Tabea Waya e Karapi!

Sastra for Minahasa Masa Depan!

Mengapa sastra (baca: tulisan)?

Sebab tulisan adalah bentuk kasat mata dari bahasa yang adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasa atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.


Kemudian: Mengapa pake Bahasa Manado? No kong kyapa dang?

Karena tak ada lagi bahasa lain yang menjadi 'lingua franca" di se-enteru Minahasa hari ini selain bahasa yang dulunya torang kenal juga sebagai "Melayu Manado".

Yang terutama adalah bahwa lewat sastra kita dapat kembali menjabarkan “Kebudayaan Minahasa” hari ini. Dengan menulis kita dapat kembali meluruskan benang kusut sejarah Bangsa Minahasa. Lalu, lewat tulisan, kita menggapai keabadian, io toh?



Tulisan Paling Baru

ini tong pe posting terbaru.

Puisi-Puisi Arie Tulus: "Minahasa Raya, Hoi, Tomohon"

Minahasa Raya
Catatan dari sebuah diskusi.
1
semalam suntuk kami bedah isi perutmu
semalam suntuk kami jelajahi akar dan urat nadimu
semalam suntuk kami bengong menatap wajahmu
ya, bengong
tangan-tangan kaki-kaki mulut-mulut
kini kuasai dirimu
sampai jadi brudel potong-potong
lalu dimakan
demi kekenyangan
demi kegemukan
keluarga konco konco
sampai berak
di tembok-tembok
menara-menara mengkilap yang dibangunnya

saudara-saudara sebangsa tana aer Minahasa Raya
sekalipun tanah aer leluhur Toar Lumimuut ini
telah dikapling mereka
mengatasnamakan pemerataan
mengatasnamakan kesejahteraan
mengatasnamakan kemakmuran
Tomohon
Minsel
Minut
Mitra
dan Minahasa mekar lainnya
jangan pura-pura lupa
atau sengaja dikuburkan?
di Watu pinawetengan itu
tidak terukir sebuah amanat untuk saling melepaskan
bahwa kami tetap Minaesa.













2
Minahasa Raya
jubah-jubah yang
kau pakai ketika kawin
atas nama gereja dan pemerintah
sesungguhnya bukan punyamu
begitukah Minahasa?
atau sudah kau ambil jadi punyamu
atas nama kebudayaan?
sementara kepunyaanmu yang sebenarnya
kau biarkan cuma jadi cerita dalam seminar-seminar
hingga dibukukan menjadi kata mati?

saudara-saudara sebangsa tana aer Minahasa Raya
sekalipun dirimu telah masuk dizaman
manusia-manusia bisa pindah bernafas di bintang
pasar sudah telanjang diri
membeli dan menjual keinginannya
jangan pura-pura lupa
atau sengaja di lupakan?
bahwa kami punya jubah se kumaweng
lahir dari satu kesepakatan
khas ke-Minahasa-an mu.

2007



Hoi…


Sungguh mati

angin guntur bagimana basar batiop deng bataria

dari utara selatan timur barat

hoi…

dengar pa kita!

ngoni tau?

gunung klabat dua sudara

lokon empung tatawiran mahawu masarang soputan

nyanda mo rubu!


2007.

Tomohon


Biar ba ron sampe di dunia mana

nyak ada yang rupa ngana

nyak ada sayang

co ngana lia itu Lokon

co ngana lia itu Mahawu

ijo biru kanal cahaya matahari

co ngana lia kwa’

apalagi

ngana sampe dapa pigi

ngana sampe dapa nae

pa dia pe puncak

o dodo e

pe gaga skali ngana sayang

Manado

Klabat

Dua sudara

Bitung

Danau Tondano

Soputan

trus ka pante Amurang

ta sapu deng ngana pe mata

sampe tagoyang-goyang kapala

Tomohon

ta sayang pa ngana

mari

ba dekat kwak kamari

kong kase ngana pe talinga

dengar bae-bae ne?

‘Awas, jang sampe ada tangan-tangan saki hati

sengaja mo rabe-rabe

ngana pe muka’.

2005.

0 komentar: