di tangannya. Kemudian ia kembali menatap tajam ke depan. Bibirnya bergetar dan berpuisi:

Jangan cucurkan airmatamu kelak

Kala ragaku tak lagi hangat dengan candatawa

Kala ranum senyumku tak lagi bergema di rongga hati

Kala belai nafasku tak lagi menyapa hari sepi

Jangan cucurkan airmatamu kelak

Kala citaku tlah lalu dihembus angin waktu

Kala buah penaku tinggal nyala kusam di ingatan

Kala kisah hidupku hanya dengung di malam buta

Kala cintaku terkubur beku dalam jasad kaku pilu

Karena tak bisa lagi kudongengkan

Kisah cinta dan kehidupan ke telingamu

Tak mampu lagi kutatap kagum

Sempurna karya indah dirimu

Tak mungkin lagi kurengkuh takjub

Lembut tubuh harummu

Tak sanggup lagi kunyatakan

Deru cinta didasar hati untukmu

Tangisi aku sekarang!

Saat hatiku haru biru karena cinta lekang dariku

Saat mentari harap pupus hampa dari anganku

Saat jari-jari sunyi mencekik kaku nafas jiwaku

Saat hitam kelam pandang mata khayalku

Menangislah bersamaku!

Balut lebam luka jiwaku dengan tangismu

Banjiri kosong lompong hati keringku dengan airmatamu

Puaskan dahaga rasa tubuhku dengan isakmu

Suburkan gersang taman cintaku dengan ratapmu

Karena airmata suci

Adalah bukti bijak dan tulus hati

Bukan sesal dan gundah dihari nanti

Jika jatuh menggerimis kala raga masih bersekutu nafas

Bukan saat nyawa tlah diregang pergi

Setelah membaca pandangannya melunak, wajahnya berubah sedih, pandangannya menerawang kedepan. Ia kemudian menundukkan kepala. Kertas tadi kembali diremasnya. Perlahan ia memasukkan gumpalan kertas itu ke kantong celananya dan mulai melangkah lambat ke sisi kiri panggung dan keluar. Lampu memudar.

SELESAI