Tabea Waya e Karapi!

Sastra for Minahasa Masa Depan!

Mengapa sastra (baca: tulisan)?

Sebab tulisan adalah bentuk kasat mata dari bahasa yang adalah alat atau perwujudan budaya yang digunakan manusia untuk saling berkomunikasa atau berhubungan, baik lewat tulisan, lisan, ataupun gerakan (bahasa isyarat), dengan tujuan menyampaikan maksud hati atau kemauan kepada lawan bicaranya atau orang lain. Melalui bahasa, manusia dapat menyesuaikan diri dengan adat istiadat, tingkah laku, tata krama masyarakat, dan sekaligus mudah membaurkan dirinya dengan segala bentuk masyarakat.


Kemudian: Mengapa pake Bahasa Manado? No kong kyapa dang?

Karena tak ada lagi bahasa lain yang menjadi 'lingua franca" di se-enteru Minahasa hari ini selain bahasa yang dulunya torang kenal juga sebagai "Melayu Manado".

Yang terutama adalah bahwa lewat sastra kita dapat kembali menjabarkan “Kebudayaan Minahasa” hari ini. Dengan menulis kita dapat kembali meluruskan benang kusut sejarah Bangsa Minahasa. Lalu, lewat tulisan, kita menggapai keabadian, io toh?



Tulisan Paling Baru

ini tong pe posting terbaru.

Cerita Witho B. Abadi: "Golok Pembunuh Sapi" Bagian I

Kilatan halilintar yang diikuti pekikan guntur memanggil gumpalan awan hitam yang berkelebat menutupi langit. Di antara bayang-bayang pepohonan terlihat sebuah sosok bertudung hitam, seakan menyembunyikan identitas dirinya. Langkahnya cepat, namun sesekali terseok seolah menahan rasa sakit. Titik-titik merah mengikuti setiap jejak kakinya.

Tampaknya ia terluka.

Ia menengadah ke langit yang semakin gelap. Tetesan air mulai berjatuhan dari angkasa. Ia mempercepat langkahnya. Dengan memaksakan diri ia menghentakkan kaki, melompat bagaikan melayang, menembus rimbunnya pepohonan. Ilmu kaki ringan yang mencengangkan. Pasti orang ini bukan orang biasa.

Hujan turun teramat deras.

Selang beberapa menit, ia sampai di sebuah kuil kosong di penghujung hutan. Kuil ini sudah tua dan temboknya sudah banyak yang rusak. Warna di tembok itu sudah tak jelas lagi, tertutup lumpur di sana-sini. Papan nama kuil itu sudah patah menjadi beberapa bagian dan tak terbaca lagi.

Ia berhenti sejenak, mengamati kuil itu, kemudian dengan perlahan dan hati-hati melangkahkan kakinya ke dalam. Kondisi di dalam kuil cukup mengherankan bila dibandingkan dengan keadaan luarnya. Meskipun lantainya banyak yang telah rusak, namun kondisi ruangannya terlihat rapi, seolah ada yang merawatnya.

Di luar, kembali terdengar bunyi guruh bersahut-sahutan dan kilatan halilintar yang tiada henti. Orang itu kembali memperhatikan sekitarnya dengan waspada. Tangannya bersiap di gagang pedang yang menyembul dari balik bajunya. Air bercampur darah menetes dari bajunya yang basah kuyup diguyur hujan.

Dengan terseok-seok ia melangkah ke sudut ruangan, dimana terdapat bekas perapian. Di situ masih tersisa beberapa batang kayu bekas terbakar dan tumpukan jerami. Tampaknya kuil ini sering disinggahi orang.

Ia merebahkan dirinya sejenak, mengatur nafasnya yang tersengal, kemudian menyalakan api. Saat ia membuka tudung dan bajunya untuk memeriksa lukanya, tampaklah bahwa ternyata ia adalah seorang gadis yang berparas jelita.

Terlihat sebuah sayatan yang cukup dalam merobek pinggangnya dan hampir merenggut nyawanya. Luka itu masih terus mengeluarkan darah.

Angin yang bertiup dari kisi-kisi jendela kuil yang telah rusak membuat gadis itu meringis kedinginan dan mendekatkan diri ke perapian. Ia terbaring di samping perapian, kelelahan, dan lemah karena kehilangan banyak darah.

Tiba-tiba ia dikejutkan dengan sebuah suara tawa cekikikan. Dengan gerak refleks ia menyambar pedangnya dan berdiri dengan wajah meringis menahan sakit.

“Siapa disitu?!”

Dari arah loteng kuil yang gelap terdengar suara seorang laki-laki.

“Ups!, ketahuan....”

“Siapa kau? Tunjukkan dirimu!!” suara gadis itu meninggi.

Bukannya keluar dari persembunyiannya, sang pengintip itu malah tertawa sejadi-jadinya, membuat gadis itu semakin waspada. Diambilnya sebilah kayu yang masih terbakar dari perapian dan melemparnya ke arah suara itu.

Sang pengintip melompat, berkelit dari lemparan kayu bakar yang berapi-api itu. Ia mendarat tepat di depan si gadis dan mengelus wajahnya sambil tertawa kemudian melompat menjauh dengan gerakan salto di udara.

Merasa dipermainkan, si gadis segera mengayunkan pedangnya menyerang sang pengintip. Ilmu pedang gadis itu dapat dikatakan luar biasa, akan tetapi dalam keadaan terluka dan kelelahan gerakannya menjadi terbatas sehingga serangannya tidak efektif. Dengan mudah sang pengintip berkelit menghindari serangan gadis itu sambil terus tertawa.

Hanya beberapa gerakan saja, kesadaran gadis itu mulai hilang. Langkahnya goyah dan ia terjatuh, pingsan. Sang pengintip dengan cepat menangkapnya sebelum tubuh gadis itu menyentuh tanah.
*

Perlahan gadis itu membuka matanya. Kepalanya terasa pusing. Ketika kesadarannya telah pulih, ia segera waspada dan beranjak bangun namun rasa nyeri di pinggangnya membuat ia harus kembali berbaring.

Setelah rasa nyeri di pinggangnya hilang, ia memandang sekeliling. Ia berada di sebuah kamar yang sederhana namun tertata rapi dan bersih. Cahaya matahari dari yang masuk dari jendela menandakan bahwa saat itu siang hari.

Pintu kamar terbuka dan seorang lelaki dengan tongkat di tangannya masuk membawa semangkok obat. Lelaki ini memiliki rambut dan janggut yang memutih, menandakan umurnya yang tidak muda lagi. Ia masuk sambil meraba-raba dengan tongkatnya, berjalan mendekati tempat tidur dimana gadis itu berbaring. Tongkat kayunya meliuk-liuk ke sana ke mari mencari jalan hingga akhirnya berhenti di dada gadis itu.

“Hmmm.... apa ini... kok kenyal...” gumannya sambil menusuk-nusuk dada gadis itu dengan perlahan dan penasaran.

Mendapat perlakuan seperti itu, si gadis melotot.

“Itu dada saya tahuuu!”

Lelaki tua itu terkejut dan mundur beberapa langkah.

“Oh, kamu sudah sadar. Maaf saya buta, jadi tidak tahu kalau kamu sudah sadar”.

Si gadis menggerutu.

“Dimana saya?” tanya gadis itu.

Lelaki tua-yang-buta itu duduk di samping si gadis.

“Ini rumah saya” katanya sambil menyodorkan mangkok berisi obat kepada gadis itu.

“Minumlah dulu obat ini, biar kamu cepat sembuh”.

Gadis itu menerima mangkok berisi obat itu dan meminumnya. Rasanya sangat pahit sehingga ia hampir muntah. Namun ia memaksakan diri menghabiskannya sedikit demi sedikit.

“Siapa nama kamu?” tanya lelaki tua-yang-buta itu.

“Namaku Cenderawasih. Aku biasa dipanggil Asih.” Jawab si Asih.

“Ooh, nama yang bagus. Kalau saya biasa dipanggil Lukman”

Asih tersenyum.

“Anda seorang tabib?” tanya Asih.

Lukman mengelus-elus jenggotnya.

“Ahh.. semenjak saya buta, saya menjadi seorang ahli massage alias tukang pijit. Tapi sebelum itu saya pernah belajar ilmu pengobatan . . .”

Gadis itu mengangguk-angguk sambil meminum obat.

“Sayang semenjak saya buta, saya sering salah meramu obat sehingga banyak pasien saya yang mati”

“Pfffffffffffff!!!”

Mangkok di tangan gadis itu terlepas dan obat di mulutnya menyembur. Dengan terbatuk-batuk ia berusaha memuntahkan obat yang diminumnya.

“Jangan khawatir, bukan saya yang meramu obat itu. Saya membelinya di apotik dekat terminal”.

“Oooh, maaf, saya kira....”

“Tidak apa-apa. Itu juga obat kadaluarsa yang saya beli setengah harga” kata Lukman sambil tersenyum.

“Hoeeekkk!!”

Asih memasukkan jarinya sedalam mungkin ke dalam kerongkongannya, memaksa diri memuntahkan sisa-sisa obat yang terlanjur ditelan.

Lukman hanya tersenyum lagi.

Bah. Rasanya Asih ingin segera melompat dari tempat tidur dan pergi dari tempat itu saat itu juga. Entah mimpi apa dia saat pingsan hingga bertemu dengan orang tua yang aneh seperti ini.

“Eh, kalau boleh tahu, apakah anda yang menolong saya di kuil?”

“Bukan. Witho yang menolongmu dan membawamu ke sini”.

“Witho? Siapa itu?” tanya Asih penasaran.

Belum sempat Lukman menjawab pertanyaan itu, di depan pintu muncul seseorang laki-laki.

“Itu aku” kata laki-laki itu sambil menunjuk dadanya.

Lelaki bernama Witho itu adalah seorang muda yang tampan. Rambutnya panjang tergerai melewati bahunya. Di tangannya terpajang sebilah golok besar berwarna perak dengan batu-batu bulat berwarna merah di sepanjang sisi tumpulnya. di pangkal golok itu terdapat sebuah gambar tikus, dengan tulisan “Cap Tikus” yang melambangkan merek atau trademark dari pembuat golok itu. Di bagian tengah golok itu terdapat ukiran yang bertuliskan “WITHO PE GOLOK”. Di ujung golok itu terdapat sebuah stiker yang bertuliskan “Rp. 75000”.

Asih terpana dengan sosok di depannya. Orang inilah yang bertemu dengannya di dalam kuil. Hanya ada satu kata yang melintas dalam benak Asih; “Narsis”.

“Aku juga yang mengganti bajumu” kata Witho dengan ekspresi dingin.

Mata Asih langsung tertuju pada baju di tubuhnya. Memang, ini bukan lagi bajunya.

“Jangan khawatir, aku tidak berbuat macam-macam . . .”

Muka Asih memerah.

“Ada juga sih... pegang-pegang sedikit... mumpung ada kesempatan...” ekspresinya yang tadinya dingin dan berwibawa berubah menjadi mesum diiringi tetesan air liur dari sudut bibirnya.

Mata Asih melotot ke arah Witho. Ingin rasanya ia melabrak laki-laki itu. Entah kutukan apa, begitu bangun dari pingsan, yang ditemuinya adalah dua orang aneh yang menjengkelkan. Tapi bagaimanapun juga, merekalah yang telah menyelamatkan dirinya. Setidaknya ia masih berhutang terima kasih kepada dua orang ini.

Tiba-tiba dari luar terdengar keributan. Penduduk desa berkumpul di depan rumah Lukman sambil meneriakkan nama Witho. Lukman terkejut dan memandang Witho, namun karena ia buta, ia memandang ke arah dinding dapur. Wajah Witho yang tadinya mesum kini mengeras dan berubah menjadi serius. Senyum di wajahnya hilang berganti dengan ekspresi kejam. Asih bingung, tak mengerti apa yang terjadi.

“Saatnya membunuh” kata Witho dengan nada datar dan dingin, sambil berjalan keluar rumah dengan golok di tangannya, siap menumpahkan darah.

“Apa yang terjadi? Kemana ia pergi?” tanya Asih gugup. Ia merasakan ada sesuatu yang buruk telah terjadi.

“Tidak apa-apa, ia akan segera kembali” kata Lukman menenangkan Asih.

“Kau istirahatlah, supaya cepat sembuh” lanjut Lukman sambil berjalan keluar kamar dengan tongkatnya meliuk-liuk mencari jalan.

Asih tak berkata apa-apa. Ia melongok ke luar jendela, mencari tahu apa yang terjadi namun kerumunan orang menghalangi pandangannya. Suara sabetan golok mendesah memecah teriakan dan sorak-sorai orang-orang yang berkerumun. Percikan darah berkelebat di udara yang membuat kerumunan itu mundur agar tak terkena percikan. Hembusan angin yang tadinya segar kini teracuni bau amis darah.

Tubuh Asih bergetar hebat, dadanya sesak. Di hadapannya sedang terjadi sebuah pertumpahan darah yang ditonton layaknya sebuah hiburan. Sungguh, tempat apa ini . . .

Ia memaksakan diri melompat keluar jendela dan berlari ke arah kerumunan itu dengan teriakan histeris.

“Berhentiiiiiiiiiiiiiiiii...!!!”

Sorak-sorai itu terhenti dan semua mata memandang ke arahnya, ia menyeruak diantara kerumunan itu untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Ia terjatuh ke dalam genangan darah dan di hadapannya tampaklah sebuah pemandangan yang mengerikan.

Witho berdiri dengan gagah menyandang goloknya yang berlumuran darah. Di hadapannya terbaring 3 sosok yang tak bernyawa lagi dengan isi tubuh yang berceceran di tanah.

Ya, tak salah lagi, Witho baru saja membantai 3 ekor sapi yang tak berdaya.

Ketegangan tadi membuat energi Asih terkuras habis, tubuhnya lunglai dan ia jatuh pingsan di antara sapi-sapi tersebut.

Golok Pembunuh Sapi Bagian I

0 komentar: