DAFTAR PEMERAN:
1.Sosok I (laki-laki/mayat)
2.Sosok II (perempuan/mayat)
3.Sosok III (laki-laki/penarik tandu)
4.Sosok IV (perempuan/wajah duka)
5.Sosok V (laki-laki/penari 1)
6.Sosok VI (perempuan/penari 2)
Terdengar musik mengalun. Sedang di tengah panggung terdapat dua buah bangku dari kayu panjang yang tanpa sandaran punggung dan sandaran tangan diletakkan sejajar. Posisi dua buah bangku tersebut adalah vertikal. Memanjang memotong panggung. Terdapat jarak sekitar dua depa laki-laki dewasa diantara kedua bangku tersebut. Dan sebuah loyang hitam (bisa terbuat dari plastik atau kaleng) berada sebagai pemisah kedua bangku kayu tersebut. Dalam loyang tersebut, ada berbagai jenis tangkai bunga yang semuanya terbuat dari plastik. Sangat banyak hingga menggunung didalam loyang tersebut. Sedang di kedua sisi bangku kayu tersebut ada dua buah gundukan tak dikenali yang diselimuti oleh kain hitam seutuhnya. Lalu di sisi luar yang semakin mengarah ke pinggiran sayap panggung, terdapat tungku kecil yang mengepulkan asap berbau kemenyan. Asap putih namun pekat. Sedang di sekeliling semua itu, ada nyala lilin yang melingkari. Tak kalah menyengat bau pewangi mayat yang ikut meramaian kelam.
Di atas kedua bangku kayu tadi, masing-masing terbaring sosok tubuh. Di bangku sebelah kanan (arah kiri penonton) terdapat tubuh perempuan berjubah destar terusan bermotif bunga. Warna-warninya begitu semarak. Kepalanya berada di depan panggung, sedang kepala sosok tubuh yang disebelahnya berada dalam posisi yang berlawanan meski kedua tubuh sosok itu sama-sama memandang keatas. Sedang diatas bangku kayu yang terletak disebelahnya, terdapat tubuh seorang lelaki. Telanjang dada. Sedang celana panjang yang selimuti kakinya berwarna hitam tanpa motif. Menelan pekat busana sosok disebelahnya. Tangan kedua tubuh ini terjalin dan menyatu di atas dada. Menuju ketenangan abadi. Sedang dari atas panggung tampak berjatuhan serpihan kelopak kembang kamboja berwarna putih. Jumlahnya seperti salju.
Salju kelopak kamboja berhenti ketika muncul sosok lain dari sayap kiri panggung.
Sosok III: (Dari arah sisi kiri panggung muncul dengan wajah tertunduk dengan langkah pelan dan berat, menarik sebuah tandu yang terbuat dari kayu dan dianyam dengan rotan hutan. Di atas tandu tersebut terdapat sebuah sarang burung yang terbuat dari ilalang liar, tiga buah nisan beton belum bertulis nama, dan sebilah parang panjang berlumur darah hingga mengeluarkan bau amis. Ada juga beberapa daun kering berukuran besar diatasnya. Menjadi alas dari bangkai ayam jantan yang juga termuat di atas tandu tersebut. Rambutnya yang basah terurai kebawah sedikit menutupi wajahnya.)
(Berjalan terus hingga ke tengah panggung. Tepat membelakangi loyang dan menghadapi sebatang lilin tunggal. Tandu terlepas dari genggaman hingga menghempas tanah. Wajahnya kini diangkat tegak. Terlihat jelas duka dan amarah berpeluk jadi satu. Beberapa saat mengelilingi lilin tersebut lalu kemudian jatuh tersungkur. Tangis yang tertahan terdengar darinya.)
(Mengambil salah satu nisan tak bernama tersebut lalu dengan meski terlihat kasar mengacungkannya ke langit dengan kedua tangannya. Di sertai raungan parau pedih)
Ini adalah sisa dari mezbah nazarku. Janji dan rindu yang dianyam oleh luka menjadi satu. (Nisan secara perlahan mulai diturunkan, kemudian dengan tangan sebelah kiri di sangga berdiri). Ini adalah kelana sukmaku menembus batas sepi. Pelangi yang gagal kulukis di atas bebatuan, cermin yang retak ketika salju senja dan menua, purnama yang yang kutitipkan namun hilang dicium sajak-sajak amis.
Ini adalah kenajisan Tuhan yang bersemayam di pucuk air yang kemarin dikirim kebumi. Tentang tandusnya senyum yang kusalib di sudut-sudut rindu. (Meraung).
(Suara meninggi). Aaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh. Akan kucincang waktu yang telah meleraiku darimu. Kan kusembelih leher malam yang beri padaku tangis. (Mengambil lilin lalu mengacungkannya keatas). Dalam kesemuan abadi, ditepian remah-remah gelap, kukirimkan doa untukmu. Doa dalam sebentuk daging yang kuiris dari kusut bilik jantungku. Masih merah dan segar, setawar getir yang kini sedang kukunyah. (Menikamkan lilin keperut).
Sosok IV: (Muncul dari sisi kanan panggung. Rambutnya terurai dan menyembunyikan wajahnya yang luka dan duka. Destar terusan putih yang dia gunakan memeluk tubuhnya yang berjalan gontai dan lemah).
Pabila memang Tuhan mau kabulkan pintaku, aku hanya memohon agar waktulah yang mati. Lalu kenapa selalu janji yang harus teringkari? Aku bukan pendendam sepi yang ingin tidur lelap dicambukan bisu. Aku sekedar raga raga sederhana yang percaya pada airmata pasir yang mengendap dilangit, kemudian bersua lagi ketika dewasa. Aku adalah racikan kopi polos dalam lipatan gula. Lagipula daun-daun yang mekar dimusim gugur tak pernah sombongkan diri. (Memeluk tubuh sosok III).
Aku berikan sumpahku padamu, juga pada Tuhanku. Disetiap sujudku, cintamu adalah syahadat bagiku, tanpa kerumitan bahasa. Apakah kau masih ingat ketika kunyalakan korek lalu dengan getir yang terlahir senyum, kudapati sendiri pekat nikotin itu menyetubuhimu. Dan aku jelas cemburu. Sebab kau telah kutebus dari Tuhanmu bahkan dari Tuhanku sekalipun. Kau telah jadi milikku. Biar jadi embun yang menanti surya, meski lupa akan karib kita. Tak mengapa. Bukankah itu juga cinta?
(Berjalan didepan sosok III). Lalu kenapa keabadian ini yang kau pilih? Kenapa bukan tebing yang kau daki? Kenapa bukan arus yang kau perangi? Kau dan aku sama-sama tak kenal siapa itu waktu. Bukankah untukmu telah kubunuh gemerlap masa lalu? Namun, jika ini pilihan, maka jalanmu adalah sunah bagiku. (Mengambil posisi duduk di samping kiri sosok III/sebelah kanan penonton, mengambil botol kecil dari balik kantong bajunya lalu meminumnya).
Kuharap surga kita sama hingga esok pagi bisa kutemukan senyummu untukku. (Mati)
Musik mengalun, dan perlahan dua gundukan yang tertutupi oleh lembaran kain hitam yang berada di samping kedua bangku tampak bergerak. Ternyata ada dua manusia dibalik itu. Seorang laki-laki (Sosok V) dan seorang lagi perempuan (Sosok VI). Laki-laki yang muncul belakangan berada disamping tubuh perempuan yang berada diatas bangku tersebut, sedang perempuan yang muncul belakangan berada disamping tubuh tubuh laki-laki yang terbaring diatas bangku kayu tersebut. Gerakan mereka sangat pelan. Mendekati kedua bangku yang berada disamping mereka. Dari ujung kaki, sampai keujung kepala mereka gerayangi kedua tubuh yang tergeletak di atas bangku tersebut. Masing-masing sendiri. Tenggelam dalam kebisuan gerak yang mereka tarikan. Setelah itu, kedua sosok (Sosok V dan VI) yang muncul belakangan melangkahi kedua kepala masing-masing tubuh yang terbaring diatas bangku tersebut. Lalu bergerak mendekati loyang yang terletak ditengah-tengah pembaringan kedua tubuh tadi. Membongkar gundukan bunga plastik yang ada didalamnya. Mencari sesuatu. Hingga tangkai-tangkai bunga plastik tersebut berhamburan keudara. Setelah tangkai-tangkai bunga didalam loyang tersebut habis dan benda yang mereka cari tak ditemukan, keduanya saling menatap untuk beberapa saat. Berusaha untuk saling mengenal. Kemudian saling mendekat dan saling menggerayangi.
Sosok VI: Jika memang ini adalah mata yang bekukan hati, kenapa tak kulihat ada namaku terpahat didalamnya?
Sosok V: Dalam pandangku, hanya ada sebentuk rindu dalam sepotong puisi bagi satu cinta saja. Apakah kau bait sajak berikut tuk lengkapi goresan rindu ini?
Sosok VI: Aku adalah kepingan senja bagi harimu, tapi kenapa tak ada tangan angin yang memeluk dan berikan aku kebenaran yang tak kutemukan dari rahim yang melahirkanku?
Sosok V: Nestapaku kini tlah kuceraikan jika memang jumpa ini adalah ikrarku yang terbayarkan. Lalu untuk apa mengundang angin? Biarkanlah angin pergi berlalu seperti masa laluku yang kubunuh dijurang ingat.
Sosok VI: Bumi adalah senyum dalam musim, angin adalah nafas untuk pelangi.
Sosok V: Adalah percuma menangisi musim, nanti juga ia kan berpulang. Sedang pelangi, usahlah kau kejar, sebab jatuhnya selalu kan kebumi meski tanpa kehadiran angin sekalipun.
Sosok VI: Pelangi adalah titian hati menjemput mimpi. Jalan menuju sudut sepi agar kita mencumbui sunyi setibanya disana, dalam genggaman. Apakah kau si pemilik tangan itu?
Sosok V: Cinta hanya sekedar rasa. Sebuah ingin memiliki sampai mati. Genggaman tak pernah abadi, ciuman tak selalu hangat ketika dingin. Janji hanya upaya agar jantung tak membeku di musim panas.
Sosok VI: Lalu apakah jantungmu pernah membeku karena teriris waktu? Dapatkah aku melihat bekas guratan itu?
Sosok V: Itu tinggal kenangan demi gadisku karena tlah kusalibkan masa lalu.
Sosok VI: Aku adalah tubuh yang mencintai ingatan.
Sosok V: Aku juga bukan pemuja lupa.
Sosok VI: Apa kau adalah mentari dalam layu gemerlap malam? Apa kau si pencari embun yang menantiku sejak gelap?
Sosok V: Aku adalah malam yang mencari tetes resapan kemarin.
Sosok VI: Maka kau bukanlah dia, dan ini bukanlah surga yang kau tuju. Karena ini adalah taman penantianku terhadap nazar cinta.
Sosok V: Aku adalah kelana menembus sepi dan kau bukanlah purnama itu. Tapi aku yakin inilah adalah surgaku karena disinilah ku bangun candi janjiku pada kasihku, sang bulan yang tak mampu menyanyi.
Sosok V & VI: Kita bukanlah takdir yang dirajut agar bersama. Kita adalah temu yang terlarang. (Bergerak saling menjauh, kemudian kembali mengerayangi kedua tubuh yang terbaring diatas bangku kayu).
Sosok VI: Mungkinkah kau si empunya pandang yang didalamnya tertulis namaku? Cintamu yang kini menyusulmu dalam kejaran waktu?
Sosok V: Apakah kau si empunya nama yang tersimpan dalam lihatku? Cintamu yang kini menyusulmu dalam kejaran waktu?
Bersamaan dengan itu, kedua tubuh (Sosok I dan Sosok II) yang terbaring diatas bangku bangkit perlahan. Kemudian menggeleng.
Sosok I: Kembara ini baru kumulai. Dan entah dimana akan berakhir.
Sosok II: Meski waktu akan tua dan layu bersamaku, hati ini takkan lelah terus menunggu kedatanganmu.
Sosok I dan sosok II kemudian kembali lagi berbaring diatas panggung (lampu padam).
Tabea Waya e Karapi!
Mengapa sastra (baca: tulisan)?
Sebab tulisan adalah bentuk kasat mata dari bahasa yang adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasa atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.
Kemudian: Mengapa pake Bahasa Manado? No kong kyapa dang?
Karena tak ada lagi bahasa lain yang menjadi 'lingua franca" di se-enteru Minahasa hari ini selain bahasa yang dulunya torang kenal juga sebagai "Melayu Manado".
Yang terutama adalah bahwa lewat sastra kita dapat kembali menjabarkan “Kebudayaan Minahasa” hari ini. Dengan menulis kita dapat kembali meluruskan benang kusut sejarah Bangsa Minahasa. Lalu, lewat tulisan, kita menggapai keabadian, io toh?
Tulisan Paling Baru
Naskah Teater Andre GB: "Tentang Penantian".
Puisi Charlie Samola: "INTROSPEKSI MOMAKE ORANG SULUT"
Ada yang bilang “Babi !”
Lantaran Babi sadap kalu so jadi Babi Putar
Ada yang bilang “Anjing !’
Lantaran Anjing sadap kalu so beking jadi RW
Ada yang bilang “Cuki !”
Lantaran samua orang suka Baku Cuki
Ada yang bilang “Pendo !”
Lantaran Parampuang biasa suka terima Pendo
Ada yang bilang “Lubang Puki !”
Lantaran Laki-laki suka skali bage tu Lubang Puki
Kalu ada yang bilang “Cuki Mai !”,”Kuda Cuki !”deng “Pemai !”
Lantaran apa kang ? mo kase alasan apa ?
Diposting oleh Kontributor Tetap Blog Ini di 01.05 0 komentar
Puisi Chandra Dengah Rooroh: "I Will Not Sell My Minahasa".
I will not sell Minahasa
with kawasaran, maengket, watu pinawetengan..
I will not sell Minahasa
with religion, politics, lands and prides...
I will not sell Minahasa
with Keke, tuama, pakakaan, paadean...
I will not sell minahasa
with everything comes from Minahasa...
why...
because I will keep Minahasa
with kawasaran, maengket, watu pinawetengan..
I will keep Minahasa
with tumatenden, waruga, tumotowa
I will keep minahasa
with religion, pakampetan, pasaruan, pasuwengan...
I will keep Minahasa
with waraney, Tounaas, walian, Ukung...
why...
because I'm Minahasa...
I'm MINAHASA!!!
and Minahasa is Victory...
if you are Minahasa, you are free..
I JAJAT U SANTI!!!
Jumat, 06 Februari 2009 | Diposting oleh Kontributor Tetap Blog Ini di 21.45 0 komentar
Label: MAWALE MOVEMENT, puisi
Esei Denni Pinontoan: "Neoliberalisme dan Gerakan Kultural Tou Minahasa"
Wajah Lain Kolonialisme dan Imprealisme dalam Neoliberalisme
Awal dari kolonialisme Bangsa Barat (Spanyol, Portugis, dan menyusul Inggris serta Belanda) terjadi sekitar akhir abad 15, yaitu antara lain ditandai dengan ditemukannya benua Amerika oleh Colombus. Kolonialisme kemudian semakin gencar dilakukan bangsa Barat kira-kira mulai awal abad 16. Sejak itu perlahan tapi pasti dunia mulai berporos pada satu peradaban, yaitu Bunia Barat. Sementara Dunia Timur dianggap kafir, bodoh dan terkebelakang. Padahal, di dunia Timur ini jauh sebelum kelahiran peradaban Barat itu, telah lebih dulu lahir beragam kebudayaan dan agama, misalnya Hindu dan Budha di India dan Tao dan Kong Hu Cu di Cina. Kelahiran agama-agama itu sekaligus juga menandai adanya peradaban maju di Dunia Timur sejak berapa abad SM. Di Dunia Timur inilah terdapat beragam sumber daya alam yang kemudian diincar oleh bangsa Barat.
Kolonialisme dan Imprealisme Bangsa Barat kepada Bangsa Timur berjalan bersamaan dengan Misi Kristen (lihat David J. Bosch, Tranformasi Misi Kristen: Sejarah Teologi Misi yang Mengubah dan Berubah.
Soal kaitan misi Kristen di beberapa abad lampau itu dengan kolonialisme dan imprealisme Bosch berkata: “Dengan datangnya puncak era imprealisme, setelah 1880, tidak dapat lagi keraguan mengenai persekongkolan lembaga-lembaga misi dan usaha kolonial. Kesejajaran antara perkembangan-perkembangan puncal imprealisme dan puncak misi menjadi semakin jelas tampak (Bosch: 1999, 473).
Berabad-abad dalam suasana terjajah, ternyata telah melahirkan semangat bagi bangsa-bangsa jajahan di dunia Timur untuk memerdekakan diri. Sampai di jelang pertengahan abad 20, sejumlah negara jajahan di Asia, misalnya Indonesia, berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kolonialisme dan imprealisme Barat. Sejumlah nation state kemudian lahir di Asia. Bahkan R.A.D Siwu juga menjelaskan bahwa sejak itu negara-negara bangsa baru bekas jajahan itu kemudian giat melakukan pembangunan yang antara lain dengan cara modernisasi dan industrialisasi (Siwu dalam Exouds No. 16, Tahun XII, 2005. Tomohon: Fakultas Teologi UKIT, 2005, hlm. 34). Tapi itu ternyata belum akhir cerita penaklukan Barat terhadap sebagian bangsa yang baru lahir di Asia.
Kolonialisme dan imprealisme kemudian tampil dalam wajah lain, yaitu kapitalisme dan neoliberalisme. Dari sekian masalah di negara bekas jajahan di
Fakih menjelaskan, globalisasi sebagai pengganti pembangunan yang bercorak kapitalis (yang telah gagal itu), ditandai lewat mendunianya sistem pasar, investasi dan produksi perusahaan-perusahaan transnasional (TNCs). Ketiga aktor utama globalisasi menurut Fakih adalah World Trade Organization (WTO) atau organisasi perdagangan global, IMF (International Monetary Fund) atau Dana Moneter Internasional, dan World Bank atau Bank Dunia. Dua lembaga keuangan terakhir tersebut adalah lembaga-lembaga pemberi utang di Dunia Ketiga, yang sangat dipengaruhi oleh Amerika.
Mengenai istilah Dunia Ketiga ini, mengutip Peter Worsley, Noer Fauzi, dalam bukunya Memahami Gerakan-gerakan Rakyat Dunia Ketiga (Yogyakarta: Insist, 2005), menjelaskan: “Istilah ‘Dunia Ketiga’ pertama kali diperkenalkan pada Agustus 1952 oleh Alfred Sauvy, seorang ahli demografi Perancsi untuk menggambarkan negara bangsa yang baru bermunculan di akhir Perang Dunia ke-2 terutama Asia dan Afrika. Istilah “Dunia Ketiga” kian popular setelah konsolidasi Negara-negara anti kolonialisme dan Konferensi Asia-Afrika 1955 di Bandung, yang kemudian dalam golongan ini kemudian masuk pula Negara-negara Amerika Latin.
Soal istilah kapitalisme, Samir Amin (dalam Jurnal Wacana,
Pentingnya Gerakan Rakyat Berbasis Kultural Bagi Tou Minahasa
Pegelaran kuasa-kuasa Neoliberalisme yang tampak dalam sejumlah perubahan pengaturan politik dan ekonomi global telah memberikan dampak bagi
Selama berkuasa, rezim Orde Baru yang tunduk pada pola dan sistem neoliberalisme secara sistematis melakukan upaya penyeragaman kultur, pemusatan kekuasaan, dan eksploitasi atas kekayaan alam masyarakat daerah. Pola manajemen pemerintahan yang kapitalistik bisa dikatakan sebagai faktor penting penyebab terberangus dan terpinggirnya nilai-nilai masyarakat adat. Kearifan local sebagai modal social masyarakat adat perlahan-lahan terkikis oleh terjangan kapitalisme. Negarapun akhirnya dengan sengaja lebih memilih pola kapitalisme dalam melaksanakan usaha pembangunannya. Tapi kita lihat sendiri, selama 30 tahun Soeharto dengan pola manajemen pemerintahan yang seperti itu tidak berhasil membawa rakyat Indonesia ke era tinggal landas, malahan yang didapat kandas di tengah jalan. Negarapun akhirnya mengorbankan keragaman kulturnya termasuk mengeksploitasi secara besar-besaran sumber daya alam demi capaian pembangunan yang kuantitas itu.
Atas nama modernisasi, pemerintahpun membuat kebijakan yang kebanyakan di antaranya tidak berpihak pada keragaman kultur dan rakyat. Tarikan modernisasi ternyata lebih kuat dari pada usaha menjaga dan melestarikan identitas bangsa. Industrialisasi yang tampil bersamaan dengan modernisasi, dan itu yang dulunya Soeharto bilang sebagai pembangunan Indonesia, pada akhirnya hanya meminggirkan rakyat kecil. Akhirnya, ketika globalisasi yang memakai perangkat modernitas telah menjadi keniscayaan, maka tersentaklah kita. Apa kekuatan kita menghadapinya?
Fakih mengatakan: “…sesungguhnya globalisasi tidak ada sangkut paut dengan slogan kesejahteraan rakyat atau keadilan social di Negara-negara Dunia Ketiga, melainkan lebih didorong oleh kepentingan modal berskala global milik Negara-negara kaya dan perusahaan raksasa.”
Bahkan menurut Fauzi, neoliberalisme di Dunia Ketiga merupakan babak kelanjutan dari pembangunisme. Namun, menurut Fauzi, neoliberalisme yang menggelar kuasa-kuasanya dengan cara yang berbeda dengan pembangunanisme, telah menjadi konteks baru dari gerakan-gerakan rakyat berbasis kultural di Dunia Ketiga. Maksudnya, kuasa-kuasa neoliberalisme yang hanya mengeksploitasi dan memiskinkan itu mendapat tantangan dengan lahirnya suatu kesadaran baru yang berwujud dalam gerakan-gerakan rakyat.
Agaknya, meski kondisi kita, rakyat dan masyarakat adat ibarat anak manusia yang kondisi tubuhnya lemah akibat perang, tapi, revolusi, kebangkitan peradaban dan pembebasan selalu datang dalam kondisi yang hampir rusak seperti ini. Kondisi yang menyengserakan seolah-olah mendorong kita untuk memaksimalkan semua potensi dalam melakukan gerakan perlawanan. Maka, sebuah gerakan rakyat berbasis kultural bagi Tou Minahasa adalah harga mati untuk sebuah perjuangan membebaskan diri dari cengkeraman totaliterianisme negara dan neoliberalisme global.
Gerakan rakyat berbasis kultural mari kita pahami sebagai cara untuk menemukan makna sebenarnya menjadi manusia dengan maryarakatnya yang merdeka. Gerakan rakyat berbasis kultural adalah gerakan pembaruan pemikiran dan aksi dalam merespon atau bahkan melawan kuasa-kuasa yang menindas, termasuk kuasa penyeragaman oleh negara yang masih berlanjut dan kuasa neoliberalisme yang telah menghancurkan kearifan lokal Tou Minahasa.
Apa yang harus kita buat dalam konteks gerakan rakyat berbasis kultural itu? Pertama, menurut saya adalah dengan cara memaknai kembali budaya kita Minahasa. Ini terkait dengan usaha pembaruan pemikiran kebudayaan kita. Interpretasi baru terhadap sejumlah sistem nilai peninggalan leluhur, seperti mapalus, prinsip “Si Tou Timou Tumou Tou”, semangat egaliter dan demokratis yang khas Minahasa perlu dilakukan. Kedua, semua elemen masyarakat Minahasa mestinya memiliki kesadaran bersama yang berwawasan nasional dan global yang berpijak dari perspektif lokal untuk memahami fenomena-fenomena yang sedang berlangsung. Misalnya, kita barangkali perlu bertanya, kenapa kita tiba-tiba menjadi konsumtif dan hedonis dengan gemar menikmati produk-produk kapitalis yang sebenarnya hanya mengeyangkan perut kita sesaat, tapi memiskinkan kaum kita? Kenapa kita kemudian berkelahi dengan kehadiran perusahaan-perusahaan milik asing seperti PT. MSM di Likupang? Tidak bisa kah kita sepahaman untuk menolak kuasa-kuasa ekonomi yang berbahaya bagi keselamatan Tanah ini? Kita juga perlu bertanya, apakah desentralisasi yang kita maknai antara lain dengan melakukan pemekaran di sana-sini, memang adalah kebutuhan kita? Berikut kita juga perlu mencermati fenomena korupsi yang dilakukan oleh kepala-kepala daerah atau pejabat-pejabat di daerah kita. Apakah mereka itu (yang diduga atau telah terbukti melakukan korupsi) memang rakus adanya, atau jangan-jangan otonomi daerah ini adalah perangkap yang sengaja dirancang oleh rezim untuk menghancurkan persatuan dan kesadaran kultural kita?
Ketiga, gereja-gereja atau agama-agama lain di Tanah Minahasa perlu melakukan evaluasi terhadap model berteologi yang sedang dijalankan sekarang. Sebab, pendahulu kita, telah cukup melakukan beberapa pencitraan negatif terhadap Tanah Minahasa dengan mengkafirkan sejumlah kearifan lokalnya. Berteologi dengan memperhatikan kekhasan dan kesakralan Tanah Minahasa adalah upaya teologis gereja atau agama-agama dalam ikut serta pembaharuan kehidupan peradaban Tanah Minahasa. Keempat, perguruan-perguruan tinggi, negeri atau swasta mestinya menjadi basis bagi (calon) pemikir-pemikir Minahasa untuk usaha kebangkitan Minahasa bersama. Di UKIT (YPTK), khususnya Fakultas Teologi, saya tahu memiliki kepedulian yang tinggi bagi usaha kemajuan Tanah Minahasa. Sejumlah hasil penelitian dosen maupun mahasiswa, menunjukkan semangatnya untuk memaknai Injil dalam konteks Tanah Minahasa. Usaha ini positif karena dengan begitu kita kemudian tidak mensubordinasi kebudayaan Minahasa di atas Injil. Pengalaman lalu, dengan masih kuatnya dominasi teologi Barat gereja tak lebih dari sebuah lembaga “sakral” yang kerjanya hanya medikte kebudayaan.
Kita memang akhirnya tak lagi harus berharap banyak dari negara untuk kemajuan tanah kita. Sebab, negarapun ada dalam penderitaannya sendiri akibat dikoyak-koyak oleh kuasa neoliberalisme sebagai bentuk kolonialisme dan imprealisme yang baru.
Inilah tantangan Tou Minahasa di abad globalisasi dan postmodern ini.
Tulisan ini pernah dipublikasikan di
Selasa, 03 Februari 2009 | Diposting oleh Kontributor Tetap Blog Ini di 18.40 0 komentar
Label: esei, MAWALE MOVEMENT
Puisi Sylvester "Ompi" Setligt: "Sorga Tak Selamanya Indah"
Di ruangan ukuran 3x4 itu kita menjadi satu
Hanya ada sebatang lilin yang diam-diam mengintip
Dengan suara jangkrik sayub-sayub terdengar
Menambah adrenalin yang memang sudah tak tahan untuk di ledakan
Pasrah..
Kata yang bisa di gambarkan dalam kepalaku
Nikmat..
Kata yang dapat di lukiskan di kanvas wajahku
Menyesal..
Kata yang sangat tepat untuk menambah pengorbananku
Tak pernah terbayang
Begitu cepat aku bertemu sorga
Saat mental belum siap
Dan aku pun harus memikul sorga itu sendiri
Kalau hadiah yang kau berikan ini
Adalah hukuman padaku atas hilafku
Akan ku jaga sampai waktu tak mengizinkan ku lagi
Tapi izinkan aku berharap
Sebelum dunia mencampakanku
Jangan kau timpali kesalahanku
Pada generasi berikutku
Awal yang buruk bagi sebuah kebahagiaan
Tapi sorgaku bukan sorgamu
Aku bukan gladiator yang siap bertarung
Untuk mendapatkan ciuman permaisuri
Aku hanyalah anak polos
Yang berusaha menjadi lagar
Maaf bila ku langgar komit di kamar itu
Masih ada bintang yang belum ku petik
Dan itu bukan kau atau dia
Maaf bila aku hanya bisa berikan egoku
Sebagai pengganti tanggung jawabku
Sakit untuk di ingat
Sakit pula bila di lupakan
Waktu selalu sama
Tapi bumi berputar
Tetap berjuang kawan
Buat dia bisa melihat dan menikmati
Anehnya dunia ini
Cayooo....!
(Admin: Ini puisi pertama Ompi yg da publikasi di blog. Setelah pastiu main teater, akhirnya dia batulis puisi... adu bage di mana eee)
Jumat, 16 Januari 2009 | Diposting oleh Kontributor Tetap Blog Ini di 19.08 0 komentar
Label: puisi
Esei Chandra Dengah Rooroh: ”Batu Lisung & Batu Nona, Batu Siouw Kurur, dan Tenget Watu! Pembawa Pesan yang mulai hilang Tujuan”
Secuil catatan 2 dari Ekspedisi Tonsea, Makalisung, kema, Sagerat dan Treman
02 - 05 November 2008
“(Manusia) menjadi bebas terhadap ikatan- ikatan yang berasal dari luar. Yang mencegahnya bertindak dan berpikir menurut apa yang mereka anggap cocok. Ia akan bertindak dengan bebas jika ia tau apa yang hendak di inginkan, dipikirkan, dan dirasakan. Tapi masalanya ialah bahwa ia tidak tahu, dan karena ia akan menyesuaikan diri dngan penguasa- penguasa yang tidak dikenal dan ia akan mengiyakan hal- hal yang tidak disetujuinya. Semakin ia bertindak demikian, semakin ia tidak berdaya untuk merasa dan semakin ia ditekan untuk menurut! Manusia modern, meskipun dipulas dengan optimisme dan inisiatif, dikuasai oleh perasaan amat tidak berdaya bagaikan orang lumpuh yang hanya mampu menatap malapetaka sebagai tak terhindarkan.- Erich Fromm, Escape from freedom”.
Ada perasaan yang lucu campur malu secara pribadi bagi saya terasa ketika perjalanan kami dimulai di wilayah Tonsea, maklum disinilah saya berasal yaitu di wanua (kampung) kecil yang bernama Treman (bukan Preman ok) diwilayah minawerot, daerah antara Airmadidi dan Bitung dibawah kaki gunung Klabat, 28kilometer dari titik nol kota Manado. Langkah kami (Mawale Movement), Saya, Greenhill weol, Fredy Wowor, Frisky Tandaju dan Bodewyn Talumewo dan Kent Oroh berayun ke desa yang paling jauh diwilayah Minahasa Utara bernama Makalisung langsung disambut dengan hujan dan petir begitu kami sampai disana otomatis basah kuyub yang kami terima, permulaan yang menyenangkan pikir saya dongkol. Untunglah ada sebuah keluarga yang sangat baik hati dapat meluangkan tempat untuk kami berteduh sementara sekalian memberikan informasi tentang keadaan sekitarnya termasuk keberadaan situs Batu Lisung itu. Tanpa ba-bi-bu lagi begitu langit memperlihatkan senyumnya kepada alam untuk membuka jalannya, kami bergegas mencari tempat itu. Di perjalanan yang sedikit menguras tenaga karena pendakian kami sedikit dibingungkan oleh beberapa buah objek yang sering kami anggap bahwa itulah tempatnya (maklum itu pertama kali kami mencarinya), sehingga kami sudah terdampar jauh hampir 1200 meter melewati lokasi itu, kamipun kembali dan berhubung salah satu teman saya (Bode) mempunyai perasaan yang kuat dengan tempat- tempat seperti itu akhiranya bukit yang disebalah timur itu diklaim sebagai tempat situs itu.
Ternyata memang benar inilah tempatnya, tapi selain sulit untuk menaikinya dan Greenhill harus berjuang beberapa melewati barisan tentara alam dan akhirnya harus terjungkal juga karena tagate di tali pohong (semak pohon), sampailah kami dipuncaknya. Ada sekitar lebih dari 20-an batu yang berbentuk lisung ditempat itu. Heran bercampur takjub kami terus mencari lagi sisa batu itu dengan menyisir sebagian timur bukit itu dan tak disangka saya dikagetkan oleh kepakan sayap burung yang lembut namun lebar itu terbang kelangit.”Titikak!” (sejenis Burung Hantu), temanku berkata. Dalam hati saya membenarkan saja karena saya telah melihatnya sendiri, dengan alis yang menyembul keluar dan muka seperti perangai yang marah, mungkin itulah jenis burung Hantu yang dipakai sebagai lambang Minahasa. Yang lebih menarik lagi, burung tadi telah meniggalkan seekor bayi burung tergeletak dengan sayap terbuka. Secara refleks kami menjauhi tempat itu dengan perasaan yang sangat bersalah tapi memang bukan itu tujuan kami, mengganggu keberadaannya. Di sisi jurang bagian utara kami menemukan sebuah batu yang sangat besar lubangnya serta ada guratan- guratan dibagian pinggir batu itu. Hati saya senang sekali, berpikir bahwa tidak banyak orang- orang khususnya orang Minahasa yang mampu melihat benda seperti ini yang konon telah melewati perjalanan waktu ini dan mungkin menitipkan pesan bahwa sebelum kami sudah pernah ada orang (Leluhur) yang telah hidup disini.
“Sebuah konsep latar pertahanan yang kuno namun sangat efektif untuk tempat ini dimana orang- orang dulu bisa berlindung”. Lamunan kami dikagetkan oleh perkataan fredy. Memang benar setelah dianalisa, tempat ini adalah sebuah bukit kecil, dngan bebatuan disekelilingnya, mampu menjangkau penglihatan sampai ke daerah yang sangat jauh kedalam tanah minahasa maupun luar minahasa, dapat mengintai setiap pergerakan disekitar wilayah itu baik teman maupun lawan! “ah, lihat bentuk tempat ini seperti altar pemujaan pada jaman dahulu” Greenhill kemudian menimpali… Ada benarnya juga. Semoga tetap menjadi pembawa saksi untuk generasi selanjunya, kalaupun saja ada orang- orang yang mau peduli dengan tempat yang seperti ini. Setelah puas dan sedikit mengabadikan tempat itu, kamipun turun, dan kembali ke kampong untuk bersiap- siap melanjutkan perjalanan ke desa kema.
Sesudah berpamitan kepada saudara yang telah menerima kami dengan sangat baik tadi kamipun segera meluncur ke Kema dengan menempuh sekitar 20 menit perjalanan. Desa Kema adalah sebuah desa diwilayah bagian tenggara Tonsea- Minahasa yang bisa ditempuh dengan waktu sekitar 45menit dari titik nol kilometer kota Manado. Dengan sebagian besar lanskape wilayah perairan itu pada umumnya masyarakat disini bergantung hidupnya pada mata pencaharian dilaut. Aaah.. cukup penjelasannya, toh saya sudah melihatnya sendiri. Sampai diperempatan desa kema kami berbelok kea rah kanan dan mulai memasuki daerah wisata Batu Nona. Perasaan saya mendadak jadi aneh, demikian juga ketika melihat sebagian teman- teman yang hanya tersenyum- senyum kecut pada saya! Saya menjelaskan bahwa wilayah daerah wisata itu berada dibalik bukit sebelah sana, kataku menyimpulkan!
Namun apa mau dikata, terkejut, terhina, malu, marah, frustasi, hancur, dan hamper menangis, semua semua perasaan bercampur jadi satu keluar saja dari pikiranku begitu melihat tempat itu. Batu Nona, kenapa wajahmu terlihat buruk? kenapa terlihat sendu? Tempat yang dulu sangat asri, sejuk dengan pantai yang jernih kini menjadi keruh, 2 bukit yang hijau disebelah sana yang dulu begitu hijau kini terasa panas dan gersang, perahu- perahu berserakan dimana- mana, rumah- rumah yang entah mempunai ijin atau tidak berdiri dimana- mana, coret- coretan dimana- mana, galian- galian lubang harta karun dari orang- orang yang tidak bertanggung jawab terlihat disana- sini, ada juga segerombolan orang- orang sedang mennggak minuman keras disekitar situ, dan yang lebih mengejutkan saya lagi ada sebuah bangunan permanent bertuliskan “pabrik es mini”. Pikiranku langsung menegaskan bahwa ini bukan daerah wisata batu Nona dulu itu, ini bukan tempat berkunjung/ berwisata dan tempat memperlihatkan betapa cantiknya daerah malesung yang sebenarnya itu, ini PELABUHAN!! Bukan, pelabuhanpun tidak seberantakan ini… tapi yang pasti ini bukan lagi proyek pemerintah pariwisata dan budaya yang dulu telah menghabiskan miliaran rupiah demi pembangunan dan pemeliharaan tempat ini. Apakah orang- orang disekitar sini telah melupakannya?? Dimana canda tawa anak- anak rombongan wisata itu, dimana pedagang gorengan yang selalu mangkal di pinggir Los rumah sebelah sana? Dengan linangan airmata saya berlari sekuat tenaga mencari batu itu, sesampai didepannya, tatapan nanar seakan menatapku didepan mataku sendiri, mungkin hendak mengatakan, “kamana ngana selama ini, kyapa baru datang lia pa qta skarang? (kemanakah engkau selama ini, kenapa baru menemuiku sekarang?”. seluruh tenaga saya keluarkan untuk berteriak sekuat- kuatnya ditempat itu.
Apa dayaku? mungkin tak berdaya saat itu… tidak ada lagi tempat untuk menyombongkan diri dihadapan teman- temanku, tidak ada lagi sebuah tempat diwilayahku yang akan kuberitahu pada dunia bahwa disini ada sebuah fenomena alam yang sangat menarik. pikiranku hancur saat itu, apakah mungkin Waruga yang ada di dalam air itu sudah tidak ada lagi?? Mari kita pikirkan kembali dan kalo siapa saja yang ingin atau pernah ketmpat ini pasti sudah pernah mengenal tempat ini dan saya jamin 100% kalau kalian datang lagi sekarang pasti akan salah jalan. Semua ingatan langsung terhapus menyaksikan kegilaan ini… dengan langkah gontai dan dendam yang sudah tersulut demikian besarnya. saya mengajak teman- teman untuk meneruskan perjalanan ke Sagerat, dengan perasaan kurang semangat saya memimpin rombongan yang harus eberapa kali tersesat karena belum tau pasti dimana lokais situ situ berada, tapi satu semangat yang masih membara memaksakan kami yang pada akhirnya sampai di tujuan.
Sebuah tempat yang bkata orang bernama Erpak adalah suatu tempat yang mungkin buat saya adalah tempat yang fenomenal, lihat saja sepanjang perjalanan tadi, tak satupun ada bebatuan yang saya lihat tapi didepan saya sudah berdiri megah sebuah batu yang diameternya mungkin lebih dari 15meter itu membuat saya terheran- heran sekaligus melupakan kejadian tadi. Itulah Batu siouw kurur. Situs ini berada di geo-strategy 4km dari titik nol kota Bitung. dinamakan seperti itu karena diangkat dari sosok urban legendnya orang Minahasa Opo Siouw Kurur, Dia adalah salah satu dari 3 penasihat Opo Muntu Untu jaman pertamanya hidup orang Minahasa, mengemban tugas sebagai penasihat, Kurir sampai tukang Raghes (algojo pemotong kepala). Dan batu ini adalah salah satu pos persinggahannya diwilayah Tonsea bagian timur, sebelumnya juga dikatakan warga masyarakat bahwa ada juga batu seperti ini dibeberapa wilayah di Tonsea seperti Toka Tawalan & tokaimarang desa Treman dan Bukit Makawembeng! Sedikit berlepas lelah dan bertukar pikiran, sambil menukar persepsi dan data hingga diskusi Grenhill sampai ke pojok Permesta, bersenda gurau kami lakukan disitu sehingga tak terasa perut kami keroncongan dan memaksa kami untuk pulang. Lucunya, saya tidak melihat juru kunci disitu sama seperti tempat- tempat yang lain. Tapi tetap pernyataan saya bahwa tana’ orang Minahasa sampai jauh ke utara tangkai Celebes ini dan sudah ada buktinya! tapi apakah orang minahasa telah menyadarinya? Apakah mereka tau akan kehadiran batu itu?
Sampai di Treman kami langsung dihadiakan kopi pahit panas oleh orang tua saya, kontan saja kami langsung tangingi- ngingi sanang ( tersenyum lebar) karena tadi harus bergulat dengan dinginnya alam. Setelah selesai makan kami berencana untuk istirahat tapi Greenhill sangat bersih keras untuk segera melihat tenget Watu (batu Lisung), sebuah situs yang ada di Treman yang berlokasi di wilayah perkebunan Eris. Dengan langkah gontai tapi masih diikat dengan semangat, tim yang tinggal saya, Freddy dan Greenhill itu mengarah ke selatan desa Treman. Jujur saja, cukup sulit untuk menemukan Tenget Watu karena selama hidup saya baru 2 kali saya melihat keberadaannya disitu. Satu hal yang membuat saya sangat kecewa sesampainya disana setelah beberapa kali bertanya, keadaannya tidak lagi terurus, jalan masuknya saja sulit diketahui orang, bagaimana orang lain akan mengetahuinya, mungkin saja saya menjamin bahwa generasi sekarang orang kampung Treman pun sudah tidak tau lagi tempat ini, tempat yang pernah menjadi Puser in tana’ nya orang- orang Tareuman ( artinya ; yang pertama, atau pembaharuan dari nama desa Treman sekarang), saksi perjalanan yang hebat dari Malesung Besar mencari dunia baru, mungkin saja orang- orang Treman sekarang sudah tidak mengerti lagi bahwa Dotu Tua pembawa leluhur- leluhur Treman adalah orang kuat yang Bergelar Lengkong Waya… mungkin saja disini dimulainya peradaban orang Tonsea kalawat pertama sehingga menjadi rumpun Tonsea yang besar ketika memulai perjalanan yang eksotis dari kelewer dan keraris termasuk eris sampai ke minawanua dan berakhir di Tareuman jaya.. apakah kita sudah mengetahuinya?? Saat ini kita sudah kabur dan sudah tidak tau- menau akan sebenarnya darimana tempat kita berasal, dan mungkin saja sebentar kita akan kehilangan tempat dimana kita berasal… mungkin saja…
Dan mungkin saya harus mengakhiri catatan ini dengan Satu pertanyaan yang melingkar dikepala sampai saat ini, apakah sebagian wilayah di ujung utara Malesung ini masih Tana’ adatnya orang Minahasa Tonsea lagi atau bukan??? Impian saya, mengembalikan harkat dan martabat tanah & masyarakat yang saya cintai ini… (Qta lapas napas panjag lia samua ini, nda sadar minahasa so jaga baganti kuli, dalang hati kita Cuma rasa manages deng batahang diri. Cuma satu yang tatap tabakar dihati, mo ambe ulang qta pe tana deng I jajat U santi!!!, kutipan dari buku puisi bahasa manado JONGEN SPOKEN, Ch. D. Rooroh).
Diposting oleh Kontributor Tetap Blog Ini di 18.56 0 komentar
Label: esei, MAWALE MOVEMENT, Reportase
Esei Denni Pinontoan: "Mesias Lahir Di Pinabetengan"
Sebuah Usaha Memaknai Natal Yesus Kristus dalam Konteks Minahasa Kontemporer
Oleh Denni Pinontoan
Selasa (9/12) malam lalu, di Watu Pinabetengan sekelompok anak muda Minahasa merayakan Natal Yesus Kristus dengan cara mereka sendiri. Tidak ada lagu Natal. Tidak tampak hiasan yang khas perayaan Natal, semisal pohon Natal, lampu kelap-kelip, dan tidak ada lilin-lilin yang diatur berbentuk salib untuk secara bergantin dinyalakan oleh orang-orang berkelas. Dan juga tidak ada khotbah dan doa yang dogmatis dari seorang pendeta atau evangelis. Khotbah diganti dengan diskusi intelektual, pujian-pujian diganti dengan pembacaan puisi secara bergantian, terang lilin diganti dengan nyala lampu petromaks.
Di bagian depan bangunan yang menutup Watu Pinabetengan yang monumental itu, sekelompok anak muda Minahasa ini duduk melingkar. Ada yang bersila sambil menyandarkan badan di dinding beton bangunan itu, dan yang lainnya bersila di atas lantai yang terbuat dari semen. Malam itu memang tidak tampak ada sekelompok orang yang sedang merayakan Natal Yesus Kristus, sebagaimana lazimnya umat Kristen merayakan Pohon Terang. Tapi bagaimanapun, bagi mereka itu adalah perayaan Natal. Tapi, apapun bentuknya acara malam itu, yang jelas, bagi mereka inilah cara praktis tapi bermakna dalam usaha memaknai Natal Yesus Kristus dalam konteks Minahasa.
Sekelompok anak muda Minahasa ini terdiri dari berbagai elemen, antaranya dari Komunitas Pinabetengan Muda (anggotanya kebanyakan dari pemuda Desa Pinabetengan), Mawale Movement dan perwakilan Teater Unggu UNIMA. Mereka memang berada dalam komunitasnya masing-masing, tapi semua berada dalam spirit yang sama, yaitu sedang dalam usaha melakukan pergerakkan Keminahasaan.
Tema perayaan Natal Yesus Kristus oleh anak muda Minahasa di malam itu adalah: ”Mesiah Lahir di Pinabetengan”. Sebuah tema yang provokatif tapi sebenarnya relevan dan penuh makna dalam usaha memaknai Injil Yesus Kritus dalam konteks penggerakan Minahasa. Barangkali bagi banyak orang ini kontroversi, sebab sejak sekolah Minggu umat Kristen telah diajarkan bahwa Yesus lahir di Betlehem bukan di tempat lain, apalagi di Pinabetengan. Tapi tema ini sebenarnya sedang usaha memaknai makna dalam dalam kekinian dan kedisinian Minahasa.
Watu Pinabetengan sengaja dijadikan sebagai tempat untuk melakukan ritual intelektual itu mengingat dalam pemaknaan sekarang bagi Tou Minahasa Watu ini memiliki nilai historis dan kultural yang tidak bisa dilepaskan dalam merefleksikan keminahasaan. Menurut Freddy Wowor dan Greenhill Weol (penggiat Mawale Movement) dan Fryski Tandaju (dari Pinabetengan Muda), ini adalah cara yang tepat dalam memaknai nilai Watu itu. Sebab menurut mereka, Watu Pinabetengan sejatinya adalah tempat berdiskusi dan bermusyawarah seperti yang dilakukan oleh para dotu Minahasa tempo dulu.
Diskusi malam itu berlangsung alot dan penuh makna dalam usaha memikirkan keminahasaan kontemporer. Pembicaraan yang serius mengarah ke dua pertanyaan, yaitu, ”Siapakah Yesus dalam Konteks Minahasa?” dan ”Siapa Tou Minahasa itu?” Dua pertanyaan ini akhirnya menjadi pemicu dalam usaha menginterpretasi ulang makna kelahiran Yesus, dan usaha menjawab tentang jati diri Tou Minahasa yang terus berdialektika dalam sejarah.
Ketika mendiskusikan pertanyaan, ”Siapakah Yesus dalam Konteks Minahasa?” saya kemudian teringat pertanyaan Yesus kepada murid-murid-Nya yang ditulis oleh para penulis Injil. Lukas 9:20-21 (dapat juga dibaca dalam Mat. 16:15-6 dan Mrk. 8:29) menulis: ”Yesus bertanya kepada mereka: ’Menurut kamu, siapakah Aku ini?’ Jawab Petrus: ’Mesias dari Allah.’” Matius menulis jawaban Petrus itu dengan: ”Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup!” Sementara Markus menulis: ”Engkau adalah Mesias!”
Inilah pertanyaan yang mestinya dijawab oleh gereja (sebagai sistem nilai maupun sebagai lembaga) sepanjang abad. Sebuah pertanyaan yang sebenarnya ingin menegaskan pengakuan iman dan kepercayaan atas kemesiasan Yesus, Raja yang diurapi, pembebas dari segala bentuk kuasa yang mencengkeram dan menindas. Injil Yesus Kristus mestinya berkisar pada spirit atau semangat pembebasan, pemerdekaan, keadilan dan damai sejahtera bagi yang tertindas, kaum yang lemah karena diskriminasi dan marginalisasi oleh kuasa apapun termasuk kekuasaan negara yang represif.
Pertanyaan siapakah Yesus menurut kita, sekarang ini menjadi pokok pembicaraan dalam diskusi-diskusi gereja-gereja Asia. Dalam usaha menemukan siapa Yesus dalam konteks Asia itu akhirnya mengarahkan kita pada apa makna Injil Yesus dalam konteks yang plural (SARA), totaliterianisme kekuasaan negara, kemiskinan, kuasa neoliberalisme dan berbagai persoalan lainnya. Ini sebenarnya sama juga dengan bertanya: ”Siapa Yesus dalam konteks kebudayaan kita?” Akhirnya, mau tidak mau, jawaban atas pertanyaan ini akan menyentuh persoalan sosial, politik, ekonomi dan budaya kita. Dengan demikian, Injil Yesus Kristus dan makna pengosongan diri Allah melalui kelahiran Yesus tidak hanya akan menjadi kata-kata indah untuk disyairkan yang hanya membuat umat atau rakyat tertidur secara terpaksa dalam keadaan lapar akibat pemiskinan oleh kuasa neoliberalisme, menderita karena konflik/peperangan, dan tertindas di tanah sendiri akibat kamuflase politik negara.
Natal dan Injil Yesus Kristus akhirnya harus bermakna pembebasan, pemerdekaan, penerimaan, keadilan dan damai sejahtera. Dalam konteks kebudayaan kita Minahasa, Natal dan Injil Yesus tentu bukan lagi bermakna mendikte dan menvonis salah nilai dan bentuk budaya yang dipahami dan dipraktekkan Tou Minahasa, melainkan lebih sebagai spirit dan semangat dalam usaha penggerakkan keminahasaan yang berhadapan dengan ancaman neoliberalisme, kekuasaan negara yang mutlak, dan perilaku pragmatis dalam Pilkada, Pilcaleg, serta kerja politik elit kita di lembaga eksekutif dan legislatif. Dengan penuh keyakinan kita mestinya merumuskan pengakuan iman kita orang Minahasa dengan memaknai Natal dan Injil Yesus sebagai spirit perlawanan terhadap segala kuasa yang menyesatkan itu. Itulah jawaban kita Tou Minahasa atas pertanyaan Yesus: ”Menurut Kamu, Siapakah Aku ini?” Dengan demikian, sebuah pengakuan iman khas kebudayaan Minahasa telah kita rumuskan.
Terkait dengan itu, kita juga harus menjawab pertanyaan: ”Sei sia se tou Minahasa?”, ”Siapa Orang Minahasa?” Dalam diskusi di Watu Pinabetengan itu berhasil disimpulkan bahwa orang Minahasa bisa berdasarkan geneologis, berdarah Minahasa dan juga bisa siapapun dia, dari manapun asalnya, tapi tinggal di Tanah Minahasa dan mampu membuktikkan komitmennya atas perjuangan Minahasa untuk mencapai cita-citanya. Minahasa memang bermakna pluralisme. Minahasa berarti bersatu dalam perbedaan, atau keberagaman yang berkomitmen berjuang bersama-sama untuk mencapai cita-cita yang sama. Itulah bangsa Minahasa secara kultural. Sehingga Minahasa tidaklah harus diidentikkan dengan agama Kristen. Bahwa nilai kekristenan telah mempengaruhi atau memberi isi bagi kebudayaan Minahasa sampai hari ini, ya, tapi agama Kristen identik dengan Minahasa secara teritorial dan politik barangkali tidak, dan keliru kalau kita menyamakannya.
Pertanyaan Yesus, ”Menurut kamu, siapakah Aku ini?”, memberi ruang bagi manusia dalam ruang dan waktunya untuk mengekspresikan imannya kepada Yesus sebagai Mesias Anak Allah, yang membawa kabar damai sejahtera, kebebasan dan keadilan. Jawaban yang diberikan tentu akan bermacam-macam. Tapi bentuk jawaban itu akan selalu berdasar pada dua hal, yaitu siapa yang memberi jawab dan dalam kebudayaan (ruang dan waktu) apa si pemberi jawab itu hidup. Injil Yesus Kristus sebagai spirit melampaui ruang dan waktu manusia, tapi cara mengekspresikannya mestinya berbentuk hasil dialog antara makna Injil yang tetap itu dengan ruang dan waktu manusia yang selalu berubah.
Makna Natal dan Injil Yesus Kristus mestinya bukan hanya soal ”surga” yang akan datang dan konon itu, tapi terutama adalah soal sekarang, hari ini. Minahasa hari ini, adalah Minahasa yang sedang bergolak hebat dengan persoalan sentralisme kekuasaan negara, serbuan kuasa kapitalisme dan neoliberalisme yang memakai perangkat globalisasi, serta pragmatisme elitnya – yang kebanyakan adalah Tou Minahasa – dalam jabatan-jabatan politik serta ekonomi yang dengannya terbentuk kelas-kelas sosial yang saling menindas. Spirit Natal dan Injil Yesus Kristus mestinya bermakna perlawanan terhadap segala kuasa yang sesat itu. Sebab keselamatan mestinya juga bermakna hari ini, yaitu keselamatan atau pembebasan atas segala kuasa dunia yang menindas dan memiskinkan (Luk. 4:18-19).
Selasa, 23 Desember 2008 | Diposting oleh Kontributor Tetap Blog Ini di 22.21 0 komentar